Pesatnya pertumbuhan dunia buku di Indonesia, tak ayal membuat penerbit harus berlomba-lomba dalam hal inovasi produk. Buku, sekarang tidak hanya sekadar kertas yang “dimeriahkan” dengan aksara dan gambar. Akan tetapi sudah menjadi life style yang bukan saja dijadikan rujukan akan tetapi untuk meningkatkan status sosial. Muslimah tidak akan dianggap gaul, jika belum membaca Ayat-ayat Cinta. Remaja gaul belum dianggap melek informasi, jika belum menyimak Laskar Pelangi.
Ditambah lagi inovasi di bidang perbukuan dalam segi pengemasan, membuat penerbit harus melek informasi terhadap perkembangan terkini, jika tidak mau menjadi pecundang dalam “pertarungan” menarik simpati pembaca.
Sudah selayaknya penerbit, khususnya editor dan staf redaksi, mengagendakan jalan-jalan ke toko buku untuk melihat perkembangan dunia perbukuan saat ini. Dengan adanya jalan-jalan ini, akan membuka mata dan mengasah intuisi yang merupakan bagian termahal dari seorang editor. Sebab, sukses tidaknya produk yang dilempar ke pasar tidak akan terlepas dari sentuhan kreatif editor sebagai “juru masak” penerbit.
Kebetulan sekali, hari ini perusahaan tempat saya bekerja menggiatkan editornya untuk menghirup udara segar sekaligus menyedot energi untuk bisa ditransfer dalam proses kreatifnya sebagai “kuli aksara”.
Jalan-jalan ke toko buku Gramedia di Matraman dan Gunung Agung di Kwitang setidaknya memberi inspirasi untuk modal mengolah intuisi. Ternyata, pengemasan buku sudah sedemikian kreatif, terutama di toko buku Gramedia yang mendisplay buku-buku “berwajah unik” di tempat tersendiri.
Saya sempat membeli buku terbaru Bambang Trim yang covernya sangat inovatif. Buku yang bernuansa coklat dan menghadirkan titik-titik dengan teknik spot membuat buku ini kelihatan ciamik. Ada pula buku tentang pengalaman selebriti yang sudah (baru?) berjilbab dengan menyertakan CD dan dikemas dengan cover menarik.
Di toko Gramedia sendiri dengan telanjangnya memasang banner lelaki “telanjang” untuk mempromosikan komik yang menggelitik. Kalau tidak salah, komik ini bertengger di urutan teratas penjualan toko buku Gramedia di seluruh Indonesia.
Jadi, apakah boss perusahaan perlu menjalan-jalankan editornya untuk berbelanja ilmu? Jawabnya, jika si boss ingin editornya semakin maju, maka jawabnya adalah harus!