Michael Wolfe menggambarkan Mina sebagai kota yang ”tidak tampak seperti apa pun” selama 50 minggu. ”Sejauh mata memandang, tampak koridor padang pasir yang rata berwarna putih tulang yang dibatasi perbukitan granit di kedua sisinya.” (hlm 290-291).
Wolfe menuliskan gambaran itu di buku Haji, Kesaksian Seorang Mualaf. Penerbit Serambi menerbitkan buku ini pada 2003 dari edisi Inggris yang diterbitkan pada 1998.
Mina adalah kota hanya untuk jamaah haji. Jutaan jamaah tinggal di Mina untuk melempar jumrah. Sebelum waktu wukuf di Arafah tiba, Mina juga jadi pilihan tempat tinggal. Selama sebelas bulan, tulis Wolfe, benda-benda yang berlalu lalang di sini hanyalah ilalang padang pasir dan gerombolan-gerombolan kambing.
”Kemudian, di hari terakhir bulan kesebelas, agen-agen haji memarkir truk-truknya yang memuat tenda-tenda dan martir, pancang, serta tali. Lalu dengan bantuan tentara, mereka mulai mendirikan ribuan tenda yang memuat dua belas orang per tenda. Mereka mengikat dan merentangkan, memukul-mukul, siang malam selama seminggu. Akhirnya, suatu kota kanvas muncul di atas pasir, dari terowongan Mekah ke timur Muzdalifah.” (hlm 291).
Suzy Azeharie bercerita, Mina dapat ditempuh dengan kendaraan selama 20 menit dari Aziziah, kota kecil yang menyediakan apartemen-apartemen untuk para jamaah. Suzy tinggal di tenda Mina bersama 50 jamaah. ”Jangankan mau berselonjor ‘leyeh-leyeh’, mau meletakkan kaki yang bengkok saja tidak bisa. Itu masih hari pertama, bagaimana empat hari ke depan?” (hlm 48).
Tinggal di tenda di Mina juga harus berhadapan dengan badai gurun yang datang tiba-tiba. Perlu kewaspadaan. ”Dalam hitungan detik semua manusia yang ada digulung masuk ke dalam balutan pasir yang langsung memedihkan mata. Akibatnya, seorang teman dari Jepang menderita infeksi mata karena kemasukan pasir.” (hlm 49).
Saat hari Wukuf tiba, para jamaah yang tinggal di Mina akan bergegas meninggalkan tenda menuju Padang Arafah yang berjarak 8 km. Suzy beserta rombongan berangkat pukul 07.00 dan tiba di Arafah 45 menit kemudian. Tapi, mereka yang berangkat pukul delapan atau sembilan pagi, tiba di Arafah delapan jam kemudian.
”Sedemikian banyaknya manusia yang bergerak, sehingga Mina seperti ditutup selimut putih. Berbagai model angkutan luber memenuhi jalan. Truk terbuka, bus AC mewah berkaca gelap, sedan atau motor, tak putus-putusnya bergerak ke arah Arafah. Gema talbiyah memenuhi udara pagi hari. Hanya orang sombong yang tidak bercucuran airmata melihat pemandangan menggetarkan seperti itu.” (hlm 52).
Di Kampung Makassar, Jakarta Timur, para ustadz rajin menceramahkan nilai pahala orang-orang yang mengurusi dan melayani orang yang menunaiakan ibadah haji sama dengan pahala ibadah haji. Tak pelak, seperti ditulis M Amin Akkas dalam bukunya Haji Sosial (2007), ”…setiap orang yang akan pergi haji pengantarnya cukup banyak dan sangat meriah, dan sesuai tradisi masyarakat Betawi, saat akan meninggalkan rumah, mereka lebih dulu membunyikan petasan sembari mengucakan bacaan talbiyah…” (hlm 70)
Sebelum berangkat haji, biasanya ada acara slametan. Tetangga, kerabat, dan kenalan berdatangan, dan menyerahkan amplop. ”Saya sih sebenarnya tidak mengharapkan para tamu ngebawain amplop, padahal datang aja sudah syukur kok, tapi yah namanya juga pemberian daris esama saudara Muslim, rezeki, yaharus diteriam dengan baik,” ujar pak haji Rusman dalam Haji Sosial. (hlm 72).
Maka sumbangan itu pun membantu keluarga Rusman. Dana itu dijadikan tambahan untuk mengadakan slametan tiap malam Jumat selama ia menjalankan ibadah haji. ”Biar ada yang ngedoain keselamatan dan kemabruran kami dalam menunaikan ibadah haji,” ujar dia.
Dana sumbangan itu ada juga yang ditambahkan untuk bekal membeli oleh-oleh di Arab, yang kelak dibagikan saat slametan haji. ”Mereka yang datang bersalaman sambil mencium tangan Pak Haji dan ketika pulang semuanya dibekali dengan bebagai macam kenang-kenangan dari Arab, seperti air zamzam, tasbih, dan sajadah.” (hlm 69).
Amin Akkas mencatat, mereka yang hadir di slametan haji ini memandang, ”Sekadar hadir saja di upcara tersebut berarti telah mendapat separuh dari nilai pergi haji, apalagi sejak awal ikut mengantarkan dansaat kepulangan juga menghadirinya, maka nilai pahalanya semakin mendekati pahala yang diperoleh orang yang menunaikan ibadah haji. (hlm 69).
Usai Maghrib, jamaah pun bergerak kembali ke Mina melalui Muzdalifah. Perjalanan bisa mencapai 5-7 jam. ”Karena situasi yang ekstrim tersebut, ratusan ribu orang memilih berjalan kaki menembus pekatnya malam menuju Mina ketimbang menggunakan kendaraan roda empat yang pasti tak akan menembus sesaknya lautan jutaan manusia.” (hlm 54)
Anwar Harahap menceritakan pengalamannya selama di Muzdalifah. Dalam bukunya Inilah Tanah Haram Mekah-Medinah dan Keadaan Sekitarnya yang diterbitkan pada 1975. Rombongan Anwar tiba di Muzdalifah pukul 11.30. Sepuluh menit jamaahmengambil batu untuk jumrah, sopir bus sudah menyalakan mesin dan memanggil jamaah, siap ke Mina.
Karena jamaah harus mabit di Muzdalifah hingga lewat tengah malam, maka jamaah laki-laki pun menghadang bus dan mengganjal roda dengan bebatuan. Ini membuat marah sopir, karena dianggap menghilangkan penghasilan dia. Urusan baru selesai ketika sopir diajak bicara dan diajari bahasa Indonesia. (hlm 156-159).
Di Muzdalifah inilah jutaan jamaah menunggu hingga lewat tengah malam sebelum ke Mina. Di saat musim dingin, jamaah bahkan harus menanggung suhu di bawah 10 derajat Celsius lebih dari tiga jam hanya memakai ihram.
Suzy memberikan kesaksian, ”Ini adalah pemandangan yang belum pernah kusaksikan sepanjang hidup, di dalam gelapnya malam, di sepanjang jalan, di setiap jengkal tanah, di setiap sudut kosong, di setiap tebing cadas, di setiap kelokan, di setiap mobil yang parkir, yang kulihat hanyalah hamparan manusia yang kelelahan dan tertidur menunggu waktu melempar jumrah hari berikutnya. Ada yang mendirikan tenda, ada yang tidur di dalam mobil, tapi lebih banyak yang tidur hanya dengan menghamparkan sekedar alas di jalan. Semua manusia dari segala bangsa terduduk kelelahan di mana pun ada sejengkal tanah kosong.” (hlm 57).
Sumber: republika.co.id