Anak-anak muda belia itu berbaur dengan ratusan ibu-ibu dan orangtua. Banyak dari anak muda itu masih berseragam sekolah, remaja wanita umumnya berbusana muslimah. Beberapa dari ibu-ibu menyebut diri sebagai pendidik. ”Saya datang bersama sejumlah siswa saya karena tertarik dengan buku Laskar Pelangi,” ujar seorang guru dari Bekasi
Petang itu, Kamis (6/3), Andrea Hirata penulis buku laris tersebut tampil berbicara dalam talk show ‘Menggapai Mimpi Bersama Laskar Pelangi’ di panggung utama Islamic Book Fair (IBF) 2008 di Istora Senayan, Jakarta. Andrea tampil bersama Mira Lesmana, produser film yang berniat melayarlebarkan novel berlatarbelakang pendidikan di Belitung itu.
Panggung utama IBF 2008 sesak. Tak hanya memadati bagian depan dan sekitar panggung, sebagian pengunjung sampai berjubel di balkon depan panggung yang dibatasi oleh stand-stand pameran. Bahkan, balkon bagian belakang panggung pun dipenuhi pengunjung. Mereka antusias mendengarkan penuturan Andrea sekitar proses penulisan bukunya.
Bagi Andrea Hirata, ini memang bukan kali pertama ia berdialog langsung dengan pembaca bukunya. Setelah Laskar Pelangi meledak di pasar, pria kelahiran Belitung ini bak selebriti. Namanya menjadi terkenal, wajahnya yang bulat dengan rambut ikal sudah tak asing lagi di mata banyak orang. ”Proses (penulisan) spontan saja. Kalau ada waktu, saya menulis, karena saya harus bekerja,” kata dia menjawab pertanyaan.
Rupa-rupa pertanyaan yang diajukan kepadanya. Selain proses kreatif, ada pula yang menanyakan sosok di balik cerita dalam buku itu, sampai masalah pribadi. Misalnya, soal lagu Rhoma Irama yang di dalam buku itu disebut sebagai lagu kesayangannya, tentang Aling, wanita keturunan China yang membuatnya jatuh hati, sampai ke persoalan di luar cerita dalam buku, berkaitan dengan statusnya yang hingga kini masih membujang.
Seorang siswa SMP bertanya, ”Kami kagum dengan prestasi yang diraih Lintang –salah seorang anggota Laskar Pelangi. Sekarang bagaimana?” Andrea mengatakan, Lintang dan anggota Laskar Pelangi lainnya menolak untuk tampil di depan umum. ”Karena menjadi perhatian publik sungguh tidak mudah,” ucap Andrea.
Bagaimana dengan Aling? Andrea mengakui, soal ini banyak ditanyakan kepadanya di berbagai kesempatan. Sebagaimana sebelumnya, kali ini ia masih tak memberikan jawaban tegas. Dia hanya berujar, ”Tunggulah di Mariamah Karpov.”
Mariamah Karpov adalah novel keempat yang tengah ditulisnya, melengkapi tiga novel sebelumnya. ”Ini novel yang paling sulit karena tentang perempuan,” lanjut dia. Andrea memastikan buku keempatnya itu akan memuat kisah tentang perempuan, yang tebalnya mencapai sekitar 700 halaman.
in Action
Sadar bahwa Laskar Pelangi bukanlah bentukan dirinya, Andrea Hirata enggan mengonsumsi hasil penjualan bukunya untuk pribadi. Laskar pelangi adalah panggilan ia dan teman-temannya oleh sang guru tercinta. Maka, royalti penjualan buku tetraloginya dialokasikan untuk dunia pendidikan. ”Kami berikan seluruhnya untuk Laskar Pelangi in Action,” kata Andrea.
Laskar Pelangi in Action adalah program pendidikan yang diadakan Andrea sebagai upaya pengembalian semangat pendidikan. Pasalnya SD Muhammadiyah, tempat ia bersekolah di Belitong, sudah tidak ada lagi. ”Sudah rata dengan tanah,” ujar dia.
Laskar Pelangi in Action adalah program belajar intensif bagi kelas 3 SMP dan 3 SMU. Semacam bimbingan belajar. Mereka mendapatkan pelajaran intensif untuk mata pelajaran Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, dan Bahasa Inggris. Program tersebut mulai efektif pada Mei mendatang.
Seberapa besar royalti yang diberikan, Andrea tidak menyebutkannya dalam angka. Ia hanya menyebutkan, dari buku bagian pertama tetraloginya, sudah beredar hampir 500 ribu eksemplar. Manajer Andrea, Dhipie Kuron menambahkan, untuk setiap buku yang dijual, Andrea mendapatkan royalti 15 persen. ”Semuanya untuk Laskar Pelangi In Action. Termasuk juga nanti royalti dari filmnya,” ujar dia.
Film
Laskar Pelangi saat ini tengah dalam proses pembuatan film. Andrea mempercayakan pembuatannya kepada Mira Lesmana dan Riri Riza. Direncanakan film tersebut beredar tahun ini, beriringan atau akan diikuti dengan buku terakhir tetralogi, Maryamah Karpov.
Menurut Mira, Laskar Pelangi merupakan buku yang sangat sinematik. ”Cara Andrea menjelaskan, semua berkesan untuk dibuat fllm. Banyak kejadian menarik,” ucapnya. Bagi Mira, medium buku berbeda dengan film. Apalagi, cerita dalam buku Laskar Pelangi panjang, sehingga sulit untuk film. Namun, dia mengakui, ini suatu sinergi yang menarik. Andrea, disebutnya, menyerahkan naskah bukunya untuk diterjemahkan ke dalam sineas. ”Yang penting, jangan sampai pembaca bilang, kita tidak mendapatkan yang baru. Nanti orang bilang, mending baca bukunya saja,” tuturnya.
Mira menjelaskan Laskar Pelangi punya akar cerita yang dalam film akan betul-betul terbangun, membawa kita memahami hidup lebih baik lagi. ”Walaupun Andrea memberi kebebasan naskah bukunya diinterpretasi, tapi kami tidak jalan kalau tidak ada persetujuan Andrea. Itu jaminan awal,” kata Mira. bur/ria

Diambil dari (Sumber): republika.co.id

Iklan