”Jika kami harus membaca buku, kapan kami harus mem-praktek-kannya?” Pertanyaan seorang mahasiswa ini bagaikan petir di siang bolong.
Pertanyaan itu ditujukan kepada tokoh yang semula menganjurkannya membaca buku. Sore itu, di penghujung Desember 2007, Syafiril Erman mendampingi beberapa mahasiswa mengunjungi sang tokoh itu.
Penulis novel Kepundan dan Megat yang masih sering bergaul dengan para mahasiswa itu menyaksikan betapa selama ini banyak mahasiswa yang kesulitan secara verbal menyatakan pendapatnya. ”Di forum diskusi mereka banyak diam. Mereka tak mempunyai kemampuan berdiskusi,” ujar Syafiril.
Hal itu, menurut Syafiril, terjadi karena banyak mahasiswa yang baru mengetahui fungsi membaca sebagai hiburan. Karena memfungsikan membaca sebagai hiburan untuk mengisi pengalaman batin, maka, mereka lebih memilih bahan bacaan novel-novel teenlit. ”Sangat sedikit mahasiswa yang membaca buku-buku filsafat, ideologi, sosiologi, karena mereka tidak tahu bahwa membaca juga mempunyai fungsi pembelajaran,” ujar Syafiril.
Maka, kata Syafiril, ketika sang tokoh yang mereka kunjungi menjawab, bahwa membaca berguna untuk pembelajaran mereka tersentak. ”Karena, tokoh yang menjadi mentor banyak tokoh politik itu, masih mengembalikan referensi kepada buku. Buku bisa menjadi guru kita melatih analisis pendapat,” papar Syafiril.
Syafiril masih merasa bersyukur, ada yang mau menanyakan manfaat membaca buku. Ini adalah awal kesadaran untuk memahami esensi membaca, lantas rajin melakukan ritual membaca.
Hilangnya esensi baca buku di kalangan remaja, boleh jadi berkembang akibat tragedi nol buku yang disitir penyair Taufiq Ismail. ”Tragedi nol buku berlangsung dari awal 1950, ketika seluruh aparat pemerintahan sudah sepenuhnya di tangan sendiri. Demi mengejar ketertinggalan sebagai negara bekas jajahan, maka eksakta menjadi jurusan yang diunggulkan dan disanjung. Wajib baca 25 buku sastra dan bimbingan menulis digunting habis karena dipandang tidak perlu,” tuturnya, saat pidato penerimaan Habibie Award, Desember 2007.
Kewajiban membaca buku sastra dan latihan menulis karangan di sekolah menengah, pada akhirnya berimplikasi pada rendahnya minat baca. Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat, Setia Dharma Madjid, pun menyadarinya. Minat baca yang kurang, pada gilirannya, berimplikasi pula pada penerbitan buku. ”Ini jadi masalah,” tuturnya.
Setia Dharma, boleh jadi, benar. Hingga kini, masih banyak mahasiswa yang `kedodoran’ menuangkan gagasan yang ada di kepalanya dalam bentuk tulisan. Mereka lebih banyak berkutat pada buku sesuai disiplin ilmu yang ditekuninya. Seperti digambarkan Taufiq, ”Mereka adalah generasi yang rabun membaca, pincang mengarang.”
Muhammad Remaja Putra, contohnya. Mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Jakarta ini menyadari minimnya pengajaran bahasa sebelum masuk perguruan tinggi. Jangankan tuntunan menulis, anjuran membaca buku di luar buku pelajaran pun sama sekali tak pernah ia rasakan saat bersekolah di sekolah menengah. Jadi, `’Saya juga bingung waktu pertama kuliah,” ucapnya.
Maklum, selepas SMA, dia masuk ke perguruan tinggi bidang ekonomi yang mengajurkan mahasiswanya membuat proposal sejak awal. Dari pelajaran inilah ia bisa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan menulis. Kemampuan menulis, tanpa ia sadari, mendorongnya gemar membaca aneka jenis bacaan. Kini ia mengaku sudah merampungkan sebuah buku, siap diterbitkan.
Menderita saat membaca
Seorang remaja dari Padang masuk sekolah dagang menengah di Batavia, 1919. Wajib buku sastra di sekolah itu menyebabkannya ketagihan membaca. Tapi dia lebih suka ekonomi. Dia melangkah ke samping, lalu jadi ekonom dan ahli koperasi. Pria itu bernama Muh Hatta.
Seorang siswa sebaya di AMS Surabaya, juga adiksi buku. Kasur, kursi, dan lantai kamarnya ditebari buku. Tapi dia lebih suka politik, sosial, dan nasionalisme. Seperti Hatta, dia juga melangkah ke samping, menjadi politikus. Namanya Sukarno. Dalam perjalanan waktu, keduanya tampil menjadi proklamator negeri ini.
Sebagaimana dituturkan Taufiq Ismail, sastra menanamkan rasa ketagihan membaca yang berlangsung hingga dewasa. Berlatih menulis di sekolah masa itu membekali Hatta, Sukarno, dan kawan-kawan seangkatannya menulis buku di bidang masing-masing.
Kewajiban membaca buku dan berlatih menulis, menurut Taufiq, tidak bertujuan menjadikan siswa menjadi sastrawan. Kemampuan membaca dan menulis diperlukan di setiap profesi. Membaca buku sastra mengasah dan menumbuhkan budaya baca secara umum. Berlatih menulis mempersiapkan orang mampu menulis di bidangnya masing-masing.
Sebagaimana dirasakan Putra, Taufiq mengatakan tamatan SMA generasi nol buku menderita bila mendapat tugas membaca saat mahasiswa. Jangankan membaca banyak, membaca buku pun mungkin tidak pernah. Yang dikejar ringkasan buku. Paling menderita lagi kalau harus menulis laporan, makalah, skiripsi, tesis. Meletakkan titik dan koma, memotong alinea, membereskan anak kalimat, menyusun logika, seperti kekacauan yang abadi.
Di mata Taufiq, ini bukan kesalahan mahasiswa. Ini kesalahan sistem pengajaran bahasa dan sastra di sekolah menengah. Kesalahan ini mesti diperbaiki. ”Kemampuan menulis memang sudah harus tercapai dan beres sebelumnya di SMA. Hal semacam itu diterapkan di banyak negara. Di Amerika, siswa diwajibkan membaca 32 buku sastra, Belanda dan Prancis masing-masing 30 buku,” jelas Taufiq.
Buahnya sudah lama tampak. Banyak buku laris –dan enak dibaca– di negeri itu yang ditulis oleh bukan seorang pengarang. John Grisham atau Torey Hayden, contohnya. Grisham, yang pernah berpraktik sebagai advokat, menulis sejumlah novel, antara lain The Firm, The Client, The Pelican Brief, dengan latar belakang peristiwa hukum.
Hayden, seorang psikolog pendidikan, menuliskan pengalamannya mendidik anak berkebutuhan khusus dengan baik dalam buku Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil. Baik karya-karya Grisham maupun Hayden, telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan menjadi pembicaraan banyak orang.
Di Indonesia, memang tetap saja ada yang melangkah ke samping. Ada Andrea Hirata yang menulis dengan baik masa-masa bersekolah di Belitung dalam Laskar Pelangi atau Habiburrahman El Shirazy dalam buku Ayat-ayat Cinta. Andrea dan Habiburrahman lahir dari generasi nol buku. Kemampuan menuangkan pikiran dalam tulisan mereka peroleh dari kegemaran membaca.
Toh, cuaca agaknya, belum mendung total. Masih ada cahaya penerang yang tampak dari minimnya minat baca. Datanglah ke pameran-pameran buku. Di setiap pameran buku, berjubel pengunjung yang datang, sebagian di antaranya merogoh kocek untuk membeli buku. Itu boleh jadi, karena sebagaimana asimnya di setiap penyelenggaraan pameran, penerbit menawarkan potongan harga.
Ini juga diakui Setia Dharma. Dia bilang, ”Kalau melihat kunjungan pada saat pameran buku, itu bisa menandakan minat baca sudah tinggi.” Masalahnya, menurut dia, fenomena itu tidak sampai ke desa-desa. Problemnya, karena keterbatasan sarana untuk menjangkaunya.
Setia menyadari tidak ada grand design dari pemerintah untuk meningkatkan minat baca. Itulah yang mendorong Ikapi merumuskan grand design dengan mengajak Perputakaan Nasional dan sejumlah organisasi kemasyarakatan lainnya. ”Nanti kita duduk bersama,” tuturnya.
http://www.republika.co.id

Iklan

Hari ini, Ahad 6 Januari 2008, novelis Habiburrahman El-Shirazy, mendapat penghargaan sebagai Novelis No 1 Tahun 2007 dari Insani Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Beberapa hari lalu, 4 Januari 2008, Habiburrahman ‘dinobatkan’ sebagai salah satu Tokoh Perubahan 2007 oleh Republika.
Kedua penghargaan tersebut diraih Habiburrahman berkat novelnya, Ayat-Ayat Cinta (AAC, 2004). Novel bergaya ‘romantisme Islami’ ini tidak hanya berhasil meraih predikat megabestseller (dan kini dalam kurun tiga tahun terjual 400 ribu eksemplar), tapi juga menyuarakan moral, keteladanan, kearifan hidup, dan solidaritas sosial, yang mampu mencerahkan nurani pembacanya.
Dan, dengan dibaca oleh lebih dari 800 ribu orang (rata-rata satu eksemplar novel minimal dibaca oleh dua orang), novel tersebut dianggap ikut mendorong proses perubahan sosial atau proses pencerahan moral ke arah yang lebih baik. Kang Abik panggilan akrab Habiburrahman menyebutnya sebagai ‘novel pembangun jiwa’.
Sejak novel AAC terbit dan bestseller, sederet penghargaan atas novel tersebut telah diraih Kang Abik. Tahun 2005, dia meraih Pena Award untuk kategori Novel Terpuji Nasional. Pada tahun yang sama, novel tersebut meraih The Most Favourite Books and Writer 2005 mengalahkan serial Harry Potter versi Majalah Muslimah. Kemudian, terpilih sebagai Novel Dewasa Terbaik dalam Islamic Book Fair 2006.
Mengingat kekuatan ceritanya, pesan moral yang dibawanya, dan kenyataan bahwa ternyata novel tersebut diapresiasi oleh lebih dari 800 ribu pembaca, kiranya sangat layak untuk diajukan ke panitia penghargaan- penghargaan sastra yang lebih tinggi di tingkat Asia Tenggara, semacam Penghargaan Mastera dan SEA Write Awards.
Dari kisah cintanya, sejumlah pengamat sastra Indonesia sempat memasukkan AAC ke dalam kategori novel pop, atau novel pop-Islami. Tapi, mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai novel neo-romantik yang Islami atau bergaya romantisme Islam, yang segera mengingatkan kita pada karya-karya Buya Hamka, terutama novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Kebetulan, Buya Hamka dan Kang Abik sama-sama ustadz dengan basis moral santri yang sangat kuat. Karena itu, dalam beberapa diskusi dan tulisan, saya pernah menyebut Kang Abik sebagai ‘reinkarnasi Hamka’ atau ‘Hamka Abad 21’. Keduanya sama-sama menggarap masalah cinta dengan pendekatan yang sama-sama Islami, dan sama-sama mampu memikat keharuan pembaca. Namun, sastrawan negara Malaysia yang juga pengagum Hamka, A Samad Said, lebih mendekatkannya dengan novel Tunggu Teduh Dulu (TTD, 2004) karya Faisal Tehrani.
Memang, seperti temuan Samad Said, novel AAC tidak banyak memiliki persamaan dengan novel-novel Hamka. Hamka menulis kisah cinta yang terhalang adat dan perbedaan derajat. Sedang Kang Abik menempatkan adat dan budaya hanya sebagai latar multikultural. Persoalan adat memang telah terlewati oleh generasi Kang Abik, yang terepresentasi melalui tokoh Fahri. Yang menyamakan keduanya adalah pendekatan dan latar agamanya.
Karena itu, Samad Said lebih mendekatkan novel AAC dengan TTD. Kedua penulisnya berlatar belakang agama yang sama, sama-sama berisi kisah cinta yang tertib (Islami) di tengah maraknya fiksi cinta yang seronok, sama-sama tentang cinta segi tiga, dan sama-sama novel pembangun jiwa. Bedanya, tokoh utama AAC lelaki (Fahri), sedangkan tokoh utama TTD perempuan (Salsabila). Uniknya, keduanya terbit pada tahun yang sama, 2004.
Novel Ayat-Ayat Cinta (2004), mungkin, adalah sebuah keajaiban. Novel pertama seorang penulis muda, tapi mampu meraih posisi megabestseller nasional dalam waktu sangat singkat, melampaui Saman –novel sekuler karya Ayu Utami. Sebuah keajaiban yang memancar dari suara moral, dari kepatuhan terhadap ajaran-ajaran agama. Dalam Alquran, Tuhan telah berpesan, barangsiapa membela agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan melimpahkan rezeki baginya.
Dari sisi finansial pun tampak adanya keajaiban. Hingga saat ini, Ayat-Ayat Cinta telah memasukkan royalti lebih dari Rp 1,5 miliar bagi Kang Abik. Perhitungan kasarnya, dengan harga jual rata-rata Rp 43 ribu per eksemplar (setelah didiskon 10 persen), dan dengan royalti 12 persen, jika 350 ribu eksemplar terjual habis, maka Kang Abik akan mengantongi royalti Rp 1,8 miliar.
Bagi penulis Indonesia, jumlah royalti itu tentu sangat spektakuler, dan terbesar sepanjang sejarah royalti penulis Indonesia. Belum lagi royalti dari edisi Malaysia, pembelian hak cipta untuk film (novel itu telah difilmkan), dan edisi bahasa Inggrisnya nanti.
Melalui AAC, Kang Abik telah membuktikan, bahwa seorang penulis Indonesia bisa menjadi kaya hanya dari sebuah novel. Dan, luar biasanya, Kang Abik tetap hidup sederhana, bahkan tidak tergiur untuk membeli mobil mewah misalnya. Karena, hampir semua royalti dari novelnya itu dimanfaatkannya untuk membangun pesantren karya dan wirausaha, Pesantren Basmalla.
Dengan begitu, membeli novel AAC berarti ikut ber-amar ma’ruf nahi munkar bersama Kang Abik. Maka, dari sisi kemaslahatannya tersebut, tepatlah kalau Insani Undip menobatkannya sebagai novelis nomor satu di Indonesia saat ini.
(Ahmadun Yosi Herfanda)
Sumber: republika.co.id

JAKARTA — Siapa mengira penulis buku novel Islami Ayat-ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy, meraih royalti dari buku-bukunya hingga Rp 1,5 miliar. Hal itu disampaikan Tommy Tamtomo, Direktur Utama Penerbit Republika dalam acara bedah buku di Gramedia Matraman, Jakarta beberapa waktu lalu.
“Kami baru saja mencetak 10 ribu eksemplar untuk persediaan tahun depan, tapi sudah habis duluan,” kata Tommy. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Republika ini sejak Desember 2004 itu kini sudah dicetak 30 kali dengan total buku mencapai 300 ribu buku.
Tommy menduga, permintaan terhadap buku itu akan terus mengalir karena saat ini film Ayat-ayat Cinta akan diputar di bioskop. Film itu dibintangi Rianti Cartwright dan Zaskia Mecca dan disutradarai Hanung Bramantyo.
Habibburahman atau biasa dipanggil Kang Abik hingga kini telah melahirkan enam novel. Selain Ayat-ayat Cinta, ia juga sudah menelurkan buku: Ketika Cinta Berbuah Surga, Di Atas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Bertasbih Episode 1, Nyanyian Cinta, Ketika Derita Mengabadikan Cinta.
Untuk menghadapi permintaan buku-buku Habiburrahman, kini Penerbit Republika berencana menerbitkan Ayat-ayat Cinta edisi hardcover. Novel ini juga sudah dicetak di Malaysia, dan segera menyusul di Kanada dan Australia. (dea)
Sumber: http://www.halo-halo.com

Sebagian orang mengenal Habiburrahman El Shirazy (lahir di Semarang, 30 September 1976) sebagai penulis novel best seller berjudul Ayat-ayat Cinta, yang dalam waktu tiga tahun sudah menembus oplah sekitar 300 ribu eksemplar.

Belakangan, makin banyak orang yang tahu bahwa di balik kepiawaiannya merangkai kata dalam bentuk tulisan, ia pun jago berdakwah lewat lisannya. Maka undangan untuk mengisi pengajian pun makin sering datang kepadanya. Ada yang mengundangnya semata-mata untuk mengisi pengajian, ada juga panitia yang sengaja menyelipkan jadwal ceramah di tengah-tengah acara bedah buku dan talkshow di bidang perbukuan. ”Pernah di Palembang, dalam dua hari saya harus mengisi delapan acara, baik bedah buku dan talkshow, maupun mengisi ceramah agama,” tutur peraih penghargaan Pena Award 2005 itu.

Habiburrahman adalah alumnus Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir, sebuah universitas Islam terkemuka di dunia. Di Negeri Seribu Menara itu, ia menimba ilmu keislaman tak kurang dari tujuh tahun lamanya (1995-2002). Sampai saat ini dia telah menulis belasan judul buku dan hampir semua buku yang ditulisnya best seller. Untuk bukunya berjudul ayat-ayat cinta saja dia mendapat royalty 1,5 Miliar Rupiah. Sedangkan untuk buku-bukunya yang lain tidak kurang dari 100 juta yang dia kantongi per judul.

Tempat tanggal lahir: Semarang, 30 September 1976
Pendidikan: S-1 Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir dan S-2 The Institute for Islamic Studies in Cairo, Mesir
Nama istri: Muyasaratun Sa’idah
Nama anak: Muhammad Nail Author

Karya
· Ayat-ayat Cinta
· Ketika Cinta Berbuah Surga
· Di Atas Sajadah Cinta
· Ketika Cinta Bertasbih
· Dalam Mihrab Cinta
· Nyanyian Cinta
· Ketika Derita Mengabadikan Cinta
· Pudarnya Pesona Cleopatra