Bisnis Penerbitan


Buku panduan Haji dan Umrah yang berjudul “Keagungan Makkah dan Madinah” mulai diminati masyarakat Indonesia yang berada di Hongkong. Pada awalnya ada salah seorang warga Indonesia di Hongkong yang memiliki buku itu dan dibawa ke Hongkong. Kemudian ada beberapa orang yang tertarik dengan buku itu sehingga memesan beberapa eksemplar. Selanjutnya ada lagi pemesanan untuk buku tersebut.

Buku “Keagungan Makkah dan Madinah” memang dibuat tidak terlalu tebal dan menggunakan bahasa ringan sehingga mudah untuk dipahami siapa saja, terutama bagi mereka yang ingin mengetahui seluk beluk kota Makkah dan Madinah, sebelum berziarah ke Kota Suci umat Islam ini dalam rangka menunaikan ibadah haji dan umroh.

Selain itu, buku “Keagungan Makkah dan Madinah” juga memuat kisah-kisah yang dialami orang-orang yang menunaikan ibadah haji dan umroh sehingga dapat menjadi inspirasi dan motivasi untuk menunaikan ibadah haji dengan khusyuk.

Bagi yang tertarik dengan buku “Keagungan Makkah dan Madinah” dapat memesannya via sms ke nomor 081542179705 atau lewat e-mail: yasir.maqosid@gmail.com

Iklan

Sebagai departemen yang memiliki kepedulian terhadap urusan haji dan umroh, Depag Pusat akhirnya memutuskan untuk membeli buku Keagungan Makkah dan Madinah. Menurut salah seorang pegawai Depag, buku Keagungan Makkah dan Madinah isinya sangat bagus, apalagi disertai dengan gambar-gambar tempat bersejarah di Makkah dan Madinah. Selain itu, menariknya lagi ada kisah nyata yang dialami oleh para jamaah haji sehingga bisa menjadi pelajaran berharga bagi calon jamaah haji dan umroh yang akan berangkat ke tanah suci.

Dengan membeli 200 eksemplar buku Keagungan Makkah dan Madinah, secara tidak langsung Direktorat Bimbingan Pelaksanaan Ibadah Haji Departemen Agama Pusat telah berusaha untuk memberikan informasi yang sangat bermanfaat bagi jamaah haji dan umroh. Terutama sekali direktorat yang dipimpin oleh Drs Abdul Ghafur Djawahir tersebut selalu berusaha untuk memberikan pelayanan kepada jamaah haji dan umroh secara maksimal.

Buku Keagungan Makkah dan Madinah merupakan karya self-publishing saya yang pertama. Saya mencetaknya sebanyak 1000 eksemplar dan alhamdulillah sudah terjual lumayan banyak. Minimal bisa nutup modal. he  he he he

Ada beberapa pembaca situs ini yang menanyakan, Bagaimana cara menerbitkan buku? Bagaimana proses mendirikan penerbitan buku? Bagaimana perhitungan bisnis penerbitan buku? Dan pertanyaan lain yang serupa. Baiklah, saya akan menguraikan tentang penerbitan buku berikut kalkulasi bisnisnya.

Untuk mendirikan penerbitan buku, terlebih dahulu dilihat seberapa besar modal yang dimiliki. Jika modalnya kurang dari 50 juta, berarti yang diterbitkan adalah buku-buku yang tidak terlalu tebal (kisaran 100 – 200 halaman), dengan asumsi menerbitkan satu buku secara rutin. Selain itu, tidak perlu mengalokasikan dana untuk kantor ataupun mengangkat pegawai tetap, cukup di out sourching, yaitu mempekerjakan karyawan free lance. Sebab, jika modal segitu digunakan untuk sewa gedung dan mengangkat karyawan tetap, maka akan menghabiskan modal itu sendiri sehingga keberlangsungan usaha akan terancam.

(lebih…)

money_tree_colorMungkin hal ini menurut sebagian penulis maupun penerbit dianggap sensitif, namun sebelum ada akad kesepakatan, sebaiknya tentang royalti ini dibicarakan secara tegas dan jujur, supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari.

Berapa rata-rata royalti penulis buku? Jawabnya adalah relatif, tergantung seberapa tenar penerbit yang akan menerbitkan karya tersebut, juga seberapa besar nama dari penulis. Penerbit Islam yang lumayan besar di Bandung misalnya, memberi royalti 10 % dari harga jual buku setelah dipotong pajak 15 %. Artinya, jika buku dibandrol Rp. 50.000, berarti penulis mendapatkan maksimal Rp 5000 per buku. Mengapa ada kata maksimal? Karena biasanya penerbit memberi diskon kepada toko buku sebesar 30 % sampai 50 %, sehingga royalti penulis pun dihitung dari situ. Jika buku itu didiskon 50 % misalnya, berarti harga jual buku itu 25.000 sehingga 10 % nya berarti Rp. 2.500.

Ada pula penerbit yang mematok royalti dari harga netto. Dan besarannya tergantung masing-masing penerbit. Misalnya di salah satu penerbit Islam di Jakarta mematok 12,5 % dari harga netto. Sedangkan harga netto adalah 50 % (atau menurut kesepakatan) dari harga jual tertinggi. Dalam kasus di atas, berarti 50 % dari 50.000 yaitu Rp. 25.000. Sedangkan 12,5 % nya berarti Rp. 3.125.

Selain royalti, biasanya penulis juga berhak mendapatkan buku pada cetakan pertama dan cetakan berikutnya. Di penerbit tempat saya bekerja misalnya, penulis mendapatkan buku secara gratis sejumlah 10 eksemplar pada cetakan pertama, sedangkan pada cetakan kedua dan seterusnya mendapatkan 3 buku gratis per cetak.

Sekarang saatnya mengandai-andai. Jika buku yang Anda tulis terjual laris manis seperti yang dialami Andrea Hirata, sedangkan harga bukunya adalah 60.000, maka Anda akan mendapatkan Rp. 6000 per buku. Jika terjual 500.000 eksemplar, maka Anda berhak mendapatkan 3 Milyar rupiah. Sangat besar bukan?

Jadi, apakah Anda tertarik menulis buku? Jika ya, maka bergegaslah, sebelum niat Anda mengendur dan dunia perbukuan menjadi lesu karena dampak krisis global J

Harga Kertas Melambung, Kenaikan Gaji pun Urung

Kertas merupakan komponen utama dalam bisnis penerbitan buku, sehingga jika harganya naik, tentu akan berakibat pada naiknya ongkos produksi dan menyebabkan harga buku juga akan naik. Akhir-akhir ini, kertas selain harganya bertambah mahal juga pasokannya mulai berkurang.

Harga kertas sekarang ini sudah naik 30 %, sedangkan komponen percetakan buku seperti tinta, film, dll juga naik sehingga ongkos cetak bertambah mahal. Akibatnya, perusahaan penerbitan harus melakukan langkah-langkah antisipatif menghadapi hal ini. Salah satunya adalah dengan menaikkan harga buku. Hampir semua buku (kecuali baru terbit) mengalami “rasionalisasi” harga, dari mulai 20% hingga 70%. Meskipun penerbit menyadari daya beli masyarakat menurun, akan tetapi kenaikan harga juga tidak bisa diabaikan mengingat cost yang naik.

Namun ada satu hal yang tidak mengenakkan dari kenaikan harga kertas ini. Salah satunya adalah ditundanya kenaikan gaji karyawan. Sedianya kenaikan gaji karyawan dilakukan setiap tahun. Namun karena situasi tidak memungkinkan, kata para manager dan direktur, sehingga kenaikan pun ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan J. Mungkin bagi karyawan yang sudah berpenghasilan besar hal ini tidak menjadi soal, akan tetapi bagi karyawan dengan gaji pas-pasan akan sangat berpengaruh dampaknya. Ibaratnya, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah sulit, apalagi dengan kenaikan harga sembako yang membumbung tinggi. Sementara mereka biasanya juga tidak punya penghasilan di luar, jadi yang diharapkan adalah “belas kasih” dari kebijakan para petinggi perusahaan untuk sedikit mengerti keluh kesah mereka.

Mudah-mudahan situasi seperti ini tidak lama berselang, semoga fajar cepat menjelang, dan mentari memancarkan sinarnya yang terang benderang. Akhirnya, kesabaran adalah hal yang harus dilakukan. Karena hakikatnya karyawan hanyalah seseorang yang dituntut terus berKARYA tanpa dapat melaWAN.