Sarapan Buku


Sukses novel Ayat-ayat Cinta yang diangkat ke layar lebar, diikuti pula dengan sukses Laskar Pelangi, novel karya Andrea Hirata. Bahkan, diprediksikan jumlah penonton film yang mengambil setting Belitong ini akan melampaui film yang turut mempopulerkan Poligami. Fenomena seperti ini jelas menggugah para penerbit buku berlomba-lomba memvisualisasikan karya andalannya.

Dalam waktu dekat, kabarnya novel Kambing Jantan akan diangkat ke layar lebar. Sementara itu, Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-Shirazy lainnya sudah mendekati masa terakhir audisi dan sebentar lagi mulai syuting. Ada pula kabar bahwa kawan lama di Al-Azhar, Aguk Irawan, novelnya akan diangkat ke layar lebar (judulnya saya lupa).

Diprediksikan pada tahun depan, prospek novel di dunia penerbitan buku masih sangat bagus. Bahkan, ada kecenderungan industri film akan mendekati para penerbit untuk mengangkat karya tulisan dalam bentuk visual. Hal ini merupakan berkah besar bagi penerbit. Selain mendongkrak penjualan bukunya, juga merupakan promosi gratis. Apalagi brand penerbit buku akan terangkat ketika ada bukunya difilmkan.

Bagaimana dengan penerbit buku Islam seperti Pustaka Al-Kautsar? Insya Allah kita juga akan mengikuti trend ini, bukan karena latah, tetapi ingin menyemarakkan dunia perbukuan sambil berdakwah. Terbukti, sukses Ayat-ayat Cinta mampu memberikan gambaran Islam yang indah. Bahkan, poligami yang biasanya sering dihujat, dalam film tersebut sepertinya “ditoleransi” oleh para ibu-ibu. Bukankah dakwah tidak terbatas lewat lisan dan tulisan saja? Sekarang zamannya visual, dan saatnya mengaji di Bioskop. Mungkinkah?

Manusia hidup punya pilihan. Ada yang ingin hidup secara normal namun banyak yang memilih jalan hidup tidak normal. Salah satunya adalah kecenderungan seksual yang menurut masyarakat Indonesia adalah menyimpang, yaitu homoseksual.

Akhir-akhir ini marak pemberitaan seputar homoseksual dikarenakan terbongkarnya pembunuhan yang dilakukan Very Idam atau lebih dikenal dengan Ryan. Dari kasus ini muncul buku yang kabarnya sangat laku berjudul Tragedi Ryan Kabarnya, satu orang saja bisa menjual 50 buku ini setiap harinya.

Sebelumnya, ada juga buku yang mengupas tentang homoseksual dalam pandangan Islam yang berjudul “Islam dan Homoseksual” yang diterbitkan oleh Pustaka Zahra. Ada pula novel yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama berjudul “Being Ing” yang berkisah tentang homoseksual.

Buku terbaru yang cukup berani adalah buku berjudul “Membongkar Rahasia Jaringan Cinta Terlarang Kaum Homoseksual” yang diterbitkan oleh Hujjah Press. Penulisnya adalah Rahma Azhari dan Putera Kencana. Buku ini bukan saja menyoroti perilaku homoseksual dari segi agama, namun juga bahayanya dari segi medis dan psikologis. Selain itu, disebutkan pula tentang gerakan homoseksual yang ada di Indonesia, tempat mangkal kaum homo, situs-situs jejaring sosial yang menjadi ajang “iklan” kaum gaya dan lesbi serta data-data lainnya.

Dengan adanya tema homoseksual ini akan menyemarakkan dunia perbukuan, baik yang pro maupun yang kontra. Bagaimana dengan Anda?

Menyambut bulan suci Ramadhan banyak sekali aktivitas di sekeliling kita yang ‘berubah’ menjadi Islami. Dari mulai sms yang isinya ajakan agar menyambut bulan ini dengan ketakwaan, pengajian di masjid-masjid yang semakin meriah, juga para aktris yang dulunya berpakaian seronok sekarang pakai jilbab.

Dunia perbukuan juga ikut diramaikan buku-buku seputar bulan Ramadhan dan puasa. Tengok misalnya ada buku berjudul “Merindukan Bulan Ramadhan” Ada pula buku tentang Ramadhan yang dikaitkan dengan sejarah Nabi. Buku berjudul “Ramadhan Bersama Nabi” ini menceritakan bagaimana Rasulullah melalui bulan suci ini dengan beribadah dan berjihad.

Tentang makna Ramadhan juga ada buku yang menceritakannya yaitu buku berjudul 30 Renungan Ramadhan. Buku ini memaparkan apa makna di balik puasa Ramadhan dan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan. Dengan perenungan yang mendalam diharapkan kita bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Semoga di bulan suci ini kita semakin mendekatkan diri kepada Allah. Bagi kawan-kawan yang sering maupun yang tidak sengaja mengunjungi blog penerbitanbuku ini, saya haturkan permintaan maaf, mungkin ada postingan yang kurang berkenan di hati para pembaca sekalian.

Marhaban Ya Ramadhan, Syarus Shiyam wa Syahrul Qiyam.

(Sarapan buku)

Cinta membuat indah dunia

Cinta membuat hidup bahagia

Cinta menyajikan sejuta rasa

Cinta menjadikan pelakunya buta

Memang tidak mudah melukiskan perasaan di dada dengan kalimat sederhana c-i-n-t-a. Gejolak yang tidak terbendung itu terkadang membuat orang buta. Buta dalam segala hal. Di sinilah peranan buku untuk mengedukasi masyarakat bagaimana seharusnya mengarahkan perasaan suci ini menjadi keindahan sejati.

Buku, sangat besar peranannya untuk meluruskan segala paradigma keliru yang ada di masyarakat. Melalui buku, pembaca akan melihat paradigma sejati dari cinta yang suci, sebagaimana penuturan pembaca buku “Cinta Memang Ajaib; The True Love in Islam” sebagai berikut,

Banyak manfaat untuk saya setelah membaca buku ini, hinga saya sadar dan membuka mata saya dalam kehidupan dan perjalanan cinta saya selama ini salah, dan saya mulai mencoba merubah dan menerapkan dalam hidup keseharian saya.

Cinta terkadang salah diartikan. Bahkan ada yang membelokkannya ke arah yang salah. Misalnya kata “bercinta” mengandung konotasi ingin berhubungan seksual. Namun, apakah salah jika orang yang sedang jatuh cinta menyalurkan hasratnya? Sebenarnya tidak salah, asalkan caranya benar. Dalam setiap agama ada aturan menikah. Bukan hanya agama Islam saja yang mengatur umatnya agar menyalurkan nafsu biologis dengan jalan menikah. Ajaran menikah ada dalam setiap agama; Kristen, Hindu, maupun Budha.

Sedangkan Islam, selain mengatur pernikahan—sebagaimana disebutkan dalam buku Kado Pernikahan—juga mengatur tentang hubungan suami istri dalam bingkai seks yang halal. Sehingga ada buku berjudul, “Hidup Sehat dengan Seks Halal”

Jadi, apakah Anda ingin menjadikan cinta indah di dunia saja, ataukah indah di dunia dan akhirat? Semua terpulang pada pilihan Anda.

Sudah merupakan kodrat Ilahi, menjadikan setiap makhluk berpasang-pasangan. Ada laki-laki ada wanita, ada hitam ada putih, ada kaya ada miskin, dst. Begitu pula dalam hal pekerjaan, ada juragan ada karyawan, ada direktur ada kuli, ada boss ada jongos.

Tidak ada yang salah pada takdir kita, yang salah adalah ketika kita tidak mau menerima kenyataan dan selalu berangan-angan menggapai impian di atas awan.

Sekarang ini marak buku bertemakan entrepreneurship yang memberi motivasi agar orang mau berwirausaha. Sayangnya, dalam memberi motivasi terkadang terlalu bombastis dan “menyenggol pihak lain” Sebagai contoh buku Jangan Mau Seumur Hidup Menjadi Orang Gajian memberikan citra bahwa karyawan adalah profesi yang negatif. Sehingga buku ini kemudian dilawan oleh Safir Senduk dalam bukunya berjudul “Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya?”

Ada pula para entrepreneur yang mengkompori karyawan untuk keluar kerja. Padahal, kalau dipikir jika tidak ada karyawan, mana mungkin ada juragan? Nggak mungkin perusahaan bisa survive tanpa kehadiran karyawan.

Menengah-nengahi dari kedua buku di atas adalah buku tulisan Edy Zaques berjudul Orang Gajian Bisa Kaya. Juga buku yang ditulis karyawan sukses Masbukin Pradana berjudul Cara Brilian Menjadi Karyawan Beromzet Milyaran. Meskipun sekarang ini Masbukin sudah tidak lagi menjadi karyawan dan memilih menjadi juragan, tetapi dia masih menoleransi pekerjaan karyawan. Justru dari bukunya itu memberi dorongan kepada karyawan untuk tetap bekerja sambil berusaha menjalani profesi barunya sebagai pengusaha. Jika sudah benar-benar mapan, dia bisa beralih profesi menjadi boss selamanya. Dengan kata lain, Merubah Jongos Menjadi Boss.