(Hernowo)
Selama ini, kadang kegiatan menulis digambarkan sebagai sesuatu yang menyulitkan dan, bahkan, menyiksa! Memang, menulis makalah, skripsi, atau bahkan buku-buku ilmiah bukanlah kegiatan yang enteng. Kita tahu benar soal ini. Bayangkan, sebelum menulis kita harus juga membaca. Membaca adalah sebuah kegiatan yang juga tidak kalah menyiksanya ketimbang menulis. Lantas, ketika menulis, kita harus punya ide. Mencari dan kemudian menemukan ide atau gagasan yang hebat bukan seperti mencari dan menemukan batu di tengah jalan.
Quantum adalah interaksi yang mengubah energi menjadi radiasi. Quantum Writing merupakan sebuah proses interaksi yang terjadi lewat kegiatan menulis. Seseorang yang menjalankan konsep “quantum writing”, akan merasakan bahwa dirinya sedang berinteraksi dengan dirinya yang unik, materi tulisan yang sedang ditulisnya, dan dengan pikiran-pikiran orang lain yang telah dibacanya sebelum dia menulis. Diharapkan, kegiatan menulisnya itu kemudian dapat mengolah pelbagai potensi yang ada di dalam dirinya menjadi “pancaran cahaya” (sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya).
Setelah semua itu, ketika menulis, kita juga harus menggunakan daya ingat untuk mengingat materi yang ingin kita tulis. Selanjutnya, setelah mengeluarkan materi yang kita ingat, kita pun harus merangkai dan mengait-ngaitkan materi tersebut secara sistematis dan logis. Jika rangkaian kalimat yang kita susun tak nyambung atau ke sana-kemari, tentulah ide yang kita miliki itu tak bisa dibaca atu dipahami oleh pembaca tulisan kita. Pekerjaan merangkai dan menstukturkan ide inilah sebuah pekerjaan yang tersulit dalam kegiatan menulis.
Setelah tulisan kita jadi beberapa halaman, kita pun kemudian harus menata atau menyunting tulisan kita. Ini juga pekerjaan yang sangat tidak mudah. Kenapa? Karena, ketika kita membaca hasil tulisan kita, pikiran kita terus bergerak dan berubah. Pikiran awal ketika menulis sangat berbeda dengan pikiran yang kita miliki setelah kita usai menulis. Jadi, apa yang sudah kita tulis, rasa-rasanya, perlu ditambah dan dikoreksi terus-menerus. Belum jika kita juga harus membuat alur tulisan menjadi mengalir dan enak dibaca. Belum jika tulisan kita ingin kita jadikan buku, wah betapa rumitnya menulis ya?
Namun, jika Anda memahami Quantum Writing, Anda akan mudah dan lancar menulis. Dan Quantum Writing tidak hanya memudahkan dan melancarkan Anda menulis. Quantum Writing juga akan membuat Anda asyik menulis! Inilah yang ditawarkan oleh Quantum Writing, yaitu bagaimana Anda menjadi sangat ringan dan mudah dalam menjalankan kegiatan menulis serta di dalam kegiatan menulis itu Anda menikmati keasyikan yang tiada tara. Jika Anda bisa asyik menulis, tentulah kegiatan menulis Anda itu dapat mengubah diri Anda menjadi cahaya.
Bagaimana mempraktikkan Quantum Writing? Di dalam Quantum Writing ada konsep dan teknik menulis bernama brain-based writing (menulis sesuai dengan cara kerja otak). Jika Anda dapat memahami sedikit saja komponen otak Anda, Anda dapat memanfatkan pemahaman tersebut untuk menulis secara mengalir dan memberdayakan diri Anda. Di bawah ini akan saya singgung selintas tentang beberapa teknik menulis yang sesuai dengan cara kerja otak yang bisa Anda praktikkan dalam kehidupan sehari-hari Anda.
Ciri-ciri quantum writer: Pertama, ketika menulis, kegiatan menulisnya itu benar-benar melibatkan dirinya secara total. Kedua, materi yang ditulis benar-benar membuat dirinya merasa nyaman dan senang. Ketiga, hasil tulisannya mencerminkan sosok dirinya yang unik.
Pertama, menulis dengan menggunakan otak kanan terlebih dahulu dan baru kemudian menggunakan otak kiri. Mengapa menggunakan otak kanan lebih dahulu? Karena otak kanan ini menyukai kebebasan dan tidak suka hal-hal yang urut dan tertib. Anda diajak untuk mengeluarkan bahan yang ingin Anda tulis secara leluasa. Ketika Anda ingin menuliskan topik kemiskinan, tetapi yang keluar ternyata topik kekayaan, otak kanan akan menerima sebagai sesuatu hal yang wajar.
Sangat berbeda jika Anda mengawali menulis dengan menggunakan otak kiri. Anda akan sibuk dengan aturan dan akan memulai menulis secara teratur, misalnya mencari kata pembuka yang tepat. Hal ini dikarenakan sifat otak kiri Anda memang seperti itu: tertib dan logis. Dan, biasanya, kegiatan seperti ini—mencari kata pembuka yang tepat—akan sangat membosankan dan melelahkan. Jika toh kemudian Anda mendapatkan kata pembuka dan Anda dapat menuliskannya, Anda kemudian secara cepat akan membaca dan mengoreksinya sehingga untuk menyelesaikan satu alinea saja, Anda membutuhkan waktu berjam-jam.
Gunakan otak kanan terlebih dahulu ketika mengawali menulis sehingga seluruh bahan-mentah tulisan dapat Anda keluarkan semuanya dan Anda pun merasa lega. Lantas, endapkan dahulu beberapa jam—jika perlu sehari. Ketika Anda sudah mengendapkan, bacalah tulisan yang masih berupa bahan mentah itu dengan menggunakan otak kiri. Melalui otak kiri, Anda dapat memperbaiki sekaligus menata tulisan Anda sesuai aturan yang telah Anda kuasai. Demikianlah menulis dengan memanfaatkan cara kerja otak kanan dan kiri.
Kedua, menulis dengan memanfaatkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Anda mungkin ingin mendapatkan ide yang hebat untuk dituliskan. Namun, sudah duduk berjam-jam lamanya di perpustakaan, ternyata ide hebat itu tak kunjung datang. Atau, Anda sudah mengasingkan diri dan bertapa untuk mendapatkan wangsit (ide yang datang dari Yang Mahatinggi). Namun, ternyata juga tidak datang juga wangsit yang Anda harapkan itu.
Bagaimana mempraktikkan Quantum Writing? Di dalam Quantum Writing ada konsep dan teknik menulis bernama brain-based writing (menulis sesuai dengan cara kerja otak). Jika Anda dapat memahami sedikit saja komponen otak Anda, Anda dapat memanfatkan pemahaman tersebut untuk menulis secara mengalir dan memberdayakan diri Anda.
Tibalah saatnya Anda menggunakan kecerdasan majemuk. Mungkin Anda perlu berpikir secara bergerak (menggunakan body smart). Dengan body smart, Anda tidak hanya duduk, tetapi berjalan-jalan atau melakukan senam otak (brain gym). Atau, Anda kemudian mengunjungi laut, taman yang indah, atau kebun binatang. Jika demikian ini yang Anda lakukan, Anda menggunakan cerdas alam. Atau, Anda tetap duduk di ruang untuk menulis yang ada di rumah Anda, tetapi Anda menyetel musik instrumentalia. Dengan hal ini, Anda menggunakan cerdas musik.
Masih ada banyak jenis kecerdasan yang bisa Anda gunakan untuk mendatangkan ide. Coba juga hitung berapa banyak cara yang dapat Anda tempuh jika Anda menombinasikan beberapa jenis kecerdasan tersebut. Jika Anda dapat memahami kecerdasan majemuk dan mengopreasikannya secara benar, saya yakin Anda akan sangat mudah menemukan ide. Bahkan, sebagaimana yang sudah saya praktikkan berkali-kali, saya tidak pernah kekurangan ide. Saya bahkan kebanjiran ide!
Ketiga, menulis dengan menggunakan kecerdasan emosi. Anda dapat berpikir secara baik dan benar untuk menetapkan jenis emosi Anda. Cobalah kelola emosi Anda agar memiliki emosi positif. Ketika menulis, cari topik yang membuat diri Anda senang. Kaitkan topik itu dengan diri Anda. Libatkan diri Anda. Apakah Anda memiliki pengalaman yang terkait dengan topik Anda itu? Coba deteksi dengan menggunakan metode mind mapping. Tulislah secara spontan dengan menggunakan kata ganti orang pertama, “Aku…..”. Lantas mengalirlah! Semoga bermanfaat. []
Sumber:
http://www.mizan.com