Ruangan itu tidak terlalu lebar, hanya berukuran 4 x 4 meter. AC yang dingin tidak mampu mendinginkan perasaan tim redaksi yang masing-masing kepala memiliki argumen tersendiri. Ada sebagian yang ingin meloloskan buku dengan tema radikal dengan argumen, buku itu akan booming di pasaran. Di saat yang sama, salah seorang tim berpendapat bahwa jika buku itu diterbitkan, maka penerbitnya yang akan menghadapi amuk massa yang tidak sedikit. Terakhir, diputuskan buku harus keluar juga, karena “missi dakwah” harus dijalankan. Biarpun pahit, tapi perkataan yang benar harus disampaikan, begitu alasan yang dikemukakan.
Demikianlah sepenggel fenomena rapat redaksi di penerbit buku. Masing-masing punya argumen dan merasa punya missi yang harus disampaikan. Walau harus bertabrakan dengan pihak lain.
Maraknya penerbit buku Islam di tanah air, juga berimbas kepada pemahaman masyarakat terhadap Islam. Penerbit, selain memproduksi buku sebagai “ladang uang”, juga menganggap buku sebagai “ladang dakwah”. Sehingga masing-masing penerbit punya genre dan punya missi yang ingin disampaikan.
Mizan, penerbit Islam terbesar di Indonesia, selain menerbitkan buku-buku motivasi dan Islam universal, juga sesekali menampilkan wajah aslinya yang diduga keras sebagai aliran Syiah. Memang, missi penerbit ini tidak terlalu kentara bagi orang awam. Namun, jika mau dicermati penerbit ini selalu mengusung corak Iranisme yang sudah dapat ditebak sebagai aliran Syiah. Contoh sederhana, Mizan menerbitkan kisah hidup Khadijah, kisah hidup Fathimah, dan istri Nabi Mariyatul Qibthiyyah. Tapi kenapa tidak menerbitkan kisah hidup Aisyah, yang juga diterbitkan penerbit-penerbit lainnya?
Urutan kedua penerbit buku Islam, mungkin masih dipegang oleh penerbit GIP. Alirannya adalah Islam yang berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan Hadits. Mengingat pemiliknya adalah anak seorang ustadz Al-Irsyad, maka buku-bukunya pun tidak jauh dari dakwah Al-Irsyad. Seiring dengan perjalanan waktu, dimana penerjemahnya adalah seorang pengikut tasawwuf yang juga aktivis partai dakwah, maka buku-bukunya pun lebih “berwarna”, tidak dimonopoli oleh satu golongan.
Sedangkan penerbit Islam lainnya yang cukup besar adalah Pustaka Al-Kautsar. Pada awalnya, genre penerbit ini cenderung kepada aliran “salafi”. Terbukti banyak buku karya Ibnu Qayyim yang diterbitkan. Juga banyak tulisan Hartono Jaiz yang menghebohkan dan membuat panas kelompok lain yang dianggap “menyimpang”. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, penerbit ini juga banyak mempublikasikan karya Yusuf Al-Qaradhawi, yang dahulunya adalah seorang aktivis Ikhwanul Muslimin di Mesir. Akibatnya, penerbit ini tidak lagi melulu salafi, dan lebih cair. Bahkan, sekarang ini sepertinya sedang “perang syaraf” dengan kelompok “Salafi Seram” pimpinan Ustadz Lukman Ba’abduh yang menulis “Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij”, dengan meluncurkan buku “sejuk di luar, panas di dalam” dengan title “Belajar Dari Akhlak Ustadz Salafi”.
(Bersambung)

Iklan