Selisik saya di awal tahun 2008 ini agak murung. Bukan karena di bulan Januari ini kita hampir tiap hari diguyur hujan, tapi karena saya mendengar kabar buruk buat penulis. Kabar itu ialah minimnya perhatian penerbit pada judul atau penulis tertentu.
Dalam pertemuan penerbit-penulis-peresensi di Sabuga, Bandung, saya mendapati fakta bahwa penerbit besar seperti Elexmedia saja tak menyediakan dana untuk launching setiap buku. Yang dianggarkan ialah dana promosi untuk keseluruhan buku, terutama dalam setiap acara yang diikuti penerbit. Jelas ini membuat setiap judul sulit menonjol, minimal sekali saja persis begitu terbit.
Memang kesempatan sebuah buku bisa menonjol masih terbuka, misalnya terpilih ikut disertakan dalam iklan ramai-ramai di koran, atau karena pertimbangan tertentu, judul tersebut dipajang poster X-banner-nya. Contoh, Cherish Every Moment karya Arvan Pradiansyah (Elex, 2007), yang X-banner-nya dipasang persis di gerbang ruang utama pameran Kompas-Gramedia Fair (KGF). Baik Arvan dan bukunya tak muncul dalam rangkaian acara KGF, tapi bisa jadi karena dua buku dia sebelumnya (Life is Beautiful dan You Are a Leader!) termasuk bestseller, Elex memutuskan mengiklankan buku ke-3 dia.
Harus diakui penerbit memang penuh pertimbangan dalam mengiklankan buku. Baru ketika sebuah judul mampu mengangkat reputasi penerbit dan jelas mendatangkan keuntungan, mereka mau berisiko mempromosikan buku. Ada alasan tertentu mengapa penerbit cenderung hanya mau mendukung 1-2 judul bestseller dalam anggaran mereka, yaitu masalah posisi tawar penerbit terhadap toko buku.
Makin bestseller, makin banyak diperbincangkan sebuah judul, akan membuat penerbit punya daya tawar bahwa produknya laku dan menguntungkan toko. Harapannya penerbit bisa menegaskan dan berharap lantas produk mereka lainnya bisa ikut terangkat dan ter-display dengan pantas. Hukum pasar berlaku. Wajar bila penerbit berhitung atas setiap rupiah pengeluaran. Memang penerbit hingga sekarang masih penasaran apa bedah buku dan sejenisnya beriringan dengan larisnya sebuah judul.
Salah satu aspek yang juga patut diperhatikan ialah ada baiknya seorang penulis memiliki event organiser atau ‘publisis’ yang mau fokus terus-menerus mengusahakan promosi bukunya. Kondisi ini sebenarnya kurang ideal bagi penulis, sebab secara finansial keuntungan penulis rata-rata hanya 10 persen dari harga buku. Coba bayangkan kerepotan penulis harus mencari rekan kerja yang mau menggulirkan terus ide-ide penerbitan bukunya, belum soal biaya.
Penulis lain, terutama dari kalangan motivator dan manajemen, menyertakan penjualan bukunya dalam paket training atau seminar yang dia adakan. Perimbangan keuntungan dengan cara seperti ini lebih masuk akal: Penerbit dan penulis mendapat bagian masing-masing, sedangkan angka penjualan bisa terus bertambah. Tapi, memang sudah ada banyak contoh betapa buku yang dipromosikan dengan gegap-gempita (istilahnya ‘hype’) dengan pantas berbuah jadi bestseller.
Promosi pasti berhubungan dengan anggaran, harapan keuntungan, dan tujuan yang ingin dicapai penerbit, tapi kesan bahwa penerbit pilih kasih dan kurang perhatian pada terbitan mereka jadi sulit dihindari. Penulis yang punya energi dan dana lebih kadang-kadang mesti rela merogoh kantong sendiri untuk berbagai keperluan, baik diskusi, imbalan resensi, bahkan sejenis promosi dari satu tempat ke tempat lain.
Terbayang betapa ‘pengorbanan’ penulis yang amat besar buat bukunya, bahkan akhirnya jadi terasa berlebihan karena kurang didukung sungguh-sungguh oleh penerbit. Pernah saya dengar pengakuan tentang penulis yang sampai mesti mengeluarkan uang untuk pembicara agar mau mengkritik karyanya atau tambahan biaya konsumsi diskusi bukunya, sementara meminta penerbit serius menyediakan buku untuk komplimen bagi para rekanan media atau orang yang relevan saja agak sulit.
Kira-kira setahun lalu saya pernah bertemu penulis muda yang berambisi agar bukunya mesti disokong promosi, iklan, training, dan sebagainya, agar idenya bisa massif di ruang publik dan mempengaruhi pembaca sebanyak mungkin –mirip yang terjadi pada ESQ karya Ary Ginanjar. Jelas sulit mencari penerbit yang mau setuju dengan klausulnya.
Mendengar itu, saya sengaja mendukung dia dengan bilang begini, “Terbitkan sendiri saja Mas, kan Anda yakin betul dengan rencana untuk buku itu, apalagi perangkat pendukungnya juga lengkap, termasuk klik yang siap membantu Anda. Biar semua yang Anda impikan terwujud dan porsi terbesar keuntungan dari penerbitan itu persis jatuh ke tangan Anda.”
Rupanya buku dia akhirnya diterbitkan sebuah penerbit besar. Tapi, barangkali anggaraan promosi untuk buku itu tetap minim, buku dia terbit begitu saja, tanpa iklan atau rencana-rencana besar sebagaimana dia impikan. Jelas keinginannya buyar. Saya berharap, apa pun yang terjadi pada bukunya, semoga buku itu masih bisa merebut perhatian pembaca, terutama ide-ide orisinal yang keluar dari kesungguhannya mencerap pemikiran.
Barangkali ada porsi yang patut dilakukan penerbit terhadap judul dan penulis tertentu. Memang ada penerbit yang agak menolak anggapan bahwa penerbit adalah pihak yang paling besar mendapat porsi keuntungan sebuah buku, dengan bilang bahwa pihak yang paling besar mendapat porsi keuntungan ialah toko buku.
Wah, lepas dari kondisi yang tampak kurang ideal itu, saya berharap perhatian penerbit terhadap penulis terus meningkat, setidaknya kerja sama kedua belah pihak itu lebih berimbang. Bila begitu, barangkali nada murung dalam Selisik bisa sedikit lebih berkurang.
(Anwar Holid)
Sumber : Republika.co.id

Iklan