Akhir-akhir ini penerbit buku dihadapkan pada dua kondisi sulit. Pertama, harga bahan baku berupa kertas, tinta, dan lain-lain. Kedua, daya beli masyarakat yang menurun karena pengarung naiknya harga BBM.
Menaikkan harga buku merupakan pilihan tidak terhindari dari penerbit buku. Ada yang naik 20% sampai ada yang naiknya mencapai 50% hingga 70 %. Padahal, penerbit sendiri juga yakin bahwa dengan harga normal saja, pembeli lebih memprioritas kebutuhan sembako daripada buku, apalagi jika harga dinaikkan. Menyikapi hal ini, penerbit dituntut kreativitasnya supaya tetap survive di masa-masa sulit.
Salah satu hal yang harus dilakukan penerbit adalah seoptimal mungkin mengerahkan “laskar penjualan” untuk melakukan penjualan dengan sistem direct selling, artinya tidak menggantungkan harapan pada toko buku. Sebab, sudah bisa diprediksikan bahwa masyarakat tidak terlalu antusias untuk mengunjungi toko-toko buku seperti Gramedia maupun Gunung Agung. Mereka lebih prioritas pada kebutuhan pokok. Selain itu, sistem direct selling dapat memangkas harga jual buku. Kita tahu bahwa toko-toko buku mengambil 40% sampai 50% (bahkan sampai 60%) dari harga jual. Dengan adanya direct selling, maka buku bisa dijual langsung ke konsumen dengan diskon hingga antara 30% hingga 50%. Selanjutnya, dengan adanya direct selling penerbit juga akan mendapat uang cash. Sebagaimana kita tahu, bahwa menitipkan produk di toko-toko buku biasanya menggunakan sistem konsinyasi dengan pembayaran sistem 1+3. Artinya, sebulan setelah prodok dititipkan penerbit akan mendapat laporan dari toko buku tentang jumlah yang terjual, dan akan diberikan giro untuk dicairkan 3 bulan mendatang.