Dunia perbukuan semakin hari semakin menggeliat. Hal itu terbukti dengan banyaknya penerbitan buku baru yang bermunculan. Baik penerbitan yang dikelola secara profesional, maupun yang amatiran, bahkan yang berpola self-publishing.

Moment-moment pameran selalu dinantikan oleh para penerbit buku untuk memajang karya-karya terbaiknya maupun produk-produk terbaru. Bukan itu saja, pameran merupakan ladang strategis bagi penerbit untuk mendapatkan uang kontan. Tak heran, penerbit “kaki lima” seperti IBS lebih mengandalkan pameran dan penjualan langsung daripada sistem distribusi dengan pola konsinyasi. Uang cash, meskipun sedikit lebih bisa menghidupi penerbit daripada menunggu uang dari toko buku yang biasanya baru cair minimal 4 bulan setelah buku dikirim.

Namun sebenarnya moment pameran jangan hanya dijadikan ajang jualan saja, tetapi mestinya harus diiringi dengan pengedukasian pengunjung, terutama para maniak buku. Penerbit harus membuktikan bahwa industri buku bukan semata-mata mencari keuntungan materi, namun juga memberi sumbangsih bagi pencerdasan bangsa.

Oleh karenanya, event seperti bedah buku, seminar, talk show dan lainnya harus benar-benar mengedukasi pengunjung, bukan hanya sarana “ngecap” atas buku yang dibedah. Pemateri bedah buku harus memberikan pencerahan kepada masyarakat dengan melempar ide-ide segar demi kemajuan bangsa. Karena, idealisme para penulis masih ditunggu masyarakat menjadi ujung tombak kebangkitan bangsa dari multi krisis yang menimpa Indonesia dewasa ini.

Dalam waktu dekat ini, di Jakarta akan digelar Pesta Buku Jakarta yang bertempat di Jakarta Convention Centre dari tanggal 28 Juni sampai 6 Juli 2008. Semoga pameran buku kali ini membawa pencerahan sekaligus melahirkan para penulis dan insan perbukuan yang dapat membangkitkan kembali Indonesia dari keterpurukan. Mari kita jadikan pameran kali ini sebagai lahan membangun Indonesia melalui buku.

Iklan