Bejo baru saja menyelesaikan editing buku setebal 600 halaman word di komputernya. Dia lalu meneliti ulang, adakah kesalahan yang perlu diperbaiki sebelum diserahkan ke setter. Setelah yakin, barulah dia menambahkan gambar-gambar yang diambilnya dari internet untuk melengkapi estetika buku yang sudah diedit. Dia juga perlu menyisipkan caption untuk mempercantik buku. Selanjutnya, dia menyerahkan copy hasil editingnya kepada setter.

Setter dengan sigap mengolah file yang “polos” dari editor menjadi buku di komputernya. Meskipun tidak berbekal pendidikan estetika, tetapi setter dituntut untuk berkreasi sendiri sehingga buku yang terbit nanti memiliki cita rasa seni. Cukup dua hari buku diolah dan diserahkan kembali kepada editor.

Sementara Bejo masih harus berpikir masukan apa yang harus diberikan kepada desain kaver untuk divisualisasikan dalam bentuk kaver yang eye chatching. Dia juga harus berpikir judul apa yang pas untuk bukunya supaya menggugah emosi pembaca untuk membeli.

Sesaat merenung, tiba-tiba dering telpon berbunyi. Bejo harus menerima penulis yang menyerahkan naskahnya dan memberi apresiasi sekaligus menjanjikan bukunya akan dirapatkan sebulan lagi. Jika diterima maka penulis akan dihubungi, jika ditolak pun akan ditelpon bahwa naskahnya tidak layak terbit. Sesekali dia juga harus browsing untuk mencari naskah buku bagus yang diharapkan “meledak” di pasaran.
Tugas Bejo belum selesai, dia harus mengoreksi ulang hasil dari setter dan menyerahkan hasil koreksi kedua kepada setter untuk dibuat Dummy. Tugasnya belum selesai. Dia masih harus mengawal proses sampai menjadi sebuah buku yang “tanpa-kritik” atau “minim-kritik”. Setiap kesalahan akan menjadi tanggung jawabnya.

Itulah pekerjaan seorang Bejo sebagai editor buku. Dengan fasilitas dan gaji pas-pasan, dia dituntut menjadi profesional. Dia harus memasak buku bercita rasa “bintang lima” dengan upah “kaki lima”. Bejo dituntut menjadi editor multifungsi, karena itu menjadi trend penerbitan masa kini. Namun, Bejo melakukannya dengan senang hati, karena yang dia kerjakan bukan semata-mata untuk dirinya, tetapi untuk memajukan bangsa dengan sesuatu yang bisa dikerjakannya. Hanya buku yang bisa dipersembahkannya, untuk negara yang sangat dia cinta.

Iklan