Self Publishing


Sebagai departemen yang memiliki kepedulian terhadap urusan haji dan umroh, Depag Pusat akhirnya memutuskan untuk membeli buku Keagungan Makkah dan Madinah. Menurut salah seorang pegawai Depag, buku Keagungan Makkah dan Madinah isinya sangat bagus, apalagi disertai dengan gambar-gambar tempat bersejarah di Makkah dan Madinah. Selain itu, menariknya lagi ada kisah nyata yang dialami oleh para jamaah haji sehingga bisa menjadi pelajaran berharga bagi calon jamaah haji dan umroh yang akan berangkat ke tanah suci.

Dengan membeli 200 eksemplar buku Keagungan Makkah dan Madinah, secara tidak langsung Direktorat Bimbingan Pelaksanaan Ibadah Haji Departemen Agama Pusat telah berusaha untuk memberikan informasi yang sangat bermanfaat bagi jamaah haji dan umroh. Terutama sekali direktorat yang dipimpin oleh Drs Abdul Ghafur Djawahir tersebut selalu berusaha untuk memberikan pelayanan kepada jamaah haji dan umroh secara maksimal.

Buku Keagungan Makkah dan Madinah merupakan karya self-publishing saya yang pertama. Saya mencetaknya sebanyak 1000 eksemplar dan alhamdulillah sudah terjual lumayan banyak. Minimal bisa nutup modal. heĀ  he he he

Iklan

7 Alasan Self Publising
Profesi penulis di negara kita belum terlalu dihargai dan belum bisa dijadikan pendapatan tetap, tidak sebagaimana di negara-negara maju. Seorang penulis di Barat semisal J.K. Rowling bisa mengumpulkan kekayaan hingga triliunan rupiah hanya dari hasil menulis. Sementara di negara kita, seperti itu masih sekadar mimpi semata. Pihak yang paling menangguk untung paling besar dari sebuah buku biasanya adalah distributor buku ataupun penerbit. Penulis hanya mendapat ampasnya. Maka penulis yang ingin berpenghasilan lebih mau tidak mau harus bisa menjual bukunya sendiri dan perlu menerbitkan karyanya secara self-publishing. Adapun alasan kenapa penulis perlu menerbitkan karyanya sendiri adalah sebagai berikut:
1. Bebas berekspresi
Ketika naskah sudah digarap oleh penerbit, terkadang ada hal-hal yang harus dipotong dan disesuaikan dengan standar penerbit. Misalnya jika penerbit menghendaki pola pikir yang pro pasar, sementara penulis punya idealis yang tidak terlalu mempertimbangkan apakah pasar akan menerimanya atau tidak. Maka dengan self publising, penulis lebih bebas mengekspresikan tulisannya tanpa ada campur tangan pihak lain.
2. Tidak bergantung pada pihak lain
Bagi penulis yang belum punya nama, biasanya akan dipandang sebelah mata oleh penerbit. Apalagi jika karyanya adalah karya yang pertama, sementara dia belum punya nama, pasti penerbit akan berpikir seribu kali untuk menerbitkan naskah tersebut. Meskipun menurut penulis, naskahnya berpotensi meledak. Dengan adanya self publising, penulis langsung bisa menerbitkan karyanya tanpa harus bergantung pada “belas kasihan” penerbit.
3. Tidak menunggu keputusan pihak lain
Hal yang paling menjengkelkan dalam hidup ini adalah menunggu dan menunggu. Apalagi jika menunggu atas sesuatu yang belum tentu. Ketika penulis mengajukan naskahnya ke penerbit, biasanya diberi janji untuk menghubungi kembali sebulan kemudian. Dan, kadang sebulan pun belum ada jawaban dari penerbit dengan alasan ini dan itu. Sementara penulis “dipaksa” dengan setia menunggu putusan penerbit. Jika jawabannya, naskah Anda diterima, tentu kebosanan rasa bosan menunggu hilang sudah. Akan tetapi jika jawabannya, naskah Anda tidak bisa kami terbitkan dengan alasan ini dan itu. Sungguh menyakitkan!
4. Mendapat pengalaman berharga
Memang menerbitkan naskah sendiri tantangan yang dihadapi lebih berat daripada naskah diterbitkan penerbit. Mulai dari menggarap naskah sendiri, mengedit sendiri, melay out sendiri, mencari percetakan sendiri, hingga menjual sendiri, merupakan kerja yang melelahkan. Namun setiap tetesan keringat yang terkucur punya nilai tersendiri karena Anda punya pengalaman yang sangat berharga. Pengalaman yang tidak akan didapatkan dari membaca buku, dari cerita orang lain, bahkan dari nasehat orang bijak sekalipun. Dengan pengalaman itulah seseorang akan terasah jiwanya menghadapi segala tantangan.
5. Kepuasan tiada tara
Ketika naskah self publising sudah benar-benar menjadi buku, perasaan puas tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Seperti tersadar dari mimpi Anda akan berucap, benarkah aku bisa melakukan ini? Benarkah ini adalah karyaku? Sungguh aku tidak bisa menyangka bisa melakukan seperti ini. Setiap lembar buku yang Anda buka, terbayang tetes-tetes keringat yang mengiringi naskah tulisan hingga menjadi buku. Dan yang namanya kepuasan tidak bisa dinilai dengan uang!
6. Gengsi tersendiri
Ketika buku sudah jadi, dan Anda menawarkan kepada orang lain, ada gengsi tersendiri. Ternyata Anda tidak hanya bisa menjual ide yang masih abstrak, tetapi dapat juga menjual buku yang ditulis dalam bentuk riil. Anda tidak bergantung pada orang lain merupakan suatu nilai plus tersendiri. Bahkan ketika bersama kawan-kawan Anda bisa berseru, “Yess, aku bisa!”
7. Keuntungan materi lebih besar
Jika penulis yang menyerahkan naskahnya kepada penerbit hanya mendapatkan royalti yang tidak seberapa, maka yang Anda dapatkan dengan self publising jauh lebih besar lagi. Sebagai simulasi, harga buku Rp. 50.000, jika Anda menyerahkan kepada penerbit, paling-paling dapat royalti antara 5%-15%. Berarti Anda hanya dapat Rp. 2500-7500 per buku. Tapi dengan self publishing, Anda hanya menyisihkan 25% untuk ongkos cetak dan biaya produksi lainnya. Sedangkan yang 75% adalah milik Anda. Artinya Anda akan mengantongi Rp. 37500 per buku. Angka itu setara dengan 10 kali lipat royalti yang akan Anda dapatkan jika menyerahkan naskah ke penerbit. Jadi, tunggu apalagi, sudah saatnya penulis seratus persen mandiri, menggarap naskah dan menjualnya sendiri. Selamat meniti tangga sukses!