Berkeliling Sabtu-Ahad di arena IBF, sungguh memberi
impresi tersendiri. Silaturahmi dengan teman-teman
pekerja perbukuan, silaturahmi dengan sesama penulis
dan editor, dan yang dahsyat silaturahmi dengan
gagasan-gagasan baru luar biasa penerbit buku Islam.

Buku Islam tidak terpengaruh dengan Permendiknas- -yang
membuat ketar-ketir penerbit buku pelajaran. Buku
Islam tidak terlalu khawatir dengan pendeknya jalur
distribusi dan terbatasnya space toko buku. Bahkan,
terkadang negatifnya buku Islam tidak peduli dengan
hak cipta, tidak peduli dengan editing, dan tidak
peduli dengan kemasan. Namun, kondisi negatif dalam
satu tahun terakhir ini berangsur-angsur membaik.

Ini seperti sebuah berkah lain untuk negeri bernama
Indonesia. Serombongan teman-teman dari Malaysia yang
dimotori sahabat saya, Fauzul Na’im (dari PTS) datang,
bahkan turut serta juga Ibu Ainoon, seorang penulis
selebriti self-improvement di Malaysia. Mereka
tertarik oleh magnet buku Islam Indonesia yang konon
luar biasa hebat perkembangannya. Mimpi mereka bisa
membawa pulang right karya-karya hebat anak bangsa,
sembari buku-buku mereka pun bisa berterima di publik
pembaca Indonesia.

Di sudut kecil Kenanga 6, berbarengan dengan stand
gabungan IKAPI, sebuah penerbit baru menarik
perhatian. Cicero Publishing tampil perdana dengan
satu Quran (desainnya fungky sekali)dengan
diferensiasi highlight ayat-ayat doa. Kemudian, ada
empat buku lagi dengan desain mengikat mata dan
judul-judul yang mengundang rasa ingin tahu.

Di beberapa tempat tampak penerbit yang tahun lalu
belum ada dalam jagat perbukuan Indonesia, tampil
tiba-tiba dengan sejumlah judul yang powerful. Di
depan dan bagian dalam istora, masih ditempati
penerbit-penerbit papan atas ataupun rising star
dengan semangat yang tidak kalah dari
penerbit-penerbit baru. Ada Mizan, Pena, Republika,
GIP, dan banyak lagi.

Di beberapa titik ada penerbit-penerbit spesialis buku
murah yang entah kapan masih bertahan dengan buku-buku
mereka, seperti Irsyad Baitus Salam dan Jabal. Mereka
obral buku dengan bandrol yang sanga masuk harga
psikologis pembaca Indonesia: 10.000 dan 20.000.

Lalu, apa buku yang menjadi bintang di IBF tahun ini?
Bintang buku-buku Islam masih merata jika tidak ingin
menyebutkan “Ayat-Ayat Cinta” masih digjaya. Buku-buku
tentang keajaiban segala shalat masih laku. Buku-buku
yang mengharu biru hati wanita seperti Khadijah dan
Aisyah juga tetap menjadi primadona. Buku-buku anak
Islam juga bergerak cepat. Buku-buku karya ulama,
ustad, dan kiai masih juga dicari. Dan tentu Quran
adalah buku yang abadi dicari dan diminati yang
sekarang tampil dengan segala diferensiasi, termasuk
tajwid berwarna.

Saya duduk di coffee shop berbincang sekitar 30 menit
dengan Hendra Setiawan, pemilik Jabal. Setelah itu,
bergegas ke Ruang Anggrek untuk acara bedah buku.
Lantai atas yang dulu agak lengang, kini juga dipadati
booth dan pengunjung. Lepas bedah buku “Magnet
Muhammad saw” bersama dr. Tauhid Nur Azhar, saya pun
bergegas menuju stan MQS. Buku-buku Aa Gym masih juga
diminati meskipun masih tampak seorang ibu dengan raut
tanpa ekspresi ketika suaminya minta persetujuan
membeli buku Aa (he-he-he). Di depan stan Cicero saya
bertemu Mas Chris dari DR dan berbincang sebentar
tentang fenomena buku akhir-akhir ini. Selepas itu,
bergegas makan siang ditemani Arul Khan, seorang
penulis pesohor juga dan terhenti sebentar ketika
seorang penulis bernama Pak Miswan meminta saya
menunggu untuk sekadar menghadiahkan buku karyanya
kepada saya. Wah, sungguh dunia yang dinamis dan
menyenangkan.

Terbayang pada tahun 1997-2000 dulu ketika saya masih
setia ikut menjaga booth di setiap pameran buku dari
pukul 7 hingga 10 malam setiap hari. Dari sinilah saya
merasa mengikuti gelombang dahsyat perbukuan nasional,
menyimak langkah penerbit dari masa ke masa, dan
bersilaturahmi dengan banyak orang yang membawa
antusias.

Semoga gambaran cerah ini adalah refleksi masa depan
bangsa kita yang makin kokoh dengan antusiasme untuk
iqra — menghimpun ilmu dari manapun. Terima kasih.

Bambang Trim
praktisi perbukuan nasional

Iklan