Diambil dari tulisan Bambang Trim di milist editor Indonesia:

Editor pemerolehan yang merupakan padanan dari
acquiring editor adalah sebuah harapan bagi penerbit
guna meniscayakan ketersediaan naskah. Naskah
merupakan bahan baku utama dalam proses penerbitan dan
sumbernya adalah para penulis serta pengarang. Karena
itu, beberapa penerbit yang berorientasi pada jangka
panjang membentuk Bank Naskah sebagai lembaga stok
naskah.

Sebegitu susahkah naskah dicari sehingga diperlukan
komitmen dan kerja khusus untuk mendapatkannya? Mari
kita tilik empat usaha penerbit dalam mendapatkan
naskah.
1. Usaha pasif yaitu usaha menunggu kiriman naskah
dari penulis/pengarang. Naskah yang diterima biasa
disebut unsolicited atau naskah yang tidak
direncanakan terbit.
2. Usaha aktif yaitu usaha mencari dan menelusuri
sumber-sumber naskah secara langsung. Naskah yang
diterima biasa disebut solicited atau naskah yang
sudah direncanakan sebelumnya.
3. Work-Made-for- Hire yaitu usaha mengadakan naskah
dengan melibatkan internal penerbit, misalnya editor
yang diminta untuk menulis topic tertentu.
4. Usaha penerjemahan yaitu usaha mengalihbahasakan
buku-buku yang sudah terbit di luar negeri.

Usaha pertama sudah banyak ditinggalkan oleh beberapa
penerbit besar karena pasif menunggu tidak menjamin
bisa memperoleh naskah yang diharapkan. Kerapkali
naskah yang datang secara tidak diundang adalah
naskah-naskah “sampah” yang malah merepotkan
redaksi untuk mengembalikannya.

Usaha kedua dan seterusnya adalah usaha yang kini
paling relevan untuk dilakukan di tengah ketatnya
persaingan mendapatkan naskah antarpenerbit. Untuk
itu, penerbit yang proaktif mendapatkan naskah
memerlukan kerja seorang editor pemerolehan atau
acquiring editor.

Dalam hal ini seorang acquiring editor memang harus
berjibaku memenuhi target kuantitas pemerolehan
naskah. Seorang editor pemerolehan haruslah seseorang
yang peka terhadap tren dan kecenderungan, punya
naluri seperti detektif atau wartawan, dan memiliki
jaringan luas. Dengan demikian, ia bisa bergerak
lincah setiap hari menelusuri sumber-sumber naskah
yang tersembunyi.

Berikut adalah jaringan pengadaan naskah yang perlu
dikuasai oleh seorang editor pemerolehan:
1. jaringan selebritis untuk mendapatkan naskah
biografi, autobiografi, refleksi, maupun keterampilan
hidup;
2. jaringan pejabat publik untuk mendapatkan naskah
biografi, autobiografi, kebijakan publik, refleksi;
3. jaringan akademisi untuk mendapatkan naskah buku
teks, pendidikan, biografi, autobiografi, penelitian;
4. jaringan jurnalis/media massa untuk mendapatkan
naskah informasi, peristiwa, pengetahuan praktis,
ataupun keterampilan hidup;
5. jaringan profesional untuk mendapatkan naskah
motivasi, kepemimpinan, manajemen, pengalaman, dan
keterampilan hidup.
6. jaringan pengusaha untuk mendapatkan naskah kiat,
entrepreneurship.
7. jaringan intelektual/ cendekiawan untuk mendapatkan
naskah refleksi, biografi, autobiografi, penelitian,
dan pendapat.
8. jaringan rohaniawan untuk mendapatkan naskah
spiritual, pencerahan, biografi, autobiografi.
9. jaringan sastrawan untuk mendapatkan naskah puisi,
novel, cerpen, dan drama.

Untuk menguasai jaringan tersebut, seorang editor
pemerolehan harus proaktif menguasai berbagai
sumber-sumber informasi seperti berikut ini:
1. media massa cetak yang harus dibaca setiap hari
yang meliputi koran nasional serta majalah berita
ataupun majalah spesifik yang relevan;
2. internet dengan mengunjungi situs-situs yang
relevan serta juga ikut dalam milist-milist relevan
atau juga mengadakan situs maupun blog sendiri;
3. buku-buku best seller ataupun buku-buku karya
penulis yang akan diincar untuk dimintai naskah;
4. katalog-katalog penerbit, baik dari dalam negeri
maupun dari luar negeri;
5. seminar/pelatihan/ lokakarya yang pantas untuk
diikuti guna memburu para narasumber untuk menulis
naskah.

Cara kerja proaktif ini memerlukan perencanaan yang
matang dari seorang editor pemerolehan. Sebuah
perencanaan pengadaan naskah hendaknya diikuti dengan
GAGASAN TOPIK/JUDUL, PROFIL NARASUMBER YANG TEPAT,
PROFIL PENULIS PENDAMPING (APABILA DIBUTUHKAN), serta
MOMENTUM PENERBITAN.

Dalam hal ini seorang editor pemerolehan juga mutlak
harus memahami:
1. jenis-jenis naskah, yaitu fiksi, nonfiksi, dan
faksi;
2. jenis-jenis kerangka (outline), yaitu tahapan,
butiran, aliran, dan tanya-jawab.

***

Kriteria seperti yang disebutkan sebelumnya memang
tidak gampang dilakoni seorang editor pemula. Akan
tetapi, bukan sesuatu yang juga tidak bisa dikuasai.
Kegigihan seorang editor untuk mau belajar dan
berusaha adalah kunci bagi peningkatan
profesionalitasnya di samping juga kunci bagi
kesuksesan penerbit. Karena itu, penerbit yang serius
mestinya menginvestasikan modal untuk peningkatan
profesionalitas editor lewat pembinaan, pelatihan, dan
pengarahan. Di sisi lain, editor yang serius juga
harus berani mengajukan diri sebagai orang yang pantas
menjadi kader penerbitan masa mendatang.

Bambang Trim
praktisi perbukuan nasional

Iklan