Bisakah Anda menemukan suasana homey, ketika jalan-jalan di jantung Kota Bandung? ”Menjamurnya factory outlet (FO) dan berbagai kafe telah membuat Bandung kehilangan suasana homey itu,” ujar Jan Adip, yang telah 15 tahun meninggalkan Bandung.
Ketika ia berkunjung ke Bandung, betapa ia menyaksikan pengunjung Bandung lebih banyak berburu makan dan pakaian di jantung Kota Bandung. Detak aktivitas 40 titik kantong perbukuan tertelan hiruk-pikuk tawar-menawar pakaian dan pilih-pilih menu santapan.
Maka, sambil menyelam minum air. Itulah kalimat yang bisa menggambarkan aktivitas para penggemar buku di Bandung. Kantong-kantong literasi itu memberikan suasana kafe kepada pengunjungnya. Sambil membaca buku, mereka juga bisa mendapat informasi tambahan dari para penulis.
Masing-masing komunitas buku itu menawarkan konsep yang berbeda-beda dengan berbagai pilihan buku. Ada yang khusus membahas buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Ada yang mengkhususkan diri dengan buku-buku Sunda (Bandung pernah diserbu 222 judul buku berbahasa Sunda, pada kurun 1850-1906). Bahkan, ada yang hanya komik.
Lupakan FO dan kafe-kafe di jalan-jalan utama kota, susuri lorong-lorong kota dan temukan komunitas-komunitas buku ini di Bandung. dan, Jan Adi menemukan suasana homey di sana. Ada Manisee Community di Cibiru, Ultimus di Lengkong, Rumah Buku di Hegarmanah, Pustakalana di Jl Ranggamalela, Yayasan Rancage di Jl Karawitan, Minor Books di Cijerah, Kelompok Kerja Nalar di Jatinangor, Batu Api di Jatinangor.
Ada pula Dipan Senja di Margahayu, Pustaka Latifah di Margahayu, Litera di Ciumbuleuit, Gubuk Dongeng di Ciumbuleuit, Rumah Malka di Jl Hasan Mustafa, Mizan Learning Center di Arcamanik. Tapi, ada juga yang mencoba berdiri di tengah hiruk-pikuk keramaian pembelanja baju. Ada Potluck di Teuku Umar, ada Zoe di Pagergunung, Das Mutterland di Cihampelas, Baca-baca Bookmart di Sabuga, Lawang Buku di Dago Tea House, Tobucil di Jl Aceh.
Mi dan buku
Sejak didirikan pada 2001, Zoe telah memiliki 9.300 orang anggota. Ada 80 ribu buku.. Rak-rak dengan berbagai warna cerah yang menghiasi seluruh dinding ruangan dipenuhi dengan koleksi berbagai komik, novel sastra, majalah, hingga otobiografi.
Mahasiswa dan pelajar memenuhi deretan kursi nyaman yang terletak di teras halaman setiap harinya. ”Tidak kurang dari 400 orang silih berganti memenuhi halaman, bahkan pada akhir pekan jumlah tersebut terus meningkat hingga mencapai 600 orang,” ungkap Handerson Rizal, manajer humas dana pemasaran Zoe.
Meski tidak ada acara rutin yang dilaksanakan tiap bulannya, Zoe selalu mengadakan bedah buku untuk buku-buku yang baru terbit. Zoe memanjakan membernya dengan program membaca sepuasnya pada akhir pekan. Layanan internet gratis pun menjadi hal yang dirindukan pelanggan untuk terus datang di tempat itu. ”Zoe menjadi salah satu pelopor menjamurnya library cafe di Bandung saat ini sejak tahun 2001,” ujar Handerson.
Membaca novel terbitan baru sambil diiringi alunan musik jazz dan aroma harum aromaterapi merupakan bagian dari layanan Prefere 72. Berbeda dengan Zoe, tempat bergaya minimalis ini menyuguhkan konsep coffee, noodle, dan library dalam satu paket. Lokasi yang bertempat di Jl Ir H Juanda itu memiliki aneka jenis hidangan berbahan dasar mi.
Jumlah koleksi buku yang mencapai 2.000 judul bisa menarik minat member hingga 50 orang. Didirikan pada Desember 2006, Prefere 72 telah memiliki anggota dari kalangan mahasiswa dan karyawan sebagai jumlah terbesar. Setiap akhir pekan, tempat ini mengadakan story telling bagi anak-anak TK dan SD.
Manajer Humas Prefere 72, Nita Arriastiti, menuturkan biasanya orang tertarik lebih dulu pada makanan yang disediakan, baru mereka melihat-lihat buku yang disediakan. ”Akhirnya banyak yang kemari untuk makan sambil baca,” tutur dia. Di Tobucil, pengunjung tak sekadar datang untuk membaca buku. Di sana banyak berdiri klab, menyusul hadirnya Klab Baca. Ada Klab Rajut, Klab Belajar, Klab Musik, Klab Nonton, dan sebagainya. Di sini tersedia hotspot dan sajian kafe berupa kopi robusta dan arabika, roti kering bagelen, dan cemilan ringan lainnya.
Tentang Sunda
Pusat Studi Sunda (PSS) yang dikelola Yayasan Rancage menawarkan sesuatu yang sangat berbeda. Sebanyak 13 ribu judul yang berisi buku dan naskah kuno yang berhiaskan budaya Sunda ditawarkan perpustakaan di Jl Taman Kliningan itu.
Tapi, hingga kini pengunjungnya masih sangat terbatas, yaitu mahasiswa yang mengerjakan proyek ilmiah, pengarang buku, dan pemerhati budaya. Meski begitu, Sekretaris Yayasan Rancage, Hawe Setiawan, berharap adanya anak muda Bandung yang mau mempelajari budayanya sendiri. ”Banyaknya media yang selalu memberitakan budaya Sunda akan punah, menjadikan anak muda sekarang enggan mendalaminya. Hal itu pantas kiranya, siapa pun pasti malas mempelajari sesuatu yang akan punah,” kata Hawe.
Meski begitu, hala itu tak mematahkan semangat PSS. Di pekan kedua setiap bulan, PSS selalu mengadakan diskusi yang membicarakan semua hal yang berkaitan dengan budaya Sunda. Pada bulan ini, PSS menghadirkan pemerhati budaya Sunda asal Australia, Julian Millie, membicangkan masalah manakiban. Manakiban merupakan pengajian yang dilakukan santri di beberapa wilayah Jawa Barat yang menyampaikan puji-pujian untuk Syekh Abdulqadir Jaelani.
Acara diskusi semacam ini selalu dibanjiri peserta dari berbagai kalangan. Komunitas Buku Lawan yang mengkhususkan pada minat buku-buku Sunda, juga ikut meramaikannya. ”Turut menyediakan bahan yang orang butuhkan akan membuat orang semakin tertarik untuk datang membaca,” tambah Hawe.
Hawe menuturkan, kini harus ada campur tangan generasi muda untuk membangkitkan minat baca dan keinginan mengetahui budaya Sunda. ”Dengan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari, saya yakin hal itu nantinya akan menarik minat mereka untuk mengetahui budaya tersebut lebih dalam,” ungkapnya.
Sejak didirikan pada 2002 lalu, hampir semua koleksi yang dimiliki berasal dari hibahan pemerhati budaya Sunda, seperti Ajip Rosidi, Edi S Ekajati (alm), dan Ayatrohaedi, yang juga sebagai pendiri yayasan tersebut.
Sumber: http://www.republika.co.id