Januari 2008


Dibutuhkan segera editor buku pelajaran SD, SMP, dan SMA dengan kualifikasi sebagai berikut.
1. Lulus S-1 MIPA Jurusan Matematika dengan IPK minimal 3,00 (skala 4,00).
2. Diutamakan yang telah berpengalaman sebagai editor atau korektor.
3. Menyukai dunia pendidikan dan perbukuan.
4. Mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar serta menguasai pedoman EYD terbaru.
5. Mengetahui tentang kurikulum sekolah (standar isi 2006).
6. Mampu bekerja dengan tenggat waktu terbatas.
7. Mampu bekerja dalam tim.

Kirim lamaran secepatnya melalui e-mail lizakurnia@yahoo.com disertai CV lengkap.
Penerbit Ganeca Exact
Jln. Raya Hankam
Komp. Satrudal, Pd. Gede
Bekasi
Telp (021)84973048 (Hunting) atau (021)84972976
Sumber: Milist editorindonesia@yahoogroups.com

UMUM
Bagaimanakah proses sampai naskah saya bisa diterbitkan ?
Ada beberapa tahap yang akan dilalui sampai suatu naskah bisa diterbitkan, yaitu :
a. Penulis mengirimkan naskah ke Penerbit Escaeva, melalui email escagroup@yahoo.com.
b. Tim Editor akan mereview naskah yang dikirimkan.
c. Penerbit Escaeva akan menghubungi penulis kembali untuk memberitahu apakah naskah tersebut disetujui untuk diterbitkan atau tidak.
d. Jika disetujui, Penerbit Escaeva akan mengedit, mereview, melayout keseluruhan naskah tersebut sampai siap menjadi buku.
e. Apabila diperlukan, Penulis wajib memperbaiki apabila naskah tersebut belum sempurna
f. Penerbit Escaeva akan mengirimkan Surat Kontrak Penerbitan Buku yang harus ditanda tangani oleh penulis.
g. Setelah Surat Kontrak Penerbitan Buku tersebut ditandatangani maka buku tersebut baru bisa diterbitkan.

NASKAH
Apakah ketentuan naskah yang dikirimkan?
a. Ditulis menggunakan bahasa Indonesia.
b. Naskah harus original, bukan jiplakan, terjemahan atau saduran.
c. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak atau elektronik.
d. Naskah tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara.
f. Ditulis dalam format digital (File Microsoft Word atau sejenisnya).
g. Diketik dalam page A4, Font Times New Roman 12, Spasi 1,5.
h. Pastikan Anda mengirim sinopsis dan daftar isi selain halaman isi.
i. Disertai dengan biodata penulis, alamat dan no kontak yang bisa dihubungi.
Keterangan selanjutnya bisa dibaca di
http://www.escaeva.com/faqs/pengiriman-naskah/pengiriman-naskah.html

Soeharto tetaplah manusia biasa. Banyak yang memuji langkah-langkahnya selama 32 tahun memimpin negeri ini, tidak sedikit pula berpandangan sebaliknya. Hitam-putih yang mewarnai perjalanan hidup mantan presiden Republik Indonesia itu tampak dalam sejumlah buku. Bahkan, beberapa di antara buku-buku itu justru kian laris di saat-saat jenderal besar berbintang lima ini berbaring di rumah sakit.Memang, seperti diakui Mudhofir Abdullah, tidak mudah menjawab hitam-putih Orde Baru –masa ketika Soeharto memimpin negeri ini. Jawabannya, jelas Mudhofir, akan sangat tergantung pada sudut pandang, pilihan bacaan, inklinasi filsafat, kecenderungan sosio-politik, dan ideologi yang dipakai atau dimiliki seseorang. ”Karena itu, menilai Orde Baru memerlukan kecanggihan pemahaman, kejujuran, dan objektivitas,” tulisnya dalam buku Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto.Awal kekuasaan Soeharto digambarkan oleh Drs HR Soemarno Dipodisastro dalam bukunya, Kesaksian Sejarah, Tumbangnya Soekarno dan Jatuhnya Soeharto. Aktivis 1966 ini antara lain menguraikan soal pertarungan ideologis-politis mempertahankan kekuasaan, prahara 1965, dan bangkitnya kekuatan Pancasila antikomunis yang kemudian Orde Baru.Toh, dalam perjalanan Orde Baru, ia melihat dua kenyataan yang berbeda. Di satu sisi memperlihatkan apa yang disebut konsistensi ideologis dan konsistensi konstitusional. Dalam arti, Orde Baru konsisten terhadap pengakuan dan penerimaan ideologi Pancasila dan konstitusi Undang-undang Dasar 1945.Di sisi lain, Orde Baru juga memperlihatkan apa yang disebut inkonsistensi operasional ideologi Pancasila dan konsistitusi UUD 1945 dalam pragmatisme pembangunan nasional. Inkonsistensi operasionalisasi itulah, menurut Soemarno, yang membelokkan Orde Baru makin jauh dari mission sacre-nya, yaitu pelaksanaan kemurnian Pancasila dan UUD 45.Akibatnya, Orde Baru pada akhirnya mengalami krisis total yang berdampak pada bangkitnya gerakan reformasi. Gerakan ini, disebut Soemarno, membuat Soeharto lengser dari singgasana kekuasaannya pada 21 Mei 1998. Lengsernya Soeharto diikuti sejumlah perkara hukum yang belum juga tuntas hingga ia berbaring di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) saat ini. Tidak heran bila George Junus Aditjondro menganalogikan Soeharto memang jatuh di kasur empuk. Dalam tulisannya berjudul ”Membongkar Kleptokrasi Warisan Soeharto: Mungkinkah?” (buku Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto), Aditjondro juga menyebut Soeharto adalah seorang taktikus yang dalam setiap era kakuasaannya, sangat lihai menggunakan kekuasaan politiknya, sekaligus untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan para pendukungnya. Bahkan ada penulis yang dengan tegas memberi judul tulisannya ”Soeharto Penanggung Jawab Pembantaian Masal Pasca G-30-S”.Di tengah berbagai kecaman dan tudingan miring, sejumlah buku yang mencoba mendudukkan masalah tersebut pun terbit. Soeharto sudah menjelaskan apa yang dilakukannya dalam buku otobiografi: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya. Selain itu, masih ada beberapa buku yang diterbitkan setelah Soeharto tidak lagi menjabat presiden. Sebutlah, misalnya, Empati di Tengah Badai, kumpulan surat-surat kepada Pak Harto 21 Mei – 31 Desember 1998; Simpati dan Doa untuk Pak Harto, kumpulan surat-surat (1 Januari – 30 Juni 1999); atau Beribu Alasan Rakyat Mencintai Soeharto. Bahkan, penjelasan lain tertuang dalam situs http://www.soehartocenter.com. Orang JawaSebuah buku yang terbit pada 2007, sedikit banyak membawa kita untuk mengenal sosok Soeharto. Kesan tersebut tampak di bagian pertama buku berjudul Soeharto, The Life and Legacy of Indonesia’s Second President tulisan Retnowati Abdulgani-KNAPP. Retnowati menulis begini, ”Ayah saya, almarhum Dr Roeslan Abdulgani, pernah berkata bahwa untuk memahami Presiden Soeharto, kita harus mempelajari orang Jawa, budaya pertanian, dan militer. Ketiga hal tersebut tidak dapat dimungkiri sangat berpengaruh dalam membentuk karakter Soeharto dari masa kecilnya sampai ia meraih puncak karier sebagai presiden negeri ini.”Orang Jawa, dia menjelaskan, adalah mereka yang berbahasa ibu bahasa Jawa dan nenek moyangnya berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Orang Jawa umumnya membagi diri dalam tiga kelompok sosial, yaitu wong cilik atau kaum miskin (sebagian besar petani), priyayi (birokrat dan cendekiawan), dan kelompok bangsawan (ndara). ”Orang Jawa tradisional sangat percaya pada kekuatan-kekuatan spiritual dan ritual keagamaan,” tulisnya.Adakah hubungan spiritual itu dengan buku kecil berjudul Rahasia Supranatural Soeharto yang ditulis oleh Ki Ageng Pamungkas? Tidak jelas, memang. Tapi, dalam buku ini, Ki Ageng menulis rahasia mistik di balik kejatuhan Soeharto. Dia menyebut, dari kacamata rasional, jatuhnya Soeharto disebabkan oleh legitimasi yang memudar. ”… dari sudut pandang spiritual, beda lagi ceritanya. Banyak cerita beredar mengenai hal ini. Isu-isu berseliweran mengenai kenapa Presiden Soeharto bisa lengser. Banyak yang mengaitkan hal itu dengan hilangnya wahyu keprabon yang mulai terasa sejak kematian Ibu Tien pada 1996. Kematian sang istri dipercaya mengubah keseimbangan kekuatan supranatural dalam diri Soeharto.”
Beberapa Buku tentang Soeharto
1. Neraka Rezim Soeharto (berisi catatan tempat pembantaian di masa Orde Baru).
2. Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto (cet II, 2007)
3. Membongkar Supersemar (cet II, 2007)
4. Misteri Pusaka-pusaka Soeharto (cet II, 2007)
5. Dunia Spiritual Soeharto (cet VII, 2007)
6. Kudeta Mei ’98 (cet IV, 2007)
7. Perang Panglima (cet IV, 2007)
8. Bu Tien Wangsit Keprabon Soeharto (cet II, 2007)
9. The Smiling General (OG Roeder, 1970)
10. Dari Pradjurit Sampai Presiden (OG Roeder, 1969)
11. Anak Desa (OG Roeder, 1976)
12. Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989)
13 Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa (George J Aditjondro, 2006). http://www.republika.co.id

Perusahaan bidang Distribusi Buku membutuhkan:

A. Staff Personalia dan Umum
B. Kabag Penjualan
C. Technical Support
D. Programmer
E. Sales Promotion Manager
F. Web Administrator
G. HRD Manager

Dengan kualifikasi sbb:

– Pria (B,C,D), pria/wanita (A, E, F,G)
– Max 27 th (C,D,F), max 30 th (A,B), max 35 th (E,G)
– S1 Psikologi /Hukum (A), S1 Marketing/Managemen t (E),S1 segala jurusan (F)
– Belum menikah (C,F)
– Pengalaman min 1 th (C,D), min 3 th (F)
– Pengalaman min 2 th (A), min 3 th (G) di HRD
– Pengalaman min 2 th sbg Spv.Bid Distribusi Buku/Umum (B)
– Pengalaman min 3 th di bidang Sales Promo (E)
– Memahami peraturan ketenagakerjaan (A,G)
– Mampu menganalisa & membuat kebutuhan training (G)
– Menguasai sistem rekrutmen (G)
– Menguasai bid.pemasaran buku (B)
– Menguasai JAVA, MySQL, PostgreSQL, RDBMS (D)
– Menguasai Hardware/Software troubleshooting, konsep routing, LAN, PABX System (C)
– Menguasai flash, Photoshop, Design Website (F)
– Mampu menuangkan dan menuliskan gagasan dg baik (F)
– Memahami perkembangan teknologi komunikasi digital (F)
– Memiliki jaringan pergaulan yang luas, mampu menyelenggarakan event dan pameran (B,E)
– Leadership dan dapat bekerja dalam tim (B,E)
– Terbiasa bekerja dengan target (B,E)
– Menguasai LINUX Server dan Desktop (C,D)
– Bersedia ditempatkan di Bandung / Jakarta (D,E), Jakarta (E)
– Membuat portfolio aplikasi JAVA dalam bentuk CD (tidak kembali) (D)

Lamaran dikirim ke:
HRD Mizan Media Utama Pusat
Jl. Cinambo No. 146, Ujung berung, Bandung
Closing date: 2 minggu setelah iklan dimuat (2 Februari 2007)

Iklan ini sekarang sudah ditutup. Bagi calon pelamar diharap maklum.

”Jika kami harus membaca buku, kapan kami harus mem-praktek-kannya?” Pertanyaan seorang mahasiswa ini bagaikan petir di siang bolong.
Pertanyaan itu ditujukan kepada tokoh yang semula menganjurkannya membaca buku. Sore itu, di penghujung Desember 2007, Syafiril Erman mendampingi beberapa mahasiswa mengunjungi sang tokoh itu.
Penulis novel Kepundan dan Megat yang masih sering bergaul dengan para mahasiswa itu menyaksikan betapa selama ini banyak mahasiswa yang kesulitan secara verbal menyatakan pendapatnya. ”Di forum diskusi mereka banyak diam. Mereka tak mempunyai kemampuan berdiskusi,” ujar Syafiril.
Hal itu, menurut Syafiril, terjadi karena banyak mahasiswa yang baru mengetahui fungsi membaca sebagai hiburan. Karena memfungsikan membaca sebagai hiburan untuk mengisi pengalaman batin, maka, mereka lebih memilih bahan bacaan novel-novel teenlit. ”Sangat sedikit mahasiswa yang membaca buku-buku filsafat, ideologi, sosiologi, karena mereka tidak tahu bahwa membaca juga mempunyai fungsi pembelajaran,” ujar Syafiril.
Maka, kata Syafiril, ketika sang tokoh yang mereka kunjungi menjawab, bahwa membaca berguna untuk pembelajaran mereka tersentak. ”Karena, tokoh yang menjadi mentor banyak tokoh politik itu, masih mengembalikan referensi kepada buku. Buku bisa menjadi guru kita melatih analisis pendapat,” papar Syafiril.
Syafiril masih merasa bersyukur, ada yang mau menanyakan manfaat membaca buku. Ini adalah awal kesadaran untuk memahami esensi membaca, lantas rajin melakukan ritual membaca.
Hilangnya esensi baca buku di kalangan remaja, boleh jadi berkembang akibat tragedi nol buku yang disitir penyair Taufiq Ismail. ”Tragedi nol buku berlangsung dari awal 1950, ketika seluruh aparat pemerintahan sudah sepenuhnya di tangan sendiri. Demi mengejar ketertinggalan sebagai negara bekas jajahan, maka eksakta menjadi jurusan yang diunggulkan dan disanjung. Wajib baca 25 buku sastra dan bimbingan menulis digunting habis karena dipandang tidak perlu,” tuturnya, saat pidato penerimaan Habibie Award, Desember 2007.
Kewajiban membaca buku sastra dan latihan menulis karangan di sekolah menengah, pada akhirnya berimplikasi pada rendahnya minat baca. Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat, Setia Dharma Madjid, pun menyadarinya. Minat baca yang kurang, pada gilirannya, berimplikasi pula pada penerbitan buku. ”Ini jadi masalah,” tuturnya.
Setia Dharma, boleh jadi, benar. Hingga kini, masih banyak mahasiswa yang `kedodoran’ menuangkan gagasan yang ada di kepalanya dalam bentuk tulisan. Mereka lebih banyak berkutat pada buku sesuai disiplin ilmu yang ditekuninya. Seperti digambarkan Taufiq, ”Mereka adalah generasi yang rabun membaca, pincang mengarang.”
Muhammad Remaja Putra, contohnya. Mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Jakarta ini menyadari minimnya pengajaran bahasa sebelum masuk perguruan tinggi. Jangankan tuntunan menulis, anjuran membaca buku di luar buku pelajaran pun sama sekali tak pernah ia rasakan saat bersekolah di sekolah menengah. Jadi, `’Saya juga bingung waktu pertama kuliah,” ucapnya.
Maklum, selepas SMA, dia masuk ke perguruan tinggi bidang ekonomi yang mengajurkan mahasiswanya membuat proposal sejak awal. Dari pelajaran inilah ia bisa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan menulis. Kemampuan menulis, tanpa ia sadari, mendorongnya gemar membaca aneka jenis bacaan. Kini ia mengaku sudah merampungkan sebuah buku, siap diterbitkan.
Menderita saat membaca
Seorang remaja dari Padang masuk sekolah dagang menengah di Batavia, 1919. Wajib buku sastra di sekolah itu menyebabkannya ketagihan membaca. Tapi dia lebih suka ekonomi. Dia melangkah ke samping, lalu jadi ekonom dan ahli koperasi. Pria itu bernama Muh Hatta.
Seorang siswa sebaya di AMS Surabaya, juga adiksi buku. Kasur, kursi, dan lantai kamarnya ditebari buku. Tapi dia lebih suka politik, sosial, dan nasionalisme. Seperti Hatta, dia juga melangkah ke samping, menjadi politikus. Namanya Sukarno. Dalam perjalanan waktu, keduanya tampil menjadi proklamator negeri ini.
Sebagaimana dituturkan Taufiq Ismail, sastra menanamkan rasa ketagihan membaca yang berlangsung hingga dewasa. Berlatih menulis di sekolah masa itu membekali Hatta, Sukarno, dan kawan-kawan seangkatannya menulis buku di bidang masing-masing.
Kewajiban membaca buku dan berlatih menulis, menurut Taufiq, tidak bertujuan menjadikan siswa menjadi sastrawan. Kemampuan membaca dan menulis diperlukan di setiap profesi. Membaca buku sastra mengasah dan menumbuhkan budaya baca secara umum. Berlatih menulis mempersiapkan orang mampu menulis di bidangnya masing-masing.
Sebagaimana dirasakan Putra, Taufiq mengatakan tamatan SMA generasi nol buku menderita bila mendapat tugas membaca saat mahasiswa. Jangankan membaca banyak, membaca buku pun mungkin tidak pernah. Yang dikejar ringkasan buku. Paling menderita lagi kalau harus menulis laporan, makalah, skiripsi, tesis. Meletakkan titik dan koma, memotong alinea, membereskan anak kalimat, menyusun logika, seperti kekacauan yang abadi.
Di mata Taufiq, ini bukan kesalahan mahasiswa. Ini kesalahan sistem pengajaran bahasa dan sastra di sekolah menengah. Kesalahan ini mesti diperbaiki. ”Kemampuan menulis memang sudah harus tercapai dan beres sebelumnya di SMA. Hal semacam itu diterapkan di banyak negara. Di Amerika, siswa diwajibkan membaca 32 buku sastra, Belanda dan Prancis masing-masing 30 buku,” jelas Taufiq.
Buahnya sudah lama tampak. Banyak buku laris –dan enak dibaca– di negeri itu yang ditulis oleh bukan seorang pengarang. John Grisham atau Torey Hayden, contohnya. Grisham, yang pernah berpraktik sebagai advokat, menulis sejumlah novel, antara lain The Firm, The Client, The Pelican Brief, dengan latar belakang peristiwa hukum.
Hayden, seorang psikolog pendidikan, menuliskan pengalamannya mendidik anak berkebutuhan khusus dengan baik dalam buku Sheila, Luka Hati Seorang Gadis Kecil. Baik karya-karya Grisham maupun Hayden, telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan menjadi pembicaraan banyak orang.
Di Indonesia, memang tetap saja ada yang melangkah ke samping. Ada Andrea Hirata yang menulis dengan baik masa-masa bersekolah di Belitung dalam Laskar Pelangi atau Habiburrahman El Shirazy dalam buku Ayat-ayat Cinta. Andrea dan Habiburrahman lahir dari generasi nol buku. Kemampuan menuangkan pikiran dalam tulisan mereka peroleh dari kegemaran membaca.
Toh, cuaca agaknya, belum mendung total. Masih ada cahaya penerang yang tampak dari minimnya minat baca. Datanglah ke pameran-pameran buku. Di setiap pameran buku, berjubel pengunjung yang datang, sebagian di antaranya merogoh kocek untuk membeli buku. Itu boleh jadi, karena sebagaimana asimnya di setiap penyelenggaraan pameran, penerbit menawarkan potongan harga.
Ini juga diakui Setia Dharma. Dia bilang, ”Kalau melihat kunjungan pada saat pameran buku, itu bisa menandakan minat baca sudah tinggi.” Masalahnya, menurut dia, fenomena itu tidak sampai ke desa-desa. Problemnya, karena keterbatasan sarana untuk menjangkaunya.
Setia menyadari tidak ada grand design dari pemerintah untuk meningkatkan minat baca. Itulah yang mendorong Ikapi merumuskan grand design dengan mengajak Perputakaan Nasional dan sejumlah organisasi kemasyarakatan lainnya. ”Nanti kita duduk bersama,” tuturnya.
http://www.republika.co.id

Sebagai penulis tentunya kita dituntut untuk selalu produktif dalam menghasilkan berbagai karya tulisan, baik itu yang berupa cerita fiksi, atau bahkan tulisan yang sifatnya informatif, seperti artikel mengenai cara berkebun, artikel resep masakan, maupun artikel mengenai segala hal yang berhubungan dengan teknologi, misalnya saja artikel tentang berbagai tips dan pembahasan mengenai software komputer terkini. Ingatlah bahwa tulisan kita bisa “dijual” dan bermanfaat bagi masyarakat secara luas. Tentu kita tidak ingin bahwa tulisan dan naskah karya kita hanya menumpuk begitu saja di rumah, atau bahkan di hard disk komputer kita tanpa berdaya guna apa-apa. Buat apa produktif kalau kita tidak bisa menghasilkan “uang”, sesuatu yang bisa sekedar menjadi insentif bagi kita untuk terus berkarya. Memang segala kegiatan tulis menulis tidak sepenuhnya harus melulu bersangkut paut dengan uang, namun tentunya sebagai penulis kita juga membutuhkan penghasilan untuk dapat terus “hidup” dan “eksis” melalui tulisan-tulisan kita. Honor yang kita dapat dari menulis selanjutnya bisa kita gunakan untuk berbagai keperluan riset, misalnya, atau paling tidak untuk membiayai pengeluaran “perangko” atau untuk membiayai “ongkos mengirim artikel melalui internet di warnet”. Oleh karena itulah, sedapat mungkin setiap naskah tulisan kita hendaknya berbobot, berkualitas dan bernilai “jual” sehingga bisa layak dimuat di berbagai media massa baik lingkup nasional maupun internasional.

Karena dewasa ini dunia internet sudah begitu akrab di kalangan para penulis dan banyak membantu dalam pengiriman naskah artikel dengan biaya yang lebih murah, cepat dan efisien, maka dalam artikel tips kali ini akan dimuat beberapa alamat e-mail redaksi media massa mulai dari surat kabar, tabloid hingga majalah. Semoga alamat-alamat e-mail ini cukup berguna bagi para penulis yang ingin “mengadu nasib” mengirimkan naskah-naskah artikelnya. Naskah artikel bisa dilampirkan sebagai file attachment (file lampiran) dalam e-mail yang kita kirim ke redaksi media massa. Tentunya di e-mail yang kita kirim tersebut, sebaiknya kita berikan surat pengantar yang berisikan mengenai data pribadi kita, seperti nama, alamat, pendidikan terakhir penulis, minat dan spesialisasi penulis, nomor telepon, alamat e-mail hingga nomor rekening bank untuk menampung honor dari media massa bila tulisan kita dimuat. Biasanya kita baru akan menerima respon atau konfirmasi dimuat tidaknya karya tulis kita antara 1 hingga 2 bulan semenjak tanggal pengiriman naskah artikel.

Berikut ini disajikan beberapa alamat e-mail redaksi media massa (surat kabar, tabloid dan majalah baik dalam maupun luar negeri), semoga bisa membantu Anda yang ingin mengirimkan naskah karya tulisan demi mengais rupiah atau bahkan dolar dan euro :

Surat Kabar “Berita Sore” (Indonesia) redaksi@beritasore.com
Surat Kabar “Medan Bisnis” (Indonesia) mdnbisnis@nusa.net.id
Surat Kabar “Mediator” (Indonesia) mediator@indosat.net.id
Surat Kabar “Portibi” (Indonesia) portibidnp@yahoo.com
Surat Kabar “Realitas” (Indonesia) info@realitasonline.com
Surat Kabar “Sinar Indonesia Baru” (Indonesia) redaksi@hariansib.com
Surat Kabar “Waspada” (Indonesia) waspada@indosat.net.id
Surat Kabar “Haluan” (Indonesia) ptranah@indosat.net.id
Surat Kabar “Singgalang” (Indonesia) tanbaro@indosat.net.id
Surat Kabar “Riau Mandiri” (Indonesia) mnnet@indosat.net.id
Surat Kabar “Sumatera Ekspres” (Indonesia) sumeks@plg.mega.net.id
Surat Kabar “Berita Kota” (Indonesia) berikot@vision.net.id
Surat Kabar “Bisnis Indonesia” (Indonesia) bisnis@bisnis.co.id
Surat Kabar “Seputar Indonesia” (Indonesia) redaksi@seputar-indonesia.com
Surat Kabar “Guojiri Bao” (Indonesia) Idnews@cbn.net.id
Surat Kabar “Harian Perdamaian / He Ping Ribao” (Indonesia) ynshibao@cbn.net.id
Surat Kabar “Indonesia Shang Bao” (Indonesia) indshangbao@shangbao.co.id
Surat Kabar “Lampu Merah” (Indonesia) redaksi-lamer@yahoo.com
Surat Kabar “Media Indonesia” (Indonesia) redaksi@mediaindonesia.co.id
Surat Kabar “Modal” (Indonesia) redaksi@modalonline.com
Surat Kabar “Pantura” (Indonesia) pantura@indosat.net.id
Surat Kabar “Pantau” (Indonesia) pantau@isai.or.id

Sumber : Forum Penulis Kota Malang

Kami dr Majalah Visi Pustaka, terbitan Perpusnas RI
dengan oplah 1000 eks tiap terbitan ( 3 kali setahun),
yang didistribusikan ke berbagai Perpustakaan propinsi
dan kabupaten, perpustakaan umum, perguruan tinggi,
perpustakaan khusus di Indonesia dan ASEAN, memberikan
kesempatan kpd para pustakawan, penulis dan umum yg
pny bakat & minat nulis ilmiah untuk mengisi di
majalah kami.
Adapun tema dan isi naskah yaitu seputar Teknologi
Informasi perpustakaan, Knowledge Management,
Management Berbagai Perpustakaan umum dan khusus,
sistem pengelolaan Audio-video, serta jaringan
informasi dan kerjasama perpustakaan dengan berbagai
kaitannya.
Syarat Penulisan sbb:
1. Naskah ditulis dalam bhs Indonesia disertai abstrak
(tidak lebih dari 200 kata)
2. Naskah belum pernah dimuat di media lain
3. Identitas penulis disebutkan dengan jelas dan
lengkap (CV singkat)
4. Penulisan acuan menggunakan sistim pengarang-tahun
dan penyusunan daftar pustaka menurut abjad pengarang
5.Naskah yang masuk akan diseleksi oleh Dewan Redaksi
dan apabila perlu akan dilakukan penyempurnaan tanpa
mengubah isi naskah.
6. Bagi tulisan yang dimuat akan diberikan
imbalan/honor, dan bagi yang tidak dimuat akan
dikembalikan kepada penulis.
7. Naskah dikirim dalam bentuk digital diketik
menggunakan MS-WORD, jarak 2 spasi, panjang 12-20 hal,
ukuran kertas A4 ke email visi_pustaka@ pnri.go.id atau
firdaus_ari@ yahoo.com. Alamat Pos Redaksi Visi
Pustaka, Pusat Jasa dan Informasi, Perpustakaan
Nasional RI, Lt.4D Jl. Salemba Raya 28A, Jakarta
Pusat.
Artikel ditunggu paling lambat hingga akhir Maret
2008.

Demikian pengumuman ini dibuat, atas perhatian,
diucapkan terima kasih.

a.n.Red Visi Pustaka

Firdaus Ari N

NB.
Mulai pertengahan Tahun 2008, Majalah Visi Pustaka
sudah bisa di akses online dalam bentuk digital.

Laman Berikutnya »