Saat lebaran kemarin, aku diminta oleh pengurus Pondok Pesantren Syafi’i Akrom untuk menetap di sana. Tugasku adalah untuk menjadi pengawas para santri yang ada. Dengan luas areal mencapai 3,6 Hektar, sebenarnya pondok ini punya potensi yang sangat strategis. Di situ juga sudah ada Play Group, Puskesmas, dan Koperasi yang bergerak di bidang usaha penjualan susu sapi, paving, bengkel mobil, dan batubara. Selain itu, di situ juga sudah ada SMK dengan tiga jurusan; informatika, otomotif, dan tata busana yang jumlah seluruh siswanya mencapai 600 orang. Dari jumlah tersebut, rencananya siswa laki-laki yang sudah kelas 3 diwajibkan mondok.

Oleh karenanya, perlu orang yang stand by 24 jam di pondok itu. Dan, pilihan itu jatuh padaku. Sungguh bukan beban yang ringan. Apalagi sebelumnya pondok tersebut menjadi sengketa pengurusnya.

Memang berat rasanya meninggalkan dunia buku yang sudah aku geluti semenjak 4 tahun yang lalu. Namun, meskipun aku tidak lagi bekerja secara full time di Pustaka Al-Kautsar—perusahaan yang selama ini menjadi tempatku bernaung—tapi aku ingin tetap eksis walau sebagai freelancer. Mungkin dengan ini, aku punya banyak waktu untuk menulis buku, bukan hanya menjadi editor atau penerjemah.