Editorial


Editor yang tugasnya “menyulam” buku, harus mengenal teknik-teknik penyuntingan secara profesional. Bekerja sebagai editor terkadang bukan cita-cita, dan sering kali merupakan akibat “kecemplung” di dunia buku. Bahkan, kadang editor sama sekali tidak punya skill tentang sastra dan tata bahasa Indonesia, dia hanya menguasai materi dari isi buku yang diedit.

Hal ini bukan berarti seorang editor “otodidak” boleh mengabaikan tata bahasa Indonesia. Dia harus memperdalam ilmu tata bahasa dan materi buku yang dieditnya. Untuk itu, Pustaka Al-Kautsar tempat saya bekerja, pada Selasa, 2 Juli 2008 mengadakan pelatihan seputar penyuntingan buku.

Pelatihan dibawakan oleh pakar penyuntingan, Bambang Trimansyah yang sekarang ini banyak mengisi pelatihan menulis dan mengedit buku. Banyak manfaat dari pelatihan tersebut, antara lain saya lebih tahu tentang tata bahasa Indonesia (meskipun sampai sekarang masih belepotan), juga mengenal teknik-teknik penyuntingan serta dunia perbukuan di Indonesia.

Sebagai sarana peningkatan SDM, perusahaan sudah selayaknya mengadakan pelatihan bagi karyawannya, supaya perusahaan bertambah maju dan berani melakukan inovasi-inovasi terhadap produknya.

Bejo baru saja menyelesaikan editing buku setebal 600 halaman word di komputernya. Dia lalu meneliti ulang, adakah kesalahan yang perlu diperbaiki sebelum diserahkan ke setter. Setelah yakin, barulah dia menambahkan gambar-gambar yang diambilnya dari internet untuk melengkapi estetika buku yang sudah diedit. Dia juga perlu menyisipkan caption untuk mempercantik buku. Selanjutnya, dia menyerahkan copy hasil editingnya kepada setter.

Setter dengan sigap mengolah file yang “polos” dari editor menjadi buku di komputernya. Meskipun tidak berbekal pendidikan estetika, tetapi setter dituntut untuk berkreasi sendiri sehingga buku yang terbit nanti memiliki cita rasa seni. Cukup dua hari buku diolah dan diserahkan kembali kepada editor.

Sementara Bejo masih harus berpikir masukan apa yang harus diberikan kepada desain kaver untuk divisualisasikan dalam bentuk kaver yang eye chatching. Dia juga harus berpikir judul apa yang pas untuk bukunya supaya menggugah emosi pembaca untuk membeli.

Sesaat merenung, tiba-tiba dering telpon berbunyi. Bejo harus menerima penulis yang menyerahkan naskahnya dan memberi apresiasi sekaligus menjanjikan bukunya akan dirapatkan sebulan lagi. Jika diterima maka penulis akan dihubungi, jika ditolak pun akan ditelpon bahwa naskahnya tidak layak terbit. Sesekali dia juga harus browsing untuk mencari naskah buku bagus yang diharapkan “meledak” di pasaran.
Tugas Bejo belum selesai, dia harus mengoreksi ulang hasil dari setter dan menyerahkan hasil koreksi kedua kepada setter untuk dibuat Dummy. Tugasnya belum selesai. Dia masih harus mengawal proses sampai menjadi sebuah buku yang “tanpa-kritik” atau “minim-kritik”. Setiap kesalahan akan menjadi tanggung jawabnya.

Itulah pekerjaan seorang Bejo sebagai editor buku. Dengan fasilitas dan gaji pas-pasan, dia dituntut menjadi profesional. Dia harus memasak buku bercita rasa “bintang lima” dengan upah “kaki lima”. Bejo dituntut menjadi editor multifungsi, karena itu menjadi trend penerbitan masa kini. Namun, Bejo melakukannya dengan senang hati, karena yang dia kerjakan bukan semata-mata untuk dirinya, tetapi untuk memajukan bangsa dengan sesuatu yang bisa dikerjakannya. Hanya buku yang bisa dipersembahkannya, untuk negara yang sangat dia cinta.

Diambil dari tulisan Bambang Trim di milist editor Indonesia:

Editor pemerolehan yang merupakan padanan dari
acquiring editor adalah sebuah harapan bagi penerbit
guna meniscayakan ketersediaan naskah. Naskah
merupakan bahan baku utama dalam proses penerbitan dan
sumbernya adalah para penulis serta pengarang. Karena
itu, beberapa penerbit yang berorientasi pada jangka
panjang membentuk Bank Naskah sebagai lembaga stok
naskah.

Sebegitu susahkah naskah dicari sehingga diperlukan
komitmen dan kerja khusus untuk mendapatkannya? Mari
kita tilik empat usaha penerbit dalam mendapatkan
naskah.
1. Usaha pasif yaitu usaha menunggu kiriman naskah
dari penulis/pengarang. Naskah yang diterima biasa
disebut unsolicited atau naskah yang tidak
direncanakan terbit.
2. Usaha aktif yaitu usaha mencari dan menelusuri
sumber-sumber naskah secara langsung. Naskah yang
diterima biasa disebut solicited atau naskah yang
sudah direncanakan sebelumnya.
3. Work-Made-for- Hire yaitu usaha mengadakan naskah
dengan melibatkan internal penerbit, misalnya editor
yang diminta untuk menulis topic tertentu.
4. Usaha penerjemahan yaitu usaha mengalihbahasakan
buku-buku yang sudah terbit di luar negeri.

Usaha pertama sudah banyak ditinggalkan oleh beberapa
penerbit besar karena pasif menunggu tidak menjamin
bisa memperoleh naskah yang diharapkan. Kerapkali
naskah yang datang secara tidak diundang adalah
naskah-naskah “sampah” yang malah merepotkan
redaksi untuk mengembalikannya.

Usaha kedua dan seterusnya adalah usaha yang kini
paling relevan untuk dilakukan di tengah ketatnya
persaingan mendapatkan naskah antarpenerbit. Untuk
itu, penerbit yang proaktif mendapatkan naskah
memerlukan kerja seorang editor pemerolehan atau
acquiring editor.

Dalam hal ini seorang acquiring editor memang harus
berjibaku memenuhi target kuantitas pemerolehan
naskah. Seorang editor pemerolehan haruslah seseorang
yang peka terhadap tren dan kecenderungan, punya
naluri seperti detektif atau wartawan, dan memiliki
jaringan luas. Dengan demikian, ia bisa bergerak
lincah setiap hari menelusuri sumber-sumber naskah
yang tersembunyi.

Berikut adalah jaringan pengadaan naskah yang perlu
dikuasai oleh seorang editor pemerolehan:
1. jaringan selebritis untuk mendapatkan naskah
biografi, autobiografi, refleksi, maupun keterampilan
hidup;
2. jaringan pejabat publik untuk mendapatkan naskah
biografi, autobiografi, kebijakan publik, refleksi;
3. jaringan akademisi untuk mendapatkan naskah buku
teks, pendidikan, biografi, autobiografi, penelitian;
4. jaringan jurnalis/media massa untuk mendapatkan
naskah informasi, peristiwa, pengetahuan praktis,
ataupun keterampilan hidup;
5. jaringan profesional untuk mendapatkan naskah
motivasi, kepemimpinan, manajemen, pengalaman, dan
keterampilan hidup.
6. jaringan pengusaha untuk mendapatkan naskah kiat,
entrepreneurship.
7. jaringan intelektual/ cendekiawan untuk mendapatkan
naskah refleksi, biografi, autobiografi, penelitian,
dan pendapat.
8. jaringan rohaniawan untuk mendapatkan naskah
spiritual, pencerahan, biografi, autobiografi.
9. jaringan sastrawan untuk mendapatkan naskah puisi,
novel, cerpen, dan drama.

Untuk menguasai jaringan tersebut, seorang editor
pemerolehan harus proaktif menguasai berbagai
sumber-sumber informasi seperti berikut ini:
1. media massa cetak yang harus dibaca setiap hari
yang meliputi koran nasional serta majalah berita
ataupun majalah spesifik yang relevan;
2. internet dengan mengunjungi situs-situs yang
relevan serta juga ikut dalam milist-milist relevan
atau juga mengadakan situs maupun blog sendiri;
3. buku-buku best seller ataupun buku-buku karya
penulis yang akan diincar untuk dimintai naskah;
4. katalog-katalog penerbit, baik dari dalam negeri
maupun dari luar negeri;
5. seminar/pelatihan/ lokakarya yang pantas untuk
diikuti guna memburu para narasumber untuk menulis
naskah.

Cara kerja proaktif ini memerlukan perencanaan yang
matang dari seorang editor pemerolehan. Sebuah
perencanaan pengadaan naskah hendaknya diikuti dengan
GAGASAN TOPIK/JUDUL, PROFIL NARASUMBER YANG TEPAT,
PROFIL PENULIS PENDAMPING (APABILA DIBUTUHKAN), serta
MOMENTUM PENERBITAN.

Dalam hal ini seorang editor pemerolehan juga mutlak
harus memahami:
1. jenis-jenis naskah, yaitu fiksi, nonfiksi, dan
faksi;
2. jenis-jenis kerangka (outline), yaitu tahapan,
butiran, aliran, dan tanya-jawab.

***

Kriteria seperti yang disebutkan sebelumnya memang
tidak gampang dilakoni seorang editor pemula. Akan
tetapi, bukan sesuatu yang juga tidak bisa dikuasai.
Kegigihan seorang editor untuk mau belajar dan
berusaha adalah kunci bagi peningkatan
profesionalitasnya di samping juga kunci bagi
kesuksesan penerbit. Karena itu, penerbit yang serius
mestinya menginvestasikan modal untuk peningkatan
profesionalitas editor lewat pembinaan, pelatihan, dan
pengarahan. Di sisi lain, editor yang serius juga
harus berani mengajukan diri sebagai orang yang pantas
menjadi kader penerbitan masa mendatang.

Bambang Trim
praktisi perbukuan nasional

Pesatnya pertumbuhan dunia buku di Indonesia, tak ayal membuat penerbit harus berlomba-lomba dalam hal inovasi produk. Buku, sekarang tidak hanya sekadar kertas yang “dimeriahkan” dengan aksara dan gambar. Akan tetapi sudah menjadi life style yang bukan saja dijadikan rujukan akan tetapi untuk meningkatkan status sosial. Muslimah tidak akan dianggap gaul, jika belum membaca Ayat-ayat Cinta. Remaja gaul belum dianggap melek informasi, jika belum menyimak Laskar Pelangi.
Ditambah lagi inovasi di bidang perbukuan dalam segi pengemasan, membuat penerbit harus melek informasi terhadap perkembangan terkini, jika tidak mau menjadi pecundang dalam “pertarungan” menarik simpati pembaca.
Sudah selayaknya penerbit, khususnya editor dan staf redaksi, mengagendakan jalan-jalan ke toko buku untuk melihat perkembangan dunia perbukuan saat ini. Dengan adanya jalan-jalan ini, akan membuka mata dan mengasah intuisi yang merupakan bagian termahal dari seorang editor. Sebab, sukses tidaknya produk yang dilempar ke pasar tidak akan terlepas dari sentuhan kreatif editor sebagai “juru masak” penerbit.
Kebetulan sekali, hari ini perusahaan tempat saya bekerja menggiatkan editornya untuk menghirup udara segar sekaligus menyedot energi untuk bisa ditransfer dalam proses kreatifnya sebagai “kuli aksara”.
Jalan-jalan ke toko buku Gramedia di Matraman dan Gunung Agung di Kwitang setidaknya memberi inspirasi untuk modal mengolah intuisi. Ternyata, pengemasan buku sudah sedemikian kreatif, terutama di toko buku Gramedia yang mendisplay buku-buku “berwajah unik” di tempat tersendiri.
Saya sempat membeli buku terbaru Bambang Trim yang covernya sangat inovatif. Buku yang bernuansa coklat dan menghadirkan titik-titik dengan teknik spot membuat buku ini kelihatan ciamik. Ada pula buku tentang pengalaman selebriti yang sudah (baru?) berjilbab dengan menyertakan CD dan dikemas dengan cover menarik.
Di toko Gramedia sendiri dengan telanjangnya memasang banner lelaki “telanjang” untuk mempromosikan komik yang menggelitik. Kalau tidak salah, komik ini bertengger di urutan teratas penjualan toko buku Gramedia di seluruh Indonesia.
Jadi, apakah boss perusahaan perlu menjalan-jalankan editornya untuk berbelanja ilmu? Jawabnya, jika si boss ingin editornya semakin maju, maka jawabnya adalah harus!

Tidak terasa sudah setahun bekerja di penerbitan buku sebagai editor. Dua puluh lima buku sudah kuedit, baik karya penulis lokal maupun karya terjemahan. Kebetulan di kantor menerapkan sistem 30:70 artinya tiga puluh untuk karya lokal dan tujuh puluh untuk terjemahan.
Mengedit buku terjemahan biasanya memakan waktu relatif lebih lama daripada mengedit karya lokal. Sebab, sering kali penerjemah menerjemahkan buku secara asal-asalan dengan alasan editorlah yang bertanggung jawab atas finishing naskah. Namun demikian, ada beberapa “kenikmatan” mengedit buku terjemahan Arab yaitu :
1- Tulisan ilmiah dan berbobot.
2- Argumen yang dipaparkan kuat
3- Menambah dan mengasah naluri intelektual
4- Dapat dijadikan referensi ketika ingin menulis buku
Sedangkan dukanya adalah :
1- Terjemahan yang asal-asalan
2- Penerjemah tidak mengikuti gaya selingkung penerbit
3- Materi buku terkadang tidak sesuai dengan konteks keindonesiaan
4- Memakan waktu yang relatif lebih lama

Sumber: yasirmaqosid.multiply.com

Chief editor adalah pemimpin tertinggi pasukan editor. Dia adalah seorang profesional yang tidak perlu dipertanyakan lagi kemampuan teknis editingnya karena paling tidak sudah memiliki jam terbang selama lima tahun sebagai editor. Chief editor yang pasti memiliki kemampuan leadership dan manajerial yang memadai.

Chief editor termasuk personel ataupun petinggi penerbitan yang sudah lebih banyak berpikir strategis dalam hal penerbitan buku. Ia bisa menetapkan bench mark (tanda takuk) penerbit yang akan menjadi acuan penerbitannya. Ia pun memiliki intuisi yang baik untuk mendukung proyek penulisan buku ataupun memburu para penulis buku guna dilambungkanm menjadi best seller.

Informasi perbukuan, baik nasional maupun internasional sebaiknya memang ada dalam genggaman seorang Chief Editor, termasuk informasi pesaing.

Orang dengan kemampuan chief editor (sesungguhnya dan selayaknya) di Indonesia mungkin masih jarang dan banyak dicari. Ia akan menjadi harta paling berharga bagi penerbit dan juga harapan besar bagi para marketer.

Ditulis oleh
Bambang Trim
Ketua Forum Editor Indonesia (FEI)

Dari namanya kita tahu bahwa editor jenis ini sudah masuk ke dalam kelas manajemen menengah dalam struktur organisasi perusahaan. Seorang managing editor dalam jenjang kariernya bisa disamakan dengan asisten manajer ataupun manajer. Tugas dan tanggung jawab utamanya adalah mengelola alur penerbitan dengan menyupervisi pekerjaan senior editor dan editor

Managing editor sudah melepaskan banyak pekerjaan teknis, kecuali memeriksa pruf akhir atau menaruh perhatian tinggi terhadap tampilan kemasan luar, seperti cover. Managing editor sudah mulai memikirkan hal-hal strategis dalam perusahaan penerbitannya, seperti ide penerbitan, pengadaan naskah, dan terobosan yang mendukung pencapaian visi serta misi perusahaan.

Para managing editor harus memiliki wawasan perbukuan yang luas, misalnya mengikuti perkembangan dunia buku lewat publisher weekly atau membaca rutin majalah Matabaca serta aktif memantau komunitas-komunitas perbukuan, termasuk ikut dalam forum diskusi di milist. Dia pun harus memiliki hubungan yang baik dengan jejaring penerbitan buku, seperti antarpenerbit, antarpenulis, maupun antartoko buku.

Managing editor harus mampu memberikan solusi-solusi cerdas untuk permasalahan penerbitan yang dihadapi timnya, misalnya dalam hal alih teknologi (peralihan software pagemaker ke in-design) ataupun konflik antara penulis dan editor.

Ditulis oleh
Bambang Trim
Ketua Forum Editor Indonesia (FEI)

Laman Berikutnya »