Harga Kertas Melambung, Kenaikan Gaji pun Urung

Kertas merupakan komponen utama dalam bisnis penerbitan buku, sehingga jika harganya naik, tentu akan berakibat pada naiknya ongkos produksi dan menyebabkan harga buku juga akan naik. Akhir-akhir ini, kertas selain harganya bertambah mahal juga pasokannya mulai berkurang.

Harga kertas sekarang ini sudah naik 30 %, sedangkan komponen percetakan buku seperti tinta, film, dll juga naik sehingga ongkos cetak bertambah mahal. Akibatnya, perusahaan penerbitan harus melakukan langkah-langkah antisipatif menghadapi hal ini. Salah satunya adalah dengan menaikkan harga buku. Hampir semua buku (kecuali baru terbit) mengalami “rasionalisasi” harga, dari mulai 20% hingga 70%. Meskipun penerbit menyadari daya beli masyarakat menurun, akan tetapi kenaikan harga juga tidak bisa diabaikan mengingat cost yang naik.

Namun ada satu hal yang tidak mengenakkan dari kenaikan harga kertas ini. Salah satunya adalah ditundanya kenaikan gaji karyawan. Sedianya kenaikan gaji karyawan dilakukan setiap tahun. Namun karena situasi tidak memungkinkan, kata para manager dan direktur, sehingga kenaikan pun ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan J. Mungkin bagi karyawan yang sudah berpenghasilan besar hal ini tidak menjadi soal, akan tetapi bagi karyawan dengan gaji pas-pasan akan sangat berpengaruh dampaknya. Ibaratnya, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah sulit, apalagi dengan kenaikan harga sembako yang membumbung tinggi. Sementara mereka biasanya juga tidak punya penghasilan di luar, jadi yang diharapkan adalah “belas kasih” dari kebijakan para petinggi perusahaan untuk sedikit mengerti keluh kesah mereka.

Mudah-mudahan situasi seperti ini tidak lama berselang, semoga fajar cepat menjelang, dan mentari memancarkan sinarnya yang terang benderang. Akhirnya, kesabaran adalah hal yang harus dilakukan. Karena hakikatnya karyawan hanyalah seseorang yang dituntut terus berKARYA tanpa dapat melaWAN.

Iklan