Maret 2008


Maghfirah Pustaka dan Nakhlah Pustaka membuka lowongan freelance
sebagai:
1. Editor (diutamakan yang menguasai bahasa Arab)
2. Editor buku anak-anak
3. Desainer cover buku

Kami percaya Anda yang mempunyai visi serta misi untuk berkarya dan
mencerdaskan umat, siap bergabung dengan kami.

Kirim lamaran Anda
1. melalui email ke
maghfirahpustaka@yahoo.com
dengan subject: LAMARAN Editor/disainer

2. Harap dilengkapi dengan pengalaman atau karya anda.

Billah fi sabilil haq
Manajer

MOHON MAAF, LOWONGAN INI SUDAH DITUTUP

Iklan

Bedah buku al-Qur’an Kitab Toleransi; Insklusivisme, Pluralisme, dan Multikulturalisme, Karya Zuhairi Misrawi, di Paramadina.
Hari/Tanggal : Jum’at, 28 Maret 2008
Waktu : 19:00-22:00
Tempat : Audiotorium Paramadina, Jl. Gatot Subroto, Kav. 96-97
Moderator : Muhammad Bakir (Wartawan Kompas)
Pembicara : Kang Jalal, Pak Said Aqil Siraj, Pak Amien Abdullah, dan Pendeta Albertus Patty

VACANCY COPY EDITOR

Kami mengundang Anda untuk bergabung dengan Penerbit Pena sebagai
copyeditor untuk buku-buku Islam nonfiksi.
Persyaratan:

– Pria/wanita usia 20—30 thn.
– Pendidikan sarjana.
– Beragama Islam, kreatif, dan berpikiran terbuka.
– Memiliki wawasan keislaman.
– Memiliki wawasan dalam dunia perbukuan.
– Memahami kaidah bahasa Indonesia dengan baik.
– Memiliki pengalaman dalam dunia penerbitan.
– Diutamakan yang memiliki kemampuan menulis.
– Diutamakan yang menguasai bahasa asing (Arab atau Inggris).
– Dapat mengoperasikan komputer dan microsoft office.
– Dapat bekerja sama dengan baik di dalam tim.
– Dapat bekerja dalam tenggat waktu.

Tugas utama adalah editing naskah sesuai dengan gaya selingkung,
menjaga konsistensi naskah, menyusun dan mengemas naskah secara
sistematis, serta melakukan editing ejaan dan tanda baca.

Aplikasi paling lambat kami terima pada hari Jumat, 11 April 2008.

Lamaran dapat dikirimkan ke

Departemen HRD
PT Pena Pundi Aksara
Jln. Cempaka Putih Tengah XVIII No. 12
Cempaka Putih, Jakarta Pusat, 10510
Tlp. (021) 4240328
Faks. (021) 42789625

Ada hubungan yang menarik antara dunia perbukuan, khususnya buku sastra, dengan surat kabar (koran). Banyak sekali buku sastra yang terbit di Indonesia –baik kumpulan cerpen, esai, puisi, maupun novel– berasal dari karya-karya yang telah dipublikasikan di surat kabar.Karya-karya sastra tersebut umumnya sengaja ditulis untuk rubrik-rubrik sastra di surat kabar, kemudian disunting dan diterbitkan menjadi buku. Banyak di antaranya bahkan menjadi buku penting, fenomenal, dan bestseller. Sebut saja, misalnya, Ca Bau Kan karya Remy Silado
dan Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy — keduanya pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Republika.

Beberapa surat kabar yang memiliki divisi penerbitan buku, sering menerbitkan sendiri karya-karya sastra yang telah dimuatnya. Republika, beberapa kali membukukan cerpen-cerpen yang telah dimuat di rubrik Sastra. Antara lain, Pembisik yang menghimpun karya-karya cerpenis ternama, seperti Umar Kayam, Danarto, Putu Wijaya, dan Nh Dini. Kemudian, Dokumen Jibril yang menghimpun cerpen-cerpen para perempuan penulis –sejak yang muda sampai yang senior seperti Titie Said– serta Tarian dari Langit yang menghimpun cerpen-cerpen berlatar tsunami Aceh.Selain itu, beberapa novel yang telah dimuat sebagai cerita bersambung (cerber) di surat kabar kita ini juga telah diterbitkan oleh Penerbit Republika. Salah satu novel yang mendapat sambutan luar biasa dari pembaca adalah Ayat-ayat Cinta.

Namun, banyak juga novel penting yang setelah dimuat sebagai cerber di Republika akhirnya terbit di luar lembaga penerbit tersebut, misalnya Tamu karya Wisran Hadi, Pasar karya Kuntowijoyo (Bentang), Asamaraloka karya Kuntowijoyo (Pustaka Firdaus), Ca Bau Kan dan Kerudung Merah Kirmizi karya Remy Silado (Gramedia), serta Sintren karya Dianing Widya Yudhistira (Grasindo). Semuanya menjadi karya-karya penting dalam sejarah sastra Indonesia.Memang tidak semua karya sastra yang telah dimuat di surat kabar akhirnya dibukukan oleh surat kabar yang bersangkutan. Pengarangnya pun bebas menerbitkannya melalui penerbit manapun, karena tidak memiliki “ikatan hak cipta” dengan surat kabar bersangkutan.

Pihak surat kabar biasanya hanya memberikan royalti atas pemuatan karya tersebut, dan bukan pembelian hak cipta.Karena itu, buku karya sastra yang terbit di luar lembaga penerbit surat kabar yang telah memuatnya jumlahnya justru lebih banyak. Apalagi, tidak semua surat kabar memiliki divisi penerbitan buku. Pengumpulan ataupun penyuntingan karya-karya semacam ini biasanya dilakukan sendiri oleh pengarangnya, dan dia pula yang kemudian menawarkannya kepada penerbit. Namun, tak jarang, pihak penerbitlah yang meminta kepada pengarangnya.Tidak jarang, buku-buku sastra semacam itu juga menjadi buku penting, laris, dan meraih penghargaan bergengsi. Salah satu contoh adalah buku kumpulan esai 9 Jawaban Sastra Indonesia karya Maman S Mahayana yang meraih penghargaan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara). Sebagian besar esai di dalam buku tersebut telah dimuat di berbagai surat kabar, sang penulis menghimpunnya, dan menerbitkannya di Rajawali Pers.

Dewasa ini ada pula lembaga sastra yang memberi perhatian khusus pada karya-karya sastra yang terbit di surat kabar. Salah satunya adalah lembaga baru Pena Kencana. Lembaga ini menghimpun cerpen dan sajak yang dimuat oleh surat-surat kabar di Indonesia sepanjang setahun (2007-2008). Setelah melewati seleksi dewan juri, hasilnya adalah buku kumpulan cerpen 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 dan buku kumpulan sajak 100 Puisi Terbaik Indonesia 2008.Mirip sistem seleksi Indonesian Idol, 20 cerpen dan 100 puisi itu kini diserahkan kepada publik pembaca untuk memilih satu cerpen terbaik dan satu puisi terbaik. Publik pembaca diminta untuk memilih karya melalui SMS dengan menyebut kode buku yang dibelinya dan kode karya yang dipilih (dijagokan)-nya. Tentu, agar dapat mengikuti “permainan” tersebut peserta harus membeli bukunya, sebab satu kode buku hanya dapat disertakan dalam satu kali SMS. Karya yang dapat mengumpulkan SMS terbanyak yang akan dinobatkan sebagai pemenang.

Permainan sastra ala Indonesian Idol tersebut mungkin menarik, namun rasanya kurang pas untuk dijadikan prosedur pemilihan karya sastra terbaik. Dan, itulah yang sempat menimbulkan kontroversi di kalangan masyarakat sastra. Karena, selain sistemnya yang dianggap “kurang cerdas” juga dinilai rawan manipulasi. Di antara nomine, misalnya, bisa saja sengaja memborong banyak buku dan banyak voucer HP (yang kini sangat murah), lantas mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk memenangkan karyanya. Yang lebih pas, barangkali, pemilihan karya terbaik tetap diserahkan kepada dewan juri yang benar-benar kredibel. Sedangkan pemilihan melalui polling SMS hanya pas untuk memilih “karya terfavorit” pilihan pembaca.

Hasilnya, publik sastra dapat tahu cerpen dan puisi terbaik pilihan dewan juri –yang terdiri dari para sastrawan– dan puisi serta cerpen terfavorit pilihan pembaca. Akan sangat surprise kalau ternyata hasil pilihan dewan juri sama dengan pilihan pembaca.Lepas dari “permainan” model Pena Kencana itu, terbitnya dua buku tersebut tetap penting bagi pendokumentasian “sastra koran” di Indonesia. Dibanding buku-buku dari “sastra koran” sebelumnya, kedua buku Pena Kencana tersebut tetap memiliki kelebihan. Ia tak memilih karya dari satu koran saja. Kedua buku Pena Kencana tersebut dipilih dari semua rubrik sastra surat kabar di Indonesia.

Mungkin masih ada kelemahan pada sistem penghimpunan karya dan penjuriannya. Tetapi, karena upayanya untuk merangkum semua karya (puisi dan cerpen) dari semua surat kabar yang terbit di Indonesia, jika dewan jurinya benar-benar kredibel, dengan sistem penjurian yang benar-benar objektif, hasilnya akan dapat menjadi cermin teraktual perkembangan “sastra koran” dan bahkan sastra Indonesia terkini. (Ahmadun Yosi Herfanda)
Sumber : http://www.republika.co.id

Penerbit Zahra Group (Zahra, Dastan Books & Daras Books)
membutuhkan:

1. Marketing Communication Officer

Kualifikasi:

– Pria

– Usia max 30 tahun

– Pendidikan minimal S1

– Menguasai MS Office

– Bisa berbahasa Inggris (minimal pasif)

– Supel dan komunikatif

– Berwawasan luas

– Pengalaman kerja minimal 1 tahun (tidak harus di bidang yang
sama)

2 . Staf Administrasi Umum

Kualifikasi:

– Wanita

– Usia max 25 tahun

– Pendidikan minimal D3

– Menguasai MS Office

– Bisa berbahasa Inggris (minimal pasif)

– Supel dan komunikatif

– Diutamakan yang berpengalaman.

3 . Staf Administrasi Promosi

Kualifikasi:

– Wanita

– Usia max 25 tahun

– Pendidikan minimal D3

– Menguasai MS Office

– Bisa berbahasa Inggris (minimal pasif)

– Supel dan komunikatif

– Diutamakan yang berpengalaman.

Kirim surat lamaran, CV, dan foto terbaru Anda (foto disatukan
dengan file MS Word CV) ke lowongan@zahra. co.id paling lambat 2
April 2008.

Best,
Yudi

Perkembangan dunia perbukuaan di Indonesia semakin hari semakin menggembirakan. Hal ini merupakan berkah besar bagi penerbit di Indonesia. Terutama penerbit buku-buku Islam yang semakin hari semakin inovatif menggarap produk-produknya yang berimbas pada profit dan benefit.

Namun, apakah kemajuan ini dirasakan pula oleh para penulis, penerjemah, editor, yang nota bene namanya sering menghiasi cover depan buku? Apakah mereka sudah mendapatkan profit yang seimbang dengan benefit yang mereka dapatkan?
Ketika berinteraksi dengan para penulis, kebanyakan—terutama penulis yang belum terkenal—mereka mengeluhkan karena tidak punya posisi tawar yang signifikan di hadapan penerbit. Ketika menawarkan naskah, penerbit akan memberikan jawaban—biasanya—lebih lama dari “janji” yang diberikan. Ada yang menjanjikan akan memberi jawaban dua minggu, sebulan, atau dua bulan. Namun kenyataannya, sering penulis mendapat jawaban lebih dari bulan dan bahkan sampai enam bulan!
Bukan itu saja, ketika mendapat jawaban bahwa naskahnya diterima, penulis tidak mendapatkan kejelasan tentang berapa royalti yang akan diterima dan bagaimana perjanjian akad yang akan berlangsung. Draft akan akan diberikan ketika buku sudah diterbitkan, dan penulis tidak berdaya di hadapan akan yang disodorkan untuk “segera” ditandatangani. Bagi penulis mungkin bisa bersyukur (baca: pasrah) naskahnya akhirnya menjadi buku dan berharap buku tersebut “meledak”.

Setelah buku dicetak dan terjual, laporan dari penerbit yang biasanya dijanjikan triwulan atau persemester ternyata tidak kunjung datang. Bukan itu saja, terkadang uang yang semestinya diterima karena bukunya sudah habis dan cetak ulang, ternyata belum sampai juga ke tangan penulis dengan alasan toko buku atau distributor juga belum setor uang ke penerbit. Pernah saya mendapat curhat dari seorang penulis yang bukunya sudah dicetak ulang bahkan sudah dicetak ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris (semua diurus penerbitnya) oleh penerbit yang sekarang “sedang membangun citra” tapi sepeser pun belum menerima uang dari penerbit bersangkutan. Jangankan mendapat laporan penjualan, ketika pertama buku itu terbit, bahkan hingga dicetak ke berbagai bahasa asing, belum ada sesen pun uang yang masuk ke kantongnya. Sungguh sangat ironi!

Menurut hemat saya, penulis maupun penerjemah ketika berurusan dengan penerbit harus ada kontrak hitam di atas putih yang disyahkan dengan materai. Dengan bukti itu, penulis atau penerjemah yang merasa dirugikan harus berani menuntut di depan pengadilan, sebagai pembelajaran bahwa profesi penulis tidak bisa dipermainkan begitu saja. Semoga perkembangan dunia perbukuan diimbangi pula dengan profesialisme hubungan antara penulis dan penerbit. Wallahu a’lam.

Gawe besar Penerbit Islam Indonesia ditandai dengan pameran Islamic Book Fair 2008 yang bertempat di Istora Senayan Jakarta dari tanggal 1-9 Maret. Pameran yang dibuka oleh Ibu Negara Ani SBY ini merupakan ajang penerbit buku Islam unjuk gigi serta manambah pundi-pundi koceknya.

Pameran kali ini terkesan lebih “wah” daripada tahun lalu. Dan, yang mengejutkan ada beberapa “Penerbit Balita” (Bawah lima tahun) yang penampilannya melebihi “Penerbit Dewasa” (Sudah eksis lebih dari sepuluh tahun). Sebagai contoh, penerbit Pena Pundi Aksara tampil dengan stand yang wanita banget. Warna pink yang menghiasi seluruh stand, terutama SPG-nya yaitu mbak-mbak berkerudung pink memberi kesan penerbit ini membidik segmen wanita. Bukunya yang sudah Best Seller semisal Khadijah, disusul dengan Aisyah, dan terakhir Aminah selalu ditulisi 100% untuk wanita. Al-Qur`an tajwidnya juga begitu, ada Al-Qur`an wanita, yang mana ayat-ayat wanita diberi tanda merah. Begitu pula dengan Penerbit Al-Mahira yang berada di bawah payung Penebar Swadaya dan notabene baru lahir sekitar 2 tahun lalu, mendesain standnya cukup manarik. Ditambah dengan menghadirkan penulis dari Arab Saudi untuk mengisi bedah bukunya yang baru, Tafsir Imam Asy-Syafi’i.

Sedangkan untuk buku-buku murah masih didominasi oleh stand IBS (Irsyad Baitus Salam) dan Penerbit Jabal. Di stand-stand penerbit ini banyak kita jumpai buku-buku dari 5 ribu sampai 15 ribuan. Agaknya, mereka membidik segmen kelas menengah bawah dengan tidak terlalu mengutamakan kualitas kertas, tetapi yang penting harganya bisa dijangkau masyarakat.

Sementara itu, Penerbit Dewasa seperti Mizan, GIP, dan Al-Kautsar, juga cukup memperlihatkan kelasnya. Hal ini terbukti dari stand-stand mereka yang selalu ramai pengunjung. Tetapi yang sedikit aneh, Mizan yang dulunya terkenal dengan buku-buku Islam nya sekarang ini justru yang terkenal adalah buku-buku umumnya, seperti Novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata. Selain itu, penerbit ini juga merambah segmen baru, yaitu anak muda pecinta bola. Hal ini terbukti dari terbitannya tentang Cristiano Ronaldo dan David Beckham.

Sedangkan Pustaka Al-Kautsar masih juga bergulat dengan buku-buku “panas”. Terhitung ada dua buku yang cukup provokatif, yaitu “Belajar Dari Akhlaq Ustadz Salafi” dan “Nabi-nabi Palsu”. Buku yang pertama merupakan bantahan dari buku “Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij” yang notabene merupakan kelompok Salafi. Dengan adanya buku bantahan (plus serangan) tersebut, tidak kurang dari kelompok Salafi selain Lukman Ba’abduh juga merah padam. Sedangkan buku kedua juga memanaskan pameran yang mengambil tema “Ukhuwah Membangun Kemandirian Umat” ini. Di dalam bukunya, Hartono Jaiz bukan hanya menyerang Nabi-nabi palsu, tetapi menyerang semua kelompok Islam di luar kelompoknya. Ada kelompok yang sudah dijustivikasi sesat oleh MUI seperti LDII, Islam Liberal. Namun ada juga kelompok yang sudah merakyat dan dicaci habis di buku ini. Seperti kelompok Habaib (sebutan kelompok yang mengaku masih keturuanan Rasulullah), Islam Tradisionalis, dan kelompok lainnya yang menurut Hartono melakukan bid’ah-bid’ah (bahkan kesyirikan) sehingga juga termasuk kelompok sesat dan menyesatkan.

Memang ada perbedaan style antara Penerbit Balita dan Penerbit Dewasa. Tinggal pembaca yang akan memilih, apakah ingin buku yang “menyejukkan hati” atau yang “memanaskan hati”. Karena, hidup adalah pilihan!

Laman Berikutnya »