Untuk meningkatkan penjualan atau sebagai prestise sebuah buku, terkadang perlu adanya testimoni dari tokoh ataupun artis. Begitu pula sebagai penguat bahwa buku tersebut bukan “buku biasa” perlu ada kata pengantar dari seorang pakar atau akademisi. Lantas, bagaimana sebenarnya posisi pengantar atau testimoni itu? Berikut ini jawaban dari pakar dunia perbukuan, Bambang Trim,
“Pengantar atau testimoni semacam ‘pemanis’ bagi buku untuk lebih menguatkan positioning buku. Efeknya hampir sama dengan blurb pada halaman sampul belakang atau sales copy. Ibaratnya kalau jamu tolak angin menggunakan ikon Rhenald Kasali dan Sophia Latjuba sebagai bintang iklan yang merekomendasikannya , pengantar atau testimoni tokoh pun demikian.
Sedangkan untuk mengukur mana yang lebih kuat, pengantar atau testimoni, menurut saya dua-duanya bisa sama kuatnya. Cuma pengantar lebih lengkap membahas isi, pujian, dan rekomendasi membaca buku. Testimoni hanya berupa pendapat singkat, tetapi kalau yang memberikannya adalah tokoh-tokoh bereputasi dan banyak, bisa jadi lebih kuat dari kata pengantar.”
So, bagi penulis sebelum bukunya dilaunching, alangkah baiknya jika melengkapi prestise bukunya dengan kata pengantar atau testimoni, supaya pembaca atau calon pembeli ketika sepintas melihat buku tersebut, langsung menilai buku tersebut bukan “buku kacangan”.