Sukses novel Ayat-ayat Cinta yang diangkat ke layar lebar, diikuti pula dengan sukses Laskar Pelangi, novel karya Andrea Hirata. Bahkan, diprediksikan jumlah penonton film yang mengambil setting Belitong ini akan melampaui film yang turut mempopulerkan Poligami. Fenomena seperti ini jelas menggugah para penerbit buku berlomba-lomba memvisualisasikan karya andalannya.

Dalam waktu dekat, kabarnya novel Kambing Jantan akan diangkat ke layar lebar. Sementara itu, Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-Shirazy lainnya sudah mendekati masa terakhir audisi dan sebentar lagi mulai syuting. Ada pula kabar bahwa kawan lama di Al-Azhar, Aguk Irawan, novelnya akan diangkat ke layar lebar (judulnya saya lupa).

Diprediksikan pada tahun depan, prospek novel di dunia penerbitan buku masih sangat bagus. Bahkan, ada kecenderungan industri film akan mendekati para penerbit untuk mengangkat karya tulisan dalam bentuk visual. Hal ini merupakan berkah besar bagi penerbit. Selain mendongkrak penjualan bukunya, juga merupakan promosi gratis. Apalagi brand penerbit buku akan terangkat ketika ada bukunya difilmkan.

Bagaimana dengan penerbit buku Islam seperti Pustaka Al-Kautsar? Insya Allah kita juga akan mengikuti trend ini, bukan karena latah, tetapi ingin menyemarakkan dunia perbukuan sambil berdakwah. Terbukti, sukses Ayat-ayat Cinta mampu memberikan gambaran Islam yang indah. Bahkan, poligami yang biasanya sering dihujat, dalam film tersebut sepertinya “ditoleransi” oleh para ibu-ibu. Bukankah dakwah tidak terbatas lewat lisan dan tulisan saja? Sekarang zamannya visual, dan saatnya mengaji di Bioskop. Mungkinkah?