Sebenarnya sebelum pemerintah menaikkan harga BBM bulan April lalu, penerbit buku sudah mengalami kendala dengan naiknya harga bahan baku, yaitu kertas, tinta, dll. Sedangkan paska kenaikan BBM, kondisi yang dialami penerbit buku semakin berat. Harga bahan baku semakin tinggi, transportasi menjadi naik, dan tuntutan karyawannya untuk menaikkah upah tidak urung membuat wajah penerbitan buku semakin “kusut”.

Beberapa penerbit buku sudah mulai “merampingkan” karyawannya dan juga mulai mengencangkan ikat pinggang dengan memangkas biaya-biaya yang dinilai kurang perlu. Selain itu, daya beli masyarakat yang semakin rendah semakin membuat penerbit kalang kabut karena tiadanya uang cash sebagai motor penggerak roda bisnisnya.

Tapi, apakah semua penerbit mengalami kondisi yang memprihatikan ini? Jawabnya, mayoritas penerbit ya. Terutama penerbit yang juga punya mesin cetak. Ia akan kewalahan mengingat harga bahan baku yang melambung, sementara ia tidak bisa memberhentikan mesin cetaknya yang perlu “makanan”. Namun, penerbit buku yang tidak punya mesin cetak juga sudah mulai menaikkah harga bukunya, meskipun mereka menyadari daya beli masyarakat semakin melemah.

Marilah kita tunggu pameran Pesta Buku Jakarta yang akan diselenggarakan pada tanggal 28 Juni 2008 di JCC ini. Pameran ini paling tidak bisa jadi barometer seberapa besar daya beli dan minat masyarakat terhadap buku. Kita juga perlu menuggu apakah masyarakat sekarang masih memilih buku dengan perwajahan menawan yang konsekuensinya harganya pun mahal, ataukah memilih buku murah dengan desain sederhana?

Semoga bisnis perbukuan tidak terpuruk sebagaimana bisnis-bisnis lainnya.