Agustus 2008


LATAR BELAKANG
Dalam 10 tahun terakhir telah terjadi penyusutan lahan pertanian
rakyat hingga mencapai 1,1 juta ha. Hingga kondisi tersebut
berpengaruh pada produksi hasil-hasil pertanian, terutama di Pulau
Jawa yang selama ini telah menjadi sentra pertanian pangan.
Maka pada PJP II ini Departemen Pertanian melakukan reorientasi dari
pendekatan produksi ke pendapatan petani dengan konsep AGRIBISNIS.

Berdasarkan hal tersebut maka visi pertanian 2020 adalah mewujudkan
sector pertanian yang tangguh, modern dan efisien dengan ciri:
1. pemanfaatan sumber daya pertanian secara optimal dan
berkelanjutan
2. penerapan diversifikasi pertanian yang komprehensif
3. penerapan rekayasa teknologi spesifik local yang dinamis
4. peningkatan efisiensi usaha dengan system agribisnis

Memasukki abad 21 pertanian di Indonesia sudah mampu menguasai
teknologi tinggi, padat modal dan memiliki nilai tambah untuk
bersaing. Sehingga pertanian tidak lagi dipandang kotor, jauh dari
kota, kelompok ekonomi lemah dan tidak memiliki masa depan yang
bagus. (lebih…)

Sebuah penerbitan buku yang berkembang pesat membutuhkan seorang Editor Naskah
dengan kualifikasi sebagai berikut:

– Berpendidikan minimal S-1 bisnis/manajemen
– Memiliki pengalaman mengedit naskah buku, minimal 3 (tiga) buku
– Menguasai Bahasa Inggris minimal pasif
– Usia maksimal 35 tahun

Kirimkan surat lamaran dan CV Anda ke:

Hubungi:
Hari Wahyudi
PPM Manajemen Publishing
Jl. Kembang Raya No. 8B
Kwitang Jakarta 10420
Telp. 021-3901695
Hp. 081310266477

Untuk informasi selanjutnya silakan menghubungi alamat di atas. Blog penerbitan buku tidak punya kewenangan apa pun terhadap informasi di atas.

Menyambut bulan suci Ramadhan banyak sekali aktivitas di sekeliling kita yang ‘berubah’ menjadi Islami. Dari mulai sms yang isinya ajakan agar menyambut bulan ini dengan ketakwaan, pengajian di masjid-masjid yang semakin meriah, juga para aktris yang dulunya berpakaian seronok sekarang pakai jilbab.

Dunia perbukuan juga ikut diramaikan buku-buku seputar bulan Ramadhan dan puasa. Tengok misalnya ada buku berjudul “Merindukan Bulan Ramadhan” Ada pula buku tentang Ramadhan yang dikaitkan dengan sejarah Nabi. Buku berjudul “Ramadhan Bersama Nabi” ini menceritakan bagaimana Rasulullah melalui bulan suci ini dengan beribadah dan berjihad.

Tentang makna Ramadhan juga ada buku yang menceritakannya yaitu buku berjudul 30 Renungan Ramadhan. Buku ini memaparkan apa makna di balik puasa Ramadhan dan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan. Dengan perenungan yang mendalam diharapkan kita bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Semoga di bulan suci ini kita semakin mendekatkan diri kepada Allah. Bagi kawan-kawan yang sering maupun yang tidak sengaja mengunjungi blog penerbitanbuku ini, saya haturkan permintaan maaf, mungkin ada postingan yang kurang berkenan di hati para pembaca sekalian.

Marhaban Ya Ramadhan, Syarus Shiyam wa Syahrul Qiyam.

Banyak kejadiaan aneh yang dialami para jamaah haji dan umroh. Kejadian tersebut terkadang tidak bisa dijangkau oleh akal. Hal ini untuk menunjukkan kekuasaan Ilahi atas makhluk-Nya di muka bumi.

E-book Gratis berjudul Misteri di Tanah Suci ini semoga bisa menambah keimanan kita dan mempertebal keyakinan terhadap Sang Kuasa. Silakan mendownload di sini dan sebarkan kepada yang lain supaya juga mendapatkan manfaat seperti yang Anda peroleh.

Silakan download di sini

7 Alasan Self Publising
Profesi penulis di negara kita belum terlalu dihargai dan belum bisa dijadikan pendapatan tetap, tidak sebagaimana di negara-negara maju. Seorang penulis di Barat semisal J.K. Rowling bisa mengumpulkan kekayaan hingga triliunan rupiah hanya dari hasil menulis. Sementara di negara kita, seperti itu masih sekadar mimpi semata. Pihak yang paling menangguk untung paling besar dari sebuah buku biasanya adalah distributor buku ataupun penerbit. Penulis hanya mendapat ampasnya. Maka penulis yang ingin berpenghasilan lebih mau tidak mau harus bisa menjual bukunya sendiri dan perlu menerbitkan karyanya secara self-publishing. Adapun alasan kenapa penulis perlu menerbitkan karyanya sendiri adalah sebagai berikut:
1. Bebas berekspresi
Ketika naskah sudah digarap oleh penerbit, terkadang ada hal-hal yang harus dipotong dan disesuaikan dengan standar penerbit. Misalnya jika penerbit menghendaki pola pikir yang pro pasar, sementara penulis punya idealis yang tidak terlalu mempertimbangkan apakah pasar akan menerimanya atau tidak. Maka dengan self publising, penulis lebih bebas mengekspresikan tulisannya tanpa ada campur tangan pihak lain.
2. Tidak bergantung pada pihak lain
Bagi penulis yang belum punya nama, biasanya akan dipandang sebelah mata oleh penerbit. Apalagi jika karyanya adalah karya yang pertama, sementara dia belum punya nama, pasti penerbit akan berpikir seribu kali untuk menerbitkan naskah tersebut. Meskipun menurut penulis, naskahnya berpotensi meledak. Dengan adanya self publising, penulis langsung bisa menerbitkan karyanya tanpa harus bergantung pada “belas kasihan” penerbit.
3. Tidak menunggu keputusan pihak lain
Hal yang paling menjengkelkan dalam hidup ini adalah menunggu dan menunggu. Apalagi jika menunggu atas sesuatu yang belum tentu. Ketika penulis mengajukan naskahnya ke penerbit, biasanya diberi janji untuk menghubungi kembali sebulan kemudian. Dan, kadang sebulan pun belum ada jawaban dari penerbit dengan alasan ini dan itu. Sementara penulis “dipaksa” dengan setia menunggu putusan penerbit. Jika jawabannya, naskah Anda diterima, tentu kebosanan rasa bosan menunggu hilang sudah. Akan tetapi jika jawabannya, naskah Anda tidak bisa kami terbitkan dengan alasan ini dan itu. Sungguh menyakitkan!
4. Mendapat pengalaman berharga
Memang menerbitkan naskah sendiri tantangan yang dihadapi lebih berat daripada naskah diterbitkan penerbit. Mulai dari menggarap naskah sendiri, mengedit sendiri, melay out sendiri, mencari percetakan sendiri, hingga menjual sendiri, merupakan kerja yang melelahkan. Namun setiap tetesan keringat yang terkucur punya nilai tersendiri karena Anda punya pengalaman yang sangat berharga. Pengalaman yang tidak akan didapatkan dari membaca buku, dari cerita orang lain, bahkan dari nasehat orang bijak sekalipun. Dengan pengalaman itulah seseorang akan terasah jiwanya menghadapi segala tantangan.
5. Kepuasan tiada tara
Ketika naskah self publising sudah benar-benar menjadi buku, perasaan puas tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Seperti tersadar dari mimpi Anda akan berucap, benarkah aku bisa melakukan ini? Benarkah ini adalah karyaku? Sungguh aku tidak bisa menyangka bisa melakukan seperti ini. Setiap lembar buku yang Anda buka, terbayang tetes-tetes keringat yang mengiringi naskah tulisan hingga menjadi buku. Dan yang namanya kepuasan tidak bisa dinilai dengan uang!
6. Gengsi tersendiri
Ketika buku sudah jadi, dan Anda menawarkan kepada orang lain, ada gengsi tersendiri. Ternyata Anda tidak hanya bisa menjual ide yang masih abstrak, tetapi dapat juga menjual buku yang ditulis dalam bentuk riil. Anda tidak bergantung pada orang lain merupakan suatu nilai plus tersendiri. Bahkan ketika bersama kawan-kawan Anda bisa berseru, “Yess, aku bisa!”
7. Keuntungan materi lebih besar
Jika penulis yang menyerahkan naskahnya kepada penerbit hanya mendapatkan royalti yang tidak seberapa, maka yang Anda dapatkan dengan self publising jauh lebih besar lagi. Sebagai simulasi, harga buku Rp. 50.000, jika Anda menyerahkan kepada penerbit, paling-paling dapat royalti antara 5%-15%. Berarti Anda hanya dapat Rp. 2500-7500 per buku. Tapi dengan self publishing, Anda hanya menyisihkan 25% untuk ongkos cetak dan biaya produksi lainnya. Sedangkan yang 75% adalah milik Anda. Artinya Anda akan mengantongi Rp. 37500 per buku. Angka itu setara dengan 10 kali lipat royalti yang akan Anda dapatkan jika menyerahkan naskah ke penerbit. Jadi, tunggu apalagi, sudah saatnya penulis seratus persen mandiri, menggarap naskah dan menjualnya sendiri. Selamat meniti tangga sukses!