Dalam ranah editorial, copy editor (diterjemahkan oleh Penerbit ITB menjadi editor nas) termasuk jenjang karier editor yang paling rendah. Copy editor hanya memiliki tanggung jawab dalam hal memeriksa naskah dan kemudian mengevaluasinya secara kebahasaan maupun piktorial. Jadi, merupakan editor yang paling banyak bergelut dengan naskah secara teknis. Karena itu, tidak heran jika yang diharapkan dari seorang copy editor adalah pengetahuan kebahasaan yang mumpuni, sekaligus kejelian dan keapikan untuk memeriksa naskah. Akuntabilitas seorang copy editor diukur dari seberapa banyak tingkat error naskah yang dapat diminimalisasinya. Jika perlu, memang target copy editor adalah error free.

Di Indonesia, copy editor kerap disebut editor juga. Bahkan, ada yang mencampuradukkannya dengan pengertian proofreader. Seseorang yang berkiprah sebagai senior editor, managing editor, ataupun yang paling puncak adalah chief editor, mutlak melewati karier sebagai copy editor. Melewatkan karier sebagai copy editor, berarti Anda akan mengasah diri dalam hal meneliti dan memperbaiki naskah; menambah wawasan kebahasaan, termasuk bahasa sing; melatih kejelian; memunculkan kecerdasan saling-hubung (interconnecting quotient); menulis ulang; serta secara tak sengaja melakukan afirmasi terhadap kasus-kasus teknis editing sehingga menjadi kemampuan bawah sadar.

Ditulis oleh
Bambang Trim
Ketua Forum Editor Indonesia (FEI)