Menyambut event pameran besar seperti Pesta Buku Jakarta 2008, penerbit-penerbit buku sudah melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari. Dimulai dengan pemesanan stand, pemrosesan buku, desain stand, pembuatan katalog, hingga persiapan bedah buku di panggung utama.

Untuk sewa stand yang harganya sekitar 600 ribu hingga 800 ribu permeter persegi, penerbit paling tidak menyipkan biaya empat juta hingga sepuluh juta perstand. Itu belum termasuk dekorasi stand dan penambahan daya listrik, dll.

Penerbit juga sudah mulai memproses buku yang akan diluncurkan pada pameran. Misalnya, Pustaka Al-Kautsar pada pemaran kali ini akan meluncurkan sembilan buku baru. Empat di antaranya sekarang ini sudah siap, yaitu Tata Kota Menurut Islam; Meluruskan Dikotomi Politik dan Agama; Bangkit dari Keterpurukan; serta Agar Harta dan Anak menjadi Berkah.

Selain menyiapkan produk buku yang akan diluncurkan, penerbit juga melengkapinya dengan katalog produk, desain stand, hingga menghubungi pembicara yang akan membedah buku andalan pada saat pameran nanti. Tidak kurang Andrea Hirata (pengarang novel best seller Laskar Pelangi) akan meramaikan Pesta Buku Jakarta kali ini.

Harapan pembaca tentunya agar moment ini sarat dengan buku-buku yang menginspirasi dan memotivasi sehingga negara yang sedang “terkulai” ini bisa bangkit melalui buku, sebagaimana motto blog penerbitabuku, “Membangun Indonesia Melalui Buku.”

Iklan



Film ayat-ayat cinta sungguh fenomenal, terutama bagi bangkitnya perfilaman dengan napas Islami. Setelah film ini booming, para pekarya perfileman mulai melek dan berusaha untuk membuat film dengan latar Islami. Tercatat ada Chaerul Umam yang akan menyutradarai film yang diangkat dari Novel “Ketika Cinta Bertasbih” karya dari penulis Novel “Ayat-ayat Cinta” Kang Abik. Juga ada Hanung yang kabarnya akan menyutradai kisah perjalanan pendiri Ormas Muhammadiyah, Kyai Ahmad Dahlan.

Namun, sebenarnya ada misi “istimewa” selain dari sekadar tontonan yang menyentuh hati. Di situ ada cerita poligami Fahri yang tidak diributkan oleh para penonton, bahkan para ibu-ibu yang pernah “menghujat” Aa Gym sekalipun. Tidak terdengar nada minor dari ibu-ibu seusai menyaksikan drama poligami Fahri yang “terpaksa” harus memadu Aisyah dengan Maria. Kenapa sepertinya kaum hawa tidak mempermasalahkan Poligami Ala Fahri, sementara—terkadang—membabi buta menghantam Poligami Aa Gym? Apakah karena Fahri adalah Tokoh Fiksi, sementara Aa Gym adalah Tokoh Religi yang ada dalam kehidupan nyata? Terlepas dari fiksi atau non realiti rasanya Poligami Fahri terasa lebih manusiawi dan dapat diterima dengan nurani daripada Poligami saat Aa saat menyunting Teh Rini.

Pertama, Poligami Fahri dilakukan atas permintaan istri pertama dan tanpa ditutup-tutupi, sementara Poligami Aa baru dipublikasikan setelah tiga bulan usia pernikahannya (meskipun menurutnya istri pertama sudah tahu) dan ada usaha untuk menutupinya dari sorotan media.

Kedua, Poligami Fahri karena niat suci untuk menolong menyelamatkan nyawa seorang gadis yang tergila-gila kepadanya, sementara Poligami Aa terkesan untuk “menolong” dirinya sendiri dari perbuatan zina.

Ketiga, Setelah berpoligami Fahri justru takut dirinya tidak bisa berbuat adil terhadap kedua istrinya, bahkan dia sempat curhat kepada temannya. Padahal, Fahri adalah seorang Mahasiswa Al-Azhar yang sudah menyelami samudra ilmu agama yang sangat dalam. Sedangkan setelah berpoligami Aa Gym yang mengcounter para pendemonya menyatakan bahwa mereka yang meributkan poligaminya adalah orang yang kurang ilmu, seakan-akan Aa menyatakan bahwa dirinya sudah “pasti bisa adil” karena sudah punya ilmunya.

Terlepas dari itu semua, yang patut diacungkan jempol adalah film ini menyajikan poligami yang sebenarnya masih kontroversi dengan kondisi yang manusiawi, sehingga dapat diterima oleh orang yang anti poligami sekalipun. Inilah dakwah bil hikmah (dengan cara yang bijak) sehingga mampu memasukkan inti tanpa menimbulkan riak-riak yang berarti.

Adik kelas Kang Abik
di Universitas Al-Azhar

Ada hubungan yang menarik antara dunia perbukuan, khususnya buku sastra, dengan surat kabar (koran). Banyak sekali buku sastra yang terbit di Indonesia –baik kumpulan cerpen, esai, puisi, maupun novel– berasal dari karya-karya yang telah dipublikasikan di surat kabar.Karya-karya sastra tersebut umumnya sengaja ditulis untuk rubrik-rubrik sastra di surat kabar, kemudian disunting dan diterbitkan menjadi buku. Banyak di antaranya bahkan menjadi buku penting, fenomenal, dan bestseller. Sebut saja, misalnya, Ca Bau Kan karya Remy Silado
dan Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy — keduanya pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Republika.

Beberapa surat kabar yang memiliki divisi penerbitan buku, sering menerbitkan sendiri karya-karya sastra yang telah dimuatnya. Republika, beberapa kali membukukan cerpen-cerpen yang telah dimuat di rubrik Sastra. Antara lain, Pembisik yang menghimpun karya-karya cerpenis ternama, seperti Umar Kayam, Danarto, Putu Wijaya, dan Nh Dini. Kemudian, Dokumen Jibril yang menghimpun cerpen-cerpen para perempuan penulis –sejak yang muda sampai yang senior seperti Titie Said– serta Tarian dari Langit yang menghimpun cerpen-cerpen berlatar tsunami Aceh.Selain itu, beberapa novel yang telah dimuat sebagai cerita bersambung (cerber) di surat kabar kita ini juga telah diterbitkan oleh Penerbit Republika. Salah satu novel yang mendapat sambutan luar biasa dari pembaca adalah Ayat-ayat Cinta.

Namun, banyak juga novel penting yang setelah dimuat sebagai cerber di Republika akhirnya terbit di luar lembaga penerbit tersebut, misalnya Tamu karya Wisran Hadi, Pasar karya Kuntowijoyo (Bentang), Asamaraloka karya Kuntowijoyo (Pustaka Firdaus), Ca Bau Kan dan Kerudung Merah Kirmizi karya Remy Silado (Gramedia), serta Sintren karya Dianing Widya Yudhistira (Grasindo). Semuanya menjadi karya-karya penting dalam sejarah sastra Indonesia.Memang tidak semua karya sastra yang telah dimuat di surat kabar akhirnya dibukukan oleh surat kabar yang bersangkutan. Pengarangnya pun bebas menerbitkannya melalui penerbit manapun, karena tidak memiliki “ikatan hak cipta” dengan surat kabar bersangkutan.

Pihak surat kabar biasanya hanya memberikan royalti atas pemuatan karya tersebut, dan bukan pembelian hak cipta.Karena itu, buku karya sastra yang terbit di luar lembaga penerbit surat kabar yang telah memuatnya jumlahnya justru lebih banyak. Apalagi, tidak semua surat kabar memiliki divisi penerbitan buku. Pengumpulan ataupun penyuntingan karya-karya semacam ini biasanya dilakukan sendiri oleh pengarangnya, dan dia pula yang kemudian menawarkannya kepada penerbit. Namun, tak jarang, pihak penerbitlah yang meminta kepada pengarangnya.Tidak jarang, buku-buku sastra semacam itu juga menjadi buku penting, laris, dan meraih penghargaan bergengsi. Salah satu contoh adalah buku kumpulan esai 9 Jawaban Sastra Indonesia karya Maman S Mahayana yang meraih penghargaan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara). Sebagian besar esai di dalam buku tersebut telah dimuat di berbagai surat kabar, sang penulis menghimpunnya, dan menerbitkannya di Rajawali Pers.

Dewasa ini ada pula lembaga sastra yang memberi perhatian khusus pada karya-karya sastra yang terbit di surat kabar. Salah satunya adalah lembaga baru Pena Kencana. Lembaga ini menghimpun cerpen dan sajak yang dimuat oleh surat-surat kabar di Indonesia sepanjang setahun (2007-2008). Setelah melewati seleksi dewan juri, hasilnya adalah buku kumpulan cerpen 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 dan buku kumpulan sajak 100 Puisi Terbaik Indonesia 2008.Mirip sistem seleksi Indonesian Idol, 20 cerpen dan 100 puisi itu kini diserahkan kepada publik pembaca untuk memilih satu cerpen terbaik dan satu puisi terbaik. Publik pembaca diminta untuk memilih karya melalui SMS dengan menyebut kode buku yang dibelinya dan kode karya yang dipilih (dijagokan)-nya. Tentu, agar dapat mengikuti “permainan” tersebut peserta harus membeli bukunya, sebab satu kode buku hanya dapat disertakan dalam satu kali SMS. Karya yang dapat mengumpulkan SMS terbanyak yang akan dinobatkan sebagai pemenang.

Permainan sastra ala Indonesian Idol tersebut mungkin menarik, namun rasanya kurang pas untuk dijadikan prosedur pemilihan karya sastra terbaik. Dan, itulah yang sempat menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat sastra. Karena, selain sistemnya yang dianggap “kurang cerdas” juga dinilai rawan manipulasi. Di antara nomine, misalnya, bisa saja sengaja memborong banyak buku dan banyak voucer HP (yang kini sangat murah), lantas mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk memenangkan karyanya. Yang lebih pas, barangkali, pemilihan karya terbaik tetap diserahkan kepada dewan juri yang benar-benar kredibel. Sedangkan pemilihan melalui polling SMS hanya pas untuk memilih “karya terfavorit” pilihan pembaca.

Hasilnya, publik sastra dapat tahu cerpen dan puisi terbaik pilihan dewan juri –yang terdiri dari para sastrawan– dan puisi serta cerpen terfavorit pilihan pembaca. Akan sangat surprise kalau ternyata hasil pilihan dewan juri sama dengan pilihan pembaca.Lepas dari “permainan” model Pena Kencana itu, terbitnya dua buku tersebut tetap penting bagi pendokumentasian “sastra koran” di Indonesia. Dibanding buku-buku dari “sastra koran” sebelumnya, kedua buku Pena Kencana tersebut tetap memiliki kelebihan. Ia tak memilih karya dari satu koran saja. Kedua buku Pena Kencana tersebut dipilih dari semua rubrik sastra surat kabar di Indonesia.

Mungkin masih ada kelemahan pada sistem penghimpunan karya dan penjuriannya. Tetapi, karena upayanya untuk merangkum semua karya (puisi dan cerpen) dari semua surat kabar yang terbit di Indonesia, jika dewan jurinya benar-benar kredibel, dengan sistem penjurian yang benar-benar objektif, hasilnya akan dapat menjadi cermin teraktual perkembangan “sastra koran” dan bahkan sastra Indonesia terkini. (Ahmadun Yosi Herfanda)
Sumber : http://www.republika.co.id

Hari ini, Ahad 6 Januari 2008, novelis Habiburrahman El-Shirazy, mendapat penghargaan sebagai Novelis No 1 Tahun 2007 dari Insani Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Beberapa hari lalu, 4 Januari 2008, Habiburrahman ‘dinobatkan’ sebagai salah satu Tokoh Perubahan 2007 oleh Republika.
Kedua penghargaan tersebut diraih Habiburrahman berkat novelnya, Ayat-Ayat Cinta (AAC, 2004). Novel bergaya ‘romantisme Islami’ ini tidak hanya berhasil meraih predikat megabestseller (dan kini dalam kurun tiga tahun terjual 400 ribu eksemplar), tapi juga menyuarakan moral, keteladanan, kearifan hidup, dan solidaritas sosial, yang mampu mencerahkan nurani pembacanya.
Dan, dengan dibaca oleh lebih dari 800 ribu orang (rata-rata satu eksemplar novel minimal dibaca oleh dua orang), novel tersebut dianggap ikut mendorong proses perubahan sosial atau proses pencerahan moral ke arah yang lebih baik. Kang Abik panggilan akrab Habiburrahman menyebutnya sebagai ‘novel pembangun jiwa’.
Sejak novel AAC terbit dan bestseller, sederet penghargaan atas novel tersebut telah diraih Kang Abik. Tahun 2005, dia meraih Pena Award untuk kategori Novel Terpuji Nasional. Pada tahun yang sama, novel tersebut meraih The Most Favourite Books and Writer 2005 mengalahkan serial Harry Potter versi Majalah Muslimah. Kemudian, terpilih sebagai Novel Dewasa Terbaik dalam Islamic Book Fair 2006.
Mengingat kekuatan ceritanya, pesan moral yang dibawanya, dan kenyataan bahwa ternyata novel tersebut diapresiasi oleh lebih dari 800 ribu pembaca, kiranya sangat layak untuk diajukan ke panitia penghargaan- penghargaan sastra yang lebih tinggi di tingkat Asia Tenggara, semacam Penghargaan Mastera dan SEA Write Awards.
Dari kisah cintanya, sejumlah pengamat sastra Indonesia sempat memasukkan AAC ke dalam kategori novel pop, atau novel pop-Islami. Tapi, mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai novel neo-romantik yang Islami atau bergaya romantisme Islam, yang segera mengingatkan kita pada karya-karya Buya Hamka, terutama novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Kebetulan, Buya Hamka dan Kang Abik sama-sama ustadz dengan basis moral santri yang sangat kuat. Karena itu, dalam beberapa diskusi dan tulisan, saya pernah menyebut Kang Abik sebagai ‘reinkarnasi Hamka’ atau ‘Hamka Abad 21’. Keduanya sama-sama menggarap masalah cinta dengan pendekatan yang sama-sama Islami, dan sama-sama mampu memikat keharuan pembaca. Namun, sastrawan negara Malaysia yang juga pengagum Hamka, A Samad Said, lebih mendekatkannya dengan novel Tunggu Teduh Dulu (TTD, 2004) karya Faisal Tehrani.
Memang, seperti temuan Samad Said, novel AAC tidak banyak memiliki persamaan dengan novel-novel Hamka. Hamka menulis kisah cinta yang terhalang adat dan perbedaan derajat. Sedang Kang Abik menempatkan adat dan budaya hanya sebagai latar multikultural. Persoalan adat memang telah terlewati oleh generasi Kang Abik, yang terepresentasi melalui tokoh Fahri. Yang menyamakan keduanya adalah pendekatan dan latar agamanya.
Karena itu, Samad Said lebih mendekatkan novel AAC dengan TTD. Kedua penulisnya berlatar belakang agama yang sama, sama-sama berisi kisah cinta yang tertib (Islami) di tengah maraknya fiksi cinta yang seronok, sama-sama tentang cinta segi tiga, dan sama-sama novel pembangun jiwa. Bedanya, tokoh utama AAC lelaki (Fahri), sedangkan tokoh utama TTD perempuan (Salsabila). Uniknya, keduanya terbit pada tahun yang sama, 2004.
Novel Ayat-Ayat Cinta (2004), mungkin, adalah sebuah keajaiban. Novel pertama seorang penulis muda, tapi mampu meraih posisi megabestseller nasional dalam waktu sangat singkat, melampaui Saman –novel sekuler karya Ayu Utami. Sebuah keajaiban yang memancar dari suara moral, dari kepatuhan terhadap ajaran-ajaran agama. Dalam Alquran, Tuhan telah berpesan, barangsiapa membela agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan melimpahkan rezeki baginya.
Dari sisi finansial pun tampak adanya keajaiban. Hingga saat ini, Ayat-Ayat Cinta telah memasukkan royalti lebih dari Rp 1,5 miliar bagi Kang Abik. Perhitungan kasarnya, dengan harga jual rata-rata Rp 43 ribu per eksemplar (setelah didiskon 10 persen), dan dengan royalti 12 persen, jika 350 ribu eksemplar terjual habis, maka Kang Abik akan mengantongi royalti Rp 1,8 miliar.
Bagi penulis Indonesia, jumlah royalti itu tentu sangat spektakuler, dan terbesar sepanjang sejarah royalti penulis Indonesia. Belum lagi royalti dari edisi Malaysia, pembelian hak cipta untuk film (novel itu telah difilmkan), dan edisi bahasa Inggrisnya nanti.
Melalui AAC, Kang Abik telah membuktikan, bahwa seorang penulis Indonesia bisa menjadi kaya hanya dari sebuah novel. Dan, luar biasanya, Kang Abik tetap hidup sederhana, bahkan tidak tergiur untuk membeli mobil mewah misalnya. Karena, hampir semua royalti dari novelnya itu dimanfaatkannya untuk membangun pesantren karya dan wirausaha, Pesantren Basmalla.
Dengan begitu, membeli novel AAC berarti ikut ber-amar ma’ruf nahi munkar bersama Kang Abik. Maka, dari sisi kemaslahatannya tersebut, tepatlah kalau Insani Undip menobatkannya sebagai novelis nomor satu di Indonesia saat ini.
(Ahmadun Yosi Herfanda)
Sumber: republika.co.id

JAKARTA — Siapa mengira penulis buku novel Islami Ayat-ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy, meraih royalti dari buku-bukunya hingga Rp 1,5 miliar. Hal itu disampaikan Tommy Tamtomo, Direktur Utama Penerbit Republika dalam acara bedah buku di Gramedia Matraman, Jakarta beberapa waktu lalu.
“Kami baru saja mencetak 10 ribu eksemplar untuk persediaan tahun depan, tapi sudah habis duluan,” kata Tommy. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Republika ini sejak Desember 2004 itu kini sudah dicetak 30 kali dengan total buku mencapai 300 ribu buku.
Tommy menduga, permintaan terhadap buku itu akan terus mengalir karena saat ini film Ayat-ayat Cinta akan diputar di bioskop. Film itu dibintangi Rianti Cartwright dan Zaskia Mecca dan disutradarai Hanung Bramantyo.
Habibburahman atau biasa dipanggil Kang Abik hingga kini telah melahirkan enam novel. Selain Ayat-ayat Cinta, ia juga sudah menelurkan buku: Ketika Cinta Berbuah Surga, Di Atas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Bertasbih Episode 1, Nyanyian Cinta, Ketika Derita Mengabadikan Cinta.
Untuk menghadapi permintaan buku-buku Habiburrahman, kini Penerbit Republika berencana menerbitkan Ayat-ayat Cinta edisi hardcover. Novel ini juga sudah dicetak di Malaysia, dan segera menyusul di Kanada dan Australia. (dea)
Sumber: http://www.halo-halo.com

Sebagian orang mengenal Habiburrahman El Shirazy (lahir di Semarang, 30 September 1976) sebagai penulis novel best seller berjudul Ayat-ayat Cinta, yang dalam waktu tiga tahun sudah menembus oplah sekitar 300 ribu eksemplar.

Belakangan, makin banyak orang yang tahu bahwa di balik kepiawaiannya merangkai kata dalam bentuk tulisan, ia pun jago berdakwah lewat lisannya. Maka undangan untuk mengisi pengajian pun makin sering datang kepadanya. Ada yang mengundangnya semata-mata untuk mengisi pengajian, ada juga panitia yang sengaja menyelipkan jadwal ceramah di tengah-tengah acara bedah buku dan talkshow di bidang perbukuan. ”Pernah di Palembang, dalam dua hari saya harus mengisi delapan acara, baik bedah buku dan talkshow, maupun mengisi ceramah agama,” tutur peraih penghargaan Pena Award 2005 itu.

Habiburrahman adalah alumnus Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir, sebuah universitas Islam terkemuka di dunia. Di Negeri Seribu Menara itu, ia menimba ilmu keislaman tak kurang dari tujuh tahun lamanya (1995-2002). Sampai saat ini dia telah menulis belasan judul buku dan hampir semua buku yang ditulisnya best seller. Untuk bukunya berjudul ayat-ayat cinta saja dia mendapat royalty 1,5 Miliar Rupiah. Sedangkan untuk buku-bukunya yang lain tidak kurang dari 100 juta yang dia kantongi per judul.

Tempat tanggal lahir: Semarang, 30 September 1976
Pendidikan: S-1 Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir dan S-2 The Institute for Islamic Studies in Cairo, Mesir
Nama istri: Muyasaratun Sa’idah
Nama anak: Muhammad Nail Author

Karya
· Ayat-ayat Cinta
· Ketika Cinta Berbuah Surga
· Di Atas Sajadah Cinta
· Ketika Cinta Bertasbih
· Dalam Mihrab Cinta
· Nyanyian Cinta
· Ketika Derita Mengabadikan Cinta
· Pudarnya Pesona Cleopatra