Oktober 2008


Tak terasa hampir setahun lamanya blog penerbitanbuku.wordpress.com beroperasi. Dari mulai sedikit pengunjung, yang hanya 5 hits perhari, sekarang rata-rata sudah mencapai 300-400 hits perhari. Terakhir, pada bulan Oktober ini tercatat lebih dari 10.000 hits. Memang masih sangat kecil jika dibandingkan dengan blog-blog lainnya, apalagi jika dibandingkan dengan blog yang lebih interaktif.

Adapun statistik blog ini sebagai berikut:

Hit bulan November 2007: 24

Hit bulan Oktober 2008: 11.066

Jumlah komentar: 957

Jumlah postingan: 166

Insya Allah, ke depannya blog ini akan diisi dengan sesuatu yang lebih bermanfaat lagi, khususnya seputar dunia penulisan dan perbukuan di Indonesia. Bagi pengunjung, silakan meninggalkan komentar, saran, dan kritik atas blog ini, agar lebih baik lagi.

Admin

Yasir Maqosid

Pada pameran Indonsia Book Fair 2008 kali ini akan menampilkan kebudayaan Minangkabau, Sumatera Barat. Pada Indonesia Book Fair sebelumnya telah ditampilkan budaya Irian Jaya, dan kebudayaan dari propinsi-propinsi Indonesia lainnya.

Di Tengah resesi global akibat kredit perumahan di Amerika yang “salah urus” ini, industri penerbitan buku akan diuji. Apakah tetap survive ataukah justru terpuruk. Sekarang ini dampak resesi global sudah mulai dirasakan, terutama oleh golongan the have. Selain harga saham yang turun, juga nilai tukar rupiah yang melemah hingga tembus Rp. 11.000 per dolar. Tak pelak, hal ini akan berpengaruh pula terhadap daya beli masyarakat, sehingga “buku mahal” akan sulit terjangkau.

Biasanya, penerbit kecil di pameran Indonesia Book Fair tidak terlalu antusias. Selain karena sewa stand yang mahal, juga biasanya pengunjung tidak terlalu membludak seperti halnya Islamic Book Fair ataupun Pesta Buku Jakarta. Biasanya pameran ini lebih bertujuan untuk mempromosikan buku dan mengangkat image penerbit. Karena, jika mengandalkan pada hasil penjualan selama pameran, akan sulit menutup biaya operasional. Ataupun jika untung, tidak terlalu melimpah. Beda halnya dengan Islamic Book Fair, yang hasil penjualannya selama pameran sangat menyenangkan hati.

Namun, semua itu tidak menyurutkan niat penerbit untuk mencerdaskan bangsa sambil “berdagang ide”. Pustaka Al-Kautsar misalnya, kali ini akan menampilkan buku-buku andalannya seperti: Inspiring Women, The Lady di Conspirasy, Umar The Great Leader, dll. Tak kalah hebohnya adalah buku kontroversial berjudul Mengungkap Rahasia Jaringan Cinta Terlarang Kaum Homoseksual. Buku yang membongkar fenomena homoseksual di Indonesia, baik melalui jaringan nyata maupun jaringan maya, pastinya akan sangat menarik dibaca, terutama sejak mencuatnya kasus mutilasi Very Idam yang dikenal dengan Ryan.

Mari kita sama-sama mengunjungi Indonesia Book Fair yang akan digelar mulai tanggal 12 hingga 16 Oktober, bertempat di Jakarta Convention Centre (JCC). Buka mulai pukul 10.00 hingga 21.00. Keterangan selengkapnya dapat dilihat di website resminya (sayangnya berbahasa Inggris) di www.indonesiabookfair.com Adapun lokasi stand dapat dilihat sini


Resensi buku Membongkar Rahasia Jaringan Cinta Terlarang Kaum Homoseksual

Judul : Membongkar Rahasia Jaringan Cinta Terlarang Kaum Homoseksual
Penulis : Rama Azhari & Putra Kencana
Penerbit : Hujjah Press
Tahun Terbit : Oktober, 2008
Halaman : 182

Kasus mutilasi yang dilakukan oleh Very “Ryan” Idham menghebohkan masyarakat Indonesia. Terutama setelah terungkap bahwa ternyata salah satu motif pembunuhan itu karena cemburu, dan ironisnya lagi adalah yang dicemburui adalah sesama lelaki. Ya, Ryan adalah seorang homoseksual, alias penyuka sesama jenis.
Fenomena homoseksual ternyata bukan sesuatu yang ditabukan, terutama oleh masyarakat Amerika dan Eropa. Sebagaimana dijelaskan di buku ini, ternyata para pemuka agama Yahudi dan Kristen dengan terang-terangan mengaku dirinya adalah gay. Pemimpin agama Yahudi yang mengidap kelainan homoseksual antara lain: Rabbi Lionel Blue, Rabbi Malka Drucker, Rabbi Steven Greenberg, dll (halaman 31) Sedangkan di agama Kristen, Gene Robinson (seorang gay) dilantik menjadi uskup di Keuskupan New Hampshire Amerika Serikat (halaman 167).
Di Indonesia sendiri, banyak sekali tempat bertemunya para homoseksual yang dikenal dengan istilah “ngeber” (lihat halaman 73-87) Bahkan ada pula persatuan orang-orang homo yang dikenal dengan nama Gaya Nusantara dengan dewan pembina Dede Oetomo, Julia Suryakusuma, dll (lihat halaman 92-95).
Selain dunia nyata, dunia maya merupakan sarana paling strategis bagi berkumpulnya para penyuka sejenis ini. Tercatat ada beberapa situs yang digunakan sebagai forum, website resmi, bahkan juga situs-situs jejaring sosial. Dan, hal ini sangat memprihatinkan.
Memang homoseksual adalah penyakit, yang jika mau berobat dengan tekun, Insya Allah akan sembuh. Banyak orang yang punya ketertarikan terhadap sesama jenis, namun setelah menikah dan punya anak, perilakunya ini sedikit demi sedikit hilang. Paling penting adalah bagaimana masyarakat sekitar mau peduli terhadap orang yang punya kecenderungan homoseksual dengan tidak mencemoohnya, tetapi berusaha menyadarkannya dengan cara yang bijaksana.
Buku ini menurut saya bagus untuk dibaca. Selain memaparkan fenomena homoseksual, juga mengangkat bagaimana cara menyembuhkan kelainan seksual ini. Sayangnya, kenapa penulis buku ini (Rama Azhari & Putra Kencana???) tidak disebutkan biodatanya sehingga bagi para pembaca bisa berdialog ataupun konsultasi seputar permasalahan homoseksual dan penyembuhannya. Namun, bagaimanapun juga buku ini memberikan sumbangsih dalam dunia perbukuan dan dapat memberikan pencerahan bagi para pembacanya.

Mungkin orang tidak merasa aneh jika di negara-negara maju, profesi penulis sudah digeluti secara profesional karena bisa mendatangkan profit yang bukan hanya cukup untuk “sesuap nasi” tetapi juga cukup untuk “sepiring berlian”. Kita ambil contoh, J.K. Rowling yang dari novelnya menghasilkan triliunan rupiah. Sehingga dengan profesinya ini, dia bisa duduk santai tanpa bekerja lagi hingga maut menjemput sembari menikmati rumah megahnya seharga 80 Miliyar di London.

Bukan hanya di luar negeri, tetapi kini di Indonesia kita temukan para penulis yang menghasilkan milyaran rupiah. Sebagai contoh, Habiburrahman El-Shirazy yang novel Ayat-ayat Cinta -nya mampu terjual lebih dari 400.000 eksemplar dan mendapat royalty lebih dari 1,8 Miliyar. Itu belum termasuk royalty untuk film-nya dan undangan ceramah yang tiada henti-hentinya dan tak pelak mengalirkan pundi-pundi rupiah dengan derasnya. Selain novel Ayat-ayat Cinta, novel karyanya yang lain juga menuai sukses. Salah satunya adalah Ketika Cinta Bertasbih 1 yang terjual 150 ribu kopi daam jangka waktu satu tahun.

Selain Habiburrahman kita juga mengenal nama Andrea Hirata yang sukses melalui novel Laskar Pelangi. Pada cetakan terbarunya, tertulis bahwa novel ini sudah terjual 500.000 kopi. Ini artinya, sedikitnya 2 Miliyar rupiah sudah memenuhi tabungannya. Sedangkan untuk bedah buku maupun bicara sastra, dia “dihargai” 50 juta untuk sekali “panggilan”. Selain itu, novel-novel lainnya (Sang Pemimpi dan Edensor) juga laris di pasaran.

Sukses menulis buku, ternyata tidak hanya dialami penulis fiksi (novel), tetapi juga dirasakan oleh penulis non-fiksi. Salah satunya adalah Ary Ginanjar yang buku ESQ –nya terjual 750.000 kopi. Padahal buku itu diproduksi sendiri, sehingga keuntungannya bisa diraup secara maksimal. Jika seorang penulis mendapat royalty 6-10% dari harga bruto, maka jika buku itu diterbitkan sendiri, paling tidak bisa meraup 20-50% dari harga bruto. Itulah keuntungan yang ditangguk dari menerbitkan sendiri atau dikenal dengan Self Publishing.

Ada pula penulis yang kemarin sempat membuat heboh karena mempromosikan bukunya dengan menebar uang dari udara. 100 juta rupiah ia tebarkan dari helikopter untuk memompa penjualan bukunya. Tung Dasem Waringin, nama penulis itu pasti tidak merasa rugi “membuang-buang” uangnya karena—menurut sebuah sumber—bahwa untuk menulis buku itu dia mendapat bayaran 2 Miliyar rupiah di muka.

Tetapi kesuksesan seperti itu tidak dinikmati oleh setiap penulis buku. Bahkan penulis yang bukunya sudah puluhan bahkan ratusan, belum tentu “bernasib baik” seperti itu. Sedangkan buku sukses seperti Laskar Pelangi ataupun ESQ dihasilkan oleh penulis yang baru menulis satu buku. Dengan demikian, sukses penjualan buku tidak ditentukan oleh berapa banyak buku yang ditulis, tetapi lebih dari itu adalah isi (konten) dari buku tersebut. Dan, yang paling menentukan tidak lain adalah nasib baik atau biasa dikenal takdir.

Jika Anda sering menjelajah internet untuk menghasilkan uang, tidak ada salahnya Anda pelajari teknik-tekniknya. Sebelum melangkah, alangkah baiknya jika Anda mempelajari bisnis internet ini dari mereka yang sudah terjun langsung. Untuk belajar bisnis internet tidak harus bayar, karena banyak sekali e-book yang bisa Anda dapatkan secara gratis.

Di blog ini Anda juga akan menemukan beberapa e-book tentang bisnis internet yang semoga dapat bermanfaat. Misalnya e-book tentang ragam bisnis internet, panduan klik dibayar dollar, dan masih banyak lainnya.

Lebih lengkapnya dapat Anda lihat di sini. Selamat mendownload!

Sukses novel Ayat-ayat Cinta yang diangkat ke layar lebar, diikuti pula dengan sukses Laskar Pelangi, novel karya Andrea Hirata. Bahkan, diprediksikan jumlah penonton film yang mengambil setting Belitong ini akan melampaui film yang turut mempopulerkan Poligami. Fenomena seperti ini jelas menggugah para penerbit buku berlomba-lomba memvisualisasikan karya andalannya.

Dalam waktu dekat, kabarnya novel Kambing Jantan akan diangkat ke layar lebar. Sementara itu, Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-Shirazy lainnya sudah mendekati masa terakhir audisi dan sebentar lagi mulai syuting. Ada pula kabar bahwa kawan lama di Al-Azhar, Aguk Irawan, novelnya akan diangkat ke layar lebar (judulnya saya lupa).

Diprediksikan pada tahun depan, prospek novel di dunia penerbitan buku masih sangat bagus. Bahkan, ada kecenderungan industri film akan mendekati para penerbit untuk mengangkat karya tulisan dalam bentuk visual. Hal ini merupakan berkah besar bagi penerbit. Selain mendongkrak penjualan bukunya, juga merupakan promosi gratis. Apalagi brand penerbit buku akan terangkat ketika ada bukunya difilmkan.

Bagaimana dengan penerbit buku Islam seperti Pustaka Al-Kautsar? Insya Allah kita juga akan mengikuti trend ini, bukan karena latah, tetapi ingin menyemarakkan dunia perbukuan sambil berdakwah. Terbukti, sukses Ayat-ayat Cinta mampu memberikan gambaran Islam yang indah. Bahkan, poligami yang biasanya sering dihujat, dalam film tersebut sepertinya “ditoleransi” oleh para ibu-ibu. Bukankah dakwah tidak terbatas lewat lisan dan tulisan saja? Sekarang zamannya visual, dan saatnya mengaji di Bioskop. Mungkinkah?

E-book tentang akidah ini ditulis oleh Habib Munzir Al-Musawa, dai yang ceramahnya sekarang lagi digandrungi anak muda Jakarta. Beliau memiliki komunitas yang disebut Majlis Rasulullah.

Berikut ini E-book tentang akidah yang beliau bagikan secara gratis. Bisa didownload di sini atau di sini