Mizan melakukan konvergensi media. Sejak 2001, Mizan telah melakukan uji coba. Saat itu, yang pertama dilakukan adalah eksperimen penerbitan e-book, 2001. ”Waktu disediakan secara cuma-cuma, sambutan masyarakat sangat baik. Server kami sampai down, lantaran banjirnya pembaca yang ingin mengunduh buku,” tutur Wakil Direktur Utama bidang Operasi Mizan Publika, Putut Widjanarko, di Jakarta, Kamis (14/2).

Kemarin, penerbit ini telah meluncurkan lima cara penyebaran informasi melalui konvergensi media. Yakni, Mizan-Google Book Search, http://www.mizan.com, Mizan e-Book, Mizan Fonovela, dan Mizan Talking Book.

Mizan-Google Book Search, misalnya. Bekerja sama dengan mesin pencari internet Google, menyediakan akses buku-buku terbitan Mizan Grup yang menyimpan isi dari ratusan buku. Menurut Putut, ini cara penjualan yang baik, terutama buku-buku yang lama karena toko buku memiliki ruang yang terbatas. ”Di luar negeri sudah banyak kisah sukses keterlibatan penerbit dalam Google Book Search, terutama untuk pemasaran buku-buku back titles yang biasanya relatif susah didapatkan di toko buku,” ujarnya.

Akan halnya http://www.mizan.com, situs ini memberikan informasi tentang dunia perbukuan. Mizan e-Book menyediakan buku digital tiga dimensi yang dapat diunduh melalui internet dengan format seperti buku biasa yang dapat dibuka halaman per halaman, layaknya membaca buku.

Mizan Fonovela memungkinkan novel-novel favorit bisa diakses melalui telepon seluler. Sedangkan Mizan Talking Book menghadirkan buku-buku dalam format talking book, dengan menyajikan suara di halaman-halaman buku. ”Teknologi baru telah memungkinkan konvergensi antara teknologi cetak dan digital sehingga buku-buku bisa dihadirkan dengan lebih interaktif dan bersifat multi media,” tutur Putut.

Kian beragam
Suatu kali, acara Republik Mimpi News dot Com di salah satu stasiun televisi menayangkan penggunaan internet yang murah meriah. Alatnya sederhana: Hanya menggunakan wajan dan antena kaleng. Pengguna tak perlu merogoh kocek lebih dalam hingga mesti mengeluarkan uang lebih dari Rp 1 juta untuk bisa berselancar di internet bersama tetangga.

Menariknya, di acara itu dihadirkan Onno W Purbo PhD, pelopor internet sederhana –yang disebut RT/RW-Net– tersebut. Pakar teknologi informasi ini menjelaskan cara membuatnya. Penjelasan Onno disertai peragaan menggunakan laptop.

Selesai penayangan, pekerjaan para kru acara selesai. Tapi, tidak bagi Onno. Kehadirannya di acara Republik Mimpi itu justru memberinya kesibukan baru. Tidak kurang dari 6.000 surat elektronik yang masuk ke e-mail-nya, minta penjelasan. Apa boleh buat, ia mesti membalas surat-surat tersebut dengan mengirimkan naskah penjelasan detail yang tersimpan di komputernya. ”Saya sampai kolaps,” tuturnya saat berbicara pada peluncuran Mizan New Media di Jakarta, Kamis (14/2) lalu.

Onno, tentu saja, tak ingin berbagi keluh atas kerepotannya menjawab e-mail. Pakar teknologi informasi Indonesia yang dikenal sebagai pelopor VoiP Rakyat dan RT/RW-Net ini mengungkapkan pengalaman itu berkaitan dengan era konvergensi media. Era media menjadi kian beragam. ”Itu tidak bisa dikaver media Anda,” tuturnya di depan sejumlah wartawan media cetak dan elektronik yang hadir di acara tersebut.

Menurut Onno, penayangan di televisi dan pemuatan di media cetak belum cukup untuk memberikan penjelasan secara rinci materi semacam itu. ”Karena tidak ada segmen yang bisa dimasuki, terpaksa intervensi langsung (lewat e-mail),” ucapnya.

Media, jelas Onno, tidak banyak menolong untuk berinteraksi dengan pembaca dan pemirsanya. Karena itu, interaksi terpaksa dilakukan dengan internet. Bagaimanapun, menurut dia, masing-masing media punya segmen sendiri-sendiri. ”Kalau semuanya (media cetak, televisi, dan digital) dipadukan, efeknya bagus sekali,” kata dia.

Tantangan
Kenyataan ini dirasakan Mizan, salah satu penerbit buku yang ada di Indonesia. Menyiasati era digital dan konvergensi media, Mizan Group menghadirkan layanan yang lebih komprehensif dengan meluncurkan Mizan New Media. Ini adalah sebuah unit baru di dalam Mizan Group yang memungkinkan produk-produk penerbit ini dapat diakses dengan berbagai media dan pada berbagai kesempatan.

Mengutip Prof Henry Jekins dari Massachussetts Institute of Technology, Putut mengatakan konvergensi bukan semata kemajuan teknologi. Lebih dari itu, konvergensi adalah sebuah pergeseran budaya ketika konsumen dimungkinkan mengakses informasi dan konten yang sama dalam pelbagai platform media. Peranti keras bisa saja semakin beragam, tapi isilah yang akan berkonvergensi hingga bisa dibaca dalam berbagai platform peranti keras itu.

Tantangan konvergensi, kata Putut, akan sangat dirasakan oleh penyedia layanan isi melalui teknologi cetak, seperti penerbit buku, koran, dan majalah. Bagi media semacam itu, kemampuan konvergensi ini bukan saja bisa menjadi bagian dari ikhtiar integrated marketing communication, tapi bukan tidak mungkin menjadi harapan utama –kalau tidak satu-satunya– agar tetap survive di masa mendatang.

Begitulah Mizan Group menghadapi era konvergensi. Seperti dituturkan Onno W Purbo, kalau semua media (cetak, televisi, dan digital) dipadukan, akan menjadi cantik.
(burhanuddin bella )
Sumber;republika.co.id