Cerita Sukses


Tidak terasa setehun sudah di Jakarta dan bekerja di penerbitan buku. Banyak hal dan pengalaman yang kuperoleh tentang dunia perbukuan di Indonesia, terutama perkembangan buku Islam yang sampai saat ini masih menunjukkan peningkatannya, baik di bidang penjualan maupun kreativitas.
Alhamdulillah selama setahun bekerja di Pustaka Al-Kautsar sebagai editor, banyak sudah buku yang aku edit. Buku-buku tersebut adalah :
1. Kita dan Barat (Dr. Yusuf Al-Qaradhawi)
2. Hamil, Siapa Takut (Adil bin Yusuf Al-Azazi)
3. Dinasti Abbasiyah (Dr. Yusuf Al-‘Isy)
4. Misteri Tidur (Dr. Ahmad Syauqi Ibrahim)
5. Mesra Sepanjang Usia (Syaikh Muhammad Mahmud)
6. 147 Ilmuwan Terkemuka Sepanjang Sejarah Islam (Muhammad Gharib Jaudah)
7. Kisah Orang-orang Shaleh dalam Mendidik Anak (Ibrahim Mahmud)
8. Sukses Bisnis Berkat Wasiat Nabi (Abul Futuh Shabri)
9. Cinta Memang Ajaib, (Dr. Shahba` Muhammad Bunduq)
10. Hidup itu Mudah (Abu Muhammad Waskito)
11. Minhajul Qashidin (Imam Ibnu Qudamah)
12. Sirah Nabawiyah (Syaikh Mubarkafury)
13. Smart Healing (Muhammad Ali Toha Assegaf)
14. Misteri Hari Jum’at (Muslich Taman)
15. Cara Islami yang Dilakukan Orangtua Pada Minggu Pertama Kelahiran Anak (Ahmad bin Mahmud Ad-Dibb)
16. Pernikahan Sukses (Muhammad Nabil Kazhim)
17. Yang Harus Diketahui Wanita (Muhammad Kamil Abdusshamad)
18. 50 Ayat Pelipur Lara (Muhammad Ash-Shayim)
19. Be Smart dan Beloved Girl (Ru`a Yusuf)
20. Nama-nama Indah untuk Anak Anda (Khadijab Abdul Quddus)
21. Al-Wajiz 100 Kaedah Fikih (Dr. Abdul Karim Zaidan)
22. Panduan Akidah Ahlussunnah wal Jamaah (Darwis Abu Ubaidah)
23. Shifat Shalat Nabi (Abdullah bin Baz dan Al-Utasimin)
24. Biografi Umar bin Khatab (Muhammad Asy-Syalabi)
25. Al-Adab Al-Mufrad (Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari)
Di sela-sela kesibukan menyunting buku, terkadang ada pula job untuk menerjemahkan buku. Selama tahun 2007 alhamdulillah 7 buku telah aku selesaikan, yaitu :
1. Al-An Anta Abb (Dr. Karim Syadzili)
2. Uyub Asy-Syakhshiyyah / Mengenal Kekurangan Diri / Khalifa (Al-Kautsar Group) (Dr. Yusuf Luxori)
3. Dzauq Ash-Shalah / Cita Rasa Shalat; Sudahkan Anda Menikmatinya? / Maghfirah Pustaka (Ibnul Qayyim Al-Jauzi)
4. At-Tadawi bi Ash-Shadaqah / Dasyatnya Terapi Sedekah / Maghfirah Pustaka (Syekh Hasan bin Hasan Hammam)
5. At-Tadawi bi Al-Istighfar / Dasyatnya Terapi Istighfar / Maghfirah Pustaka (Syekh Hasan bin Hasan Hammam)
6. 1000 Sunah fi Al-Yaum wa Al-Lailah (Khalid Al-Khusainan)
7. 100 Qishah Ar-Razzaq Huwa Allah / 100 Kisah; Allah Maha Pemberi Rezeki/ Pustaka Al-Kautsar (Majdi Fathi As-Sayyid)
Sedangkan untuk tulisan karya sendiri, sebenarnya sudah sudah dua buku yang aku garap, namun belum ada lampu hijau dari pihak penerbit, sehingga tidak aku sebutkan judul bukunya di sini.
Semoga tahun 2008 lebih banyak karya di bidang penulisan, terutama karya sendiri. Rasanya kurang sreg kalau hanya menyunting atau menerjemahkan buah pikiran orang lain, sementara sama sekali tidak punya karya sendiri yang patut dibanggakan dan bermanfaat bagi orang lain.

“Saya tidak pernah membayangkan buku pertama saya akan membawa saya ke pameran buku terbesar di dunia, Frankfurt Bookmesse atau Frankfurt Book Fair. Lima hari saya berpameran dan berkeliling di Frankfurt Book Fair, telah benar-benar membuka mata saya terhadap yang namanya dunia buku global. Sebagai penulis baru, saya melahap semua yang bisa didapatkan dalam Frankfurt Book Fair (FBF) 2007: network, pengalaman, dan wawasan yang mungkin baru bisa saya dapatkan setelah puluhan tahun berkecimpung di dunia buku.”
Ungkapan di atas merupakan sekelumit kisah dan pengalaman dari Maris Stella Sutina, ibu dari seorang putri yang berprofesi sebagai konsultan, trainer sekaligus pengarang buku cerita anak dalam ajang Frankfurt Book Fair pada Oktober 2007 lalu. Apa yang dilakukan Stella di Frankfurt ini memang bisa dibilang nekat. Bagaimana tidak, baru satu kali mengarang buku sudah berani berpameran dan “menjajakan” bukunya secara langsung di pameran buku terbesar di dunia itu. “Bu Stella ini memang ’gila’,” ujar Paul Darminto, salah seorang pengunjung pameran asal Indonesia yang melihat langsung sepak terjang Stella sewaktu ’menjajakan’ buku karyanya dari gerai ke gerai penerbit mancanegara peserta pameran. “Baru kali ini saya melihat penulis dari Indonesia berani bertempur langsung di Frankfurt,” kata seorang editor dari salah satu penerbit buku di Indonesia yang sudah beberapa kali hadir dalam FBF.
Selama ini, gerai Indonesia atau Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dalam FBF hampir tidak pernah menghadirkan penulis- penulis buku asal Indonesia. Suatu pemandangan yang berbeda apabila dibandingkan dengan gerai-gerai dari negara lain. Gerai Singapura yang tahun 2007 ini bersebelahan dengan gerai Indonesia, misalnya, tak kurang menghadirkan lebih dari 3 penulis buku selama pameran. Oleh karena itu, apa yang dilakukan Stella, penulis buku I Love U by God selama di Frankfurt ini, merupakan pemandangan yang sangat langka, bahkan tidak pernah ada selama ini. Biasanya, dalam FBF, hanya buku-buku karya penulis Indonesia yang dipamerkan di gerai Indonesia atau di gerai-gerai negara lain, seperti buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer berbahasa Jerman yang dipajang di gerai salah satu penerbit Jerman Holleman.
Bermula dari “Oh, My God!”
Menurut Stella, buku I Love U by God sendiri baru selesai dicetak dan di-wrapping plastik beberapa jam sebelum bertolak ke Frankfurt. “Benar-benar masih hangat dari oven,” tutur Stella. Bahkan, urusan visa untuk berangkat ke Frankfurt baru kelar pada pukul 2 siang di hari keberangkatan. “Semuanya memang serba cepat dan mendadak. Jadi, hari pertama terbit langsung dipamerkan di Frankfurt,” kata Stella menambahkan.
Ide pembuatan buku I Love U by God terinspirasi dari perbincangan Stella di sela-sela nonton televisi dengan putrinya Kyla Christie Hambali (7) yang waktu itu masih berusia 3 tahun. Waktu itu terdengar dari TV seruan “Oh, My God”. “Kayla menanyakan kepada saya apa itu artinya,” kata Stella. Kesempatan tersebut digunakan Stella untuk menjelaskan konsep “GOD”. Stella kemudian mencari buku-buku untuk membantu memperkenalkan Tuhan kepada Kayla, tetapi tidak ada yang dirasa tepat. “Akhirnya dengan singkat saya katakan Tuhan adalah yang menyayangi Kyla sangat… sangat besar. Tapi ternyata itu tidak cukup, karena Kyla kembali bertanya seberapa besar “sangat-sangat besar” itu, kata Stella.
Pertanyaan Kayla tersebut rupanya terus terngiang di kepala Stella, bagaimana dia harus menjelaskan kasih Tuhan yang sangat-sangat besar kepada buah hatinya. “Sampai, suatu hari saya mengajak Kyla ke pantai, saya meminta dia melihat langit yang tinggi dan biru (tentu bukan di Jakarta), saya katakan padanya kasih Tuhan melebihi tingginya langit, dan dalamnya laut, melebihi apa yang bisa kita lihat. Dengan bantuan hal-hal konkret dari alam ciptaan Tuhan yang dapat dicerna panca inderanya, Kyla mulai mengerti kalau kasih Tuhan itu pada intinya melebihi segala sesuatu. Dengan pikirannya yang masih polos, Kyla menambahkan, kasih Tuhan lebih manis dari kembang gula favoritnya, lebih halus dari bulu boneka angsanya, lebih wangi dari susu stroberinya, dan seterusnya. Hasil dialog inilah yang saya dokumentasikan dan menjadi inspirasi utama pembuatan buku I Love U by GOD,” jelas Stella.
Kekuatan buku I Love U by God adalah go back to basic. Idenya sangat sederhana tetapi universal. Selain itu, buku tersebut dibuat dengan berbagai fitur yang mampu menstimulasi panca indra anak dan membangkitkan daya eksplorasi anak. Fitur buku di setiap halaman menarik untuk dilihat, diraba, dicium, bahkan dijadikan mainan. Di antaranya, ada halaman yang bermain dengan dimensi dalam, tinggi, dan besar. Sewaktu berkisah tentang kasih Tuhan yang lebih wangi dari stroberi, misalnya, dibuat fitur berupa buah stroberi yang diberi parfum stroberi, sehingga anak-anak secara langsung dengan indera penciumannya bisa merasakan harumnya sebuah stroberi. Demikian juga ada halaman yang bisa menyala dalam gelap (glow in the dark). Di situ ditampilkan suasana malam hari yang cerah di mana bulan dan bintang tampak menyala dengan terang menghiasi langit dengan begitu indahnya. Sehingga, anak-anak dapat bereksplorasi dengan kasih Tuhan yang melebihi luasnya semesta.
Di tengah banjir “princess”, kartun, dan superhero
Di tengah buku pop-up nan canggih yang dipamerkan dalam FBF, buku interaktif I Love U by God ternyata masih menarik bagi para penerbit mancanegara. “Sewaktu saya membacakannya kepada mereka, buku ini cukup mencuri hati mereka dan mendatangkan respons yang sangat positif untuk diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diterbitkan ke berbagai negara, mulai dari bahasa Perancis, Jerman, Italia, Spanyol, Portugis bahkan sampai ke negara seperti Yunani,” kata Stella.
Di tengah membanjirnya buku-buku bertema princess seperti Putri Salju, Cinderela atau Belle, atau superhero seperti Batman dan Superman dan tokoh kartun seperti Mickey atau Dora Emon yang menyita sebagian besar isi rak dari gerai penerbit buku anak dalam FBF 2007, buku karya Stella bersama putrinya Kayla ini memang menawarkan sesuatu yang berbeda. Temanya yang universal, yakni soal mengenalkan konsep kebesaran kasih Tuhan dengan mempergunakan fitur-fitur yang menarik, eksploratif dan interaktif, membuat buku ini mendapat respons yang baik.
“Buku-buku anak yang ada dalam pameran ini yang sekarang didominasi buku-buku visual dan isi dan bentuknya bisa dikatakan semua hampir sama. Sebagian besar isinya cerita tentang karakter-karakter film seperti princess, superhero, atau karakter-karakter lain dan buku-buku kegiatan atau aktivitas. Kemasannya saja yang semakin menarik dan bervariasi,” kata Joko Wibowo, editor buku anak dari penerbit Elexmedia Komputindo. Ia juga menambahkan bahwa sangat jarang ditemui buku anak yang temanya mengenalkan konsep yang lebih universal, misalnya Tuhan. Kalaupun ada, pembahasannya biasanya to the point, langsung, terutama bagi anak-anak prasekolah dan anak balita. Sementara untuk anak-anak yang lebih besar berupa buku-buku yang mengambil kisah dari alkitab atau bible.
Salah satu respons positif terhadap buku I Love U by God, diungkap oleh Cathy Brenty, editor Editions des Béatitudes, penerbit buku berbahasa Perancis yang sudah mengikuti pameran di Frankfurt selama hampir 20 tahun berturut-turut. “Saya sangat menghargai bila dapat membacakan cerita yang indah ini kepada calon cucu saya. Buku I Love U by God memberikan kesan mendalam dan indah dalam diri saya. Buku ini sangat jelas, sederhana, dan indah, baik dalam gambar maupun bahasa. Bahasa tulisan maupun ilustrasi yang dapat dimengerti dan dihargai oleh setiap budaya dan bahasa,” ungkap Cathy Brenty. Ia juga menambahkan bahwa dengan jelas buku tersebut ditulis sepasang ibu dan anak untuk ibu-ibu dan anak-anak. Untuk diceritakan setiap saat di siang hari maupun malam hari untuk menumbuhkan iman anak pada Tuhan.
Menurut Stella, Cathy meminta diberikan prioritas pertama untuk menerbitkan buku I Love U by God dalam bahasa Perancis untuk negara-negara berbahasa Perancis. Bahasa Perancis digunakan di beberapa negara, seperti Kanada, Belgia, Swiss, hingga ke Afrika Selatan. Cathy adalah salah satu dari 11 penerbit yang jangkauan dan distribusinya mencapai lebih dari 20 negara.
Dari Indonesia ke Frankfurt lalu mendunia
Respons positif tersebut semakin memantapkan Stella bahwa suatu ide yang sederhana, mendasar dan universal, dengan pengerjaan yang sepenuh hati dan desain dari bakat terbaik anak negeri, didukung dengan teknologi cetak buku terbaik, dapat meraih sukses. “Saya percaya buku I Love U by God dan kelak buku cerita anak dari Indonesia lainnya akan mampu berbicara dengan anak-anak secara universal di berbagai belahan dunia. Frankfurt Book Fair bukan saja sebuah jendela buku dunia, tapi telah menjadi gerbang bagi buku Indonesia untuk mendunia,” tutur Stella.
Apa yang sudah dilakukan oleh Stella selama FBF 2007 lalu tentunya bisa memberi inspirasi dan dorongan bagi para penulis Indonesia untuk tidak perlu ragu dan takut lagi go international dengan cara jemput bola atau terjun langsung di kancah pameran kelas dunia. Kehadiran pelaku industri buku Indonesia di kancah pameran industri buku dunia, seperti Frankfurt Book Fair, di masa datang tak hanya sebagai pembeli hak cipta, tetapi justru bisa berbalik arah sebagai penjual hak cipta penerjemahan buku. Semoga!
(Anung Wendyartaka/ Litbang Kompas)
Sumber : kompas.com

Hari ini, Ahad 6 Januari 2008, novelis Habiburrahman El-Shirazy, mendapat penghargaan sebagai Novelis No 1 Tahun 2007 dari Insani Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Beberapa hari lalu, 4 Januari 2008, Habiburrahman ‘dinobatkan’ sebagai salah satu Tokoh Perubahan 2007 oleh Republika.
Kedua penghargaan tersebut diraih Habiburrahman berkat novelnya, Ayat-Ayat Cinta (AAC, 2004). Novel bergaya ‘romantisme Islami’ ini tidak hanya berhasil meraih predikat megabestseller (dan kini dalam kurun tiga tahun terjual 400 ribu eksemplar), tapi juga menyuarakan moral, keteladanan, kearifan hidup, dan solidaritas sosial, yang mampu mencerahkan nurani pembacanya.
Dan, dengan dibaca oleh lebih dari 800 ribu orang (rata-rata satu eksemplar novel minimal dibaca oleh dua orang), novel tersebut dianggap ikut mendorong proses perubahan sosial atau proses pencerahan moral ke arah yang lebih baik. Kang Abik panggilan akrab Habiburrahman menyebutnya sebagai ‘novel pembangun jiwa’.
Sejak novel AAC terbit dan bestseller, sederet penghargaan atas novel tersebut telah diraih Kang Abik. Tahun 2005, dia meraih Pena Award untuk kategori Novel Terpuji Nasional. Pada tahun yang sama, novel tersebut meraih The Most Favourite Books and Writer 2005 mengalahkan serial Harry Potter versi Majalah Muslimah. Kemudian, terpilih sebagai Novel Dewasa Terbaik dalam Islamic Book Fair 2006.
Mengingat kekuatan ceritanya, pesan moral yang dibawanya, dan kenyataan bahwa ternyata novel tersebut diapresiasi oleh lebih dari 800 ribu pembaca, kiranya sangat layak untuk diajukan ke panitia penghargaan- penghargaan sastra yang lebih tinggi di tingkat Asia Tenggara, semacam Penghargaan Mastera dan SEA Write Awards.
Dari kisah cintanya, sejumlah pengamat sastra Indonesia sempat memasukkan AAC ke dalam kategori novel pop, atau novel pop-Islami. Tapi, mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai novel neo-romantik yang Islami atau bergaya romantisme Islam, yang segera mengingatkan kita pada karya-karya Buya Hamka, terutama novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Kebetulan, Buya Hamka dan Kang Abik sama-sama ustadz dengan basis moral santri yang sangat kuat. Karena itu, dalam beberapa diskusi dan tulisan, saya pernah menyebut Kang Abik sebagai ‘reinkarnasi Hamka’ atau ‘Hamka Abad 21’. Keduanya sama-sama menggarap masalah cinta dengan pendekatan yang sama-sama Islami, dan sama-sama mampu memikat keharuan pembaca. Namun, sastrawan negara Malaysia yang juga pengagum Hamka, A Samad Said, lebih mendekatkannya dengan novel Tunggu Teduh Dulu (TTD, 2004) karya Faisal Tehrani.
Memang, seperti temuan Samad Said, novel AAC tidak banyak memiliki persamaan dengan novel-novel Hamka. Hamka menulis kisah cinta yang terhalang adat dan perbedaan derajat. Sedang Kang Abik menempatkan adat dan budaya hanya sebagai latar multikultural. Persoalan adat memang telah terlewati oleh generasi Kang Abik, yang terepresentasi melalui tokoh Fahri. Yang menyamakan keduanya adalah pendekatan dan latar agamanya.
Karena itu, Samad Said lebih mendekatkan novel AAC dengan TTD. Kedua penulisnya berlatar belakang agama yang sama, sama-sama berisi kisah cinta yang tertib (Islami) di tengah maraknya fiksi cinta yang seronok, sama-sama tentang cinta segi tiga, dan sama-sama novel pembangun jiwa. Bedanya, tokoh utama AAC lelaki (Fahri), sedangkan tokoh utama TTD perempuan (Salsabila). Uniknya, keduanya terbit pada tahun yang sama, 2004.
Novel Ayat-Ayat Cinta (2004), mungkin, adalah sebuah keajaiban. Novel pertama seorang penulis muda, tapi mampu meraih posisi megabestseller nasional dalam waktu sangat singkat, melampaui Saman –novel sekuler karya Ayu Utami. Sebuah keajaiban yang memancar dari suara moral, dari kepatuhan terhadap ajaran-ajaran agama. Dalam Alquran, Tuhan telah berpesan, barangsiapa membela agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan melimpahkan rezeki baginya.
Dari sisi finansial pun tampak adanya keajaiban. Hingga saat ini, Ayat-Ayat Cinta telah memasukkan royalti lebih dari Rp 1,5 miliar bagi Kang Abik. Perhitungan kasarnya, dengan harga jual rata-rata Rp 43 ribu per eksemplar (setelah didiskon 10 persen), dan dengan royalti 12 persen, jika 350 ribu eksemplar terjual habis, maka Kang Abik akan mengantongi royalti Rp 1,8 miliar.
Bagi penulis Indonesia, jumlah royalti itu tentu sangat spektakuler, dan terbesar sepanjang sejarah royalti penulis Indonesia. Belum lagi royalti dari edisi Malaysia, pembelian hak cipta untuk film (novel itu telah difilmkan), dan edisi bahasa Inggrisnya nanti.
Melalui AAC, Kang Abik telah membuktikan, bahwa seorang penulis Indonesia bisa menjadi kaya hanya dari sebuah novel. Dan, luar biasanya, Kang Abik tetap hidup sederhana, bahkan tidak tergiur untuk membeli mobil mewah misalnya. Karena, hampir semua royalti dari novelnya itu dimanfaatkannya untuk membangun pesantren karya dan wirausaha, Pesantren Basmalla.
Dengan begitu, membeli novel AAC berarti ikut ber-amar ma’ruf nahi munkar bersama Kang Abik. Maka, dari sisi kemaslahatannya tersebut, tepatlah kalau Insani Undip menobatkannya sebagai novelis nomor satu di Indonesia saat ini.
(Ahmadun Yosi Herfanda)
Sumber: republika.co.id

JAKARTA — Siapa mengira penulis buku novel Islami Ayat-ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy, meraih royalti dari buku-bukunya hingga Rp 1,5 miliar. Hal itu disampaikan Tommy Tamtomo, Direktur Utama Penerbit Republika dalam acara bedah buku di Gramedia Matraman, Jakarta beberapa waktu lalu.
“Kami baru saja mencetak 10 ribu eksemplar untuk persediaan tahun depan, tapi sudah habis duluan,” kata Tommy. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Republika ini sejak Desember 2004 itu kini sudah dicetak 30 kali dengan total buku mencapai 300 ribu buku.
Tommy menduga, permintaan terhadap buku itu akan terus mengalir karena saat ini film Ayat-ayat Cinta akan diputar di bioskop. Film itu dibintangi Rianti Cartwright dan Zaskia Mecca dan disutradarai Hanung Bramantyo.
Habibburahman atau biasa dipanggil Kang Abik hingga kini telah melahirkan enam novel. Selain Ayat-ayat Cinta, ia juga sudah menelurkan buku: Ketika Cinta Berbuah Surga, Di Atas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Bertasbih Episode 1, Nyanyian Cinta, Ketika Derita Mengabadikan Cinta.
Untuk menghadapi permintaan buku-buku Habiburrahman, kini Penerbit Republika berencana menerbitkan Ayat-ayat Cinta edisi hardcover. Novel ini juga sudah dicetak di Malaysia, dan segera menyusul di Kanada dan Australia. (dea)
Sumber: http://www.halo-halo.com