Belakangan ini makin kuat kecenderungan untuk menyiasati penerbitan buku sastra sebagai sebuah industri. Persaingan pasar yang makin ketat, kepentingan penerbit untuk mengembalikan modal dan meraih keuntungan, serta kesadaran untuk memberikan royalti yang layak guna meningkatkan kesejahteraan penulis buku sastra, ikut mendorong ke arah itu.

Sederhananya, penulis buku sastra, dan penulis buku apapun, tidak akan mendapatkan royalti dan apresiasi yang memadai jika bukunya tidak laku. Dan, agar suatu buku bisa laku, baik penerbit maupun penulis, harus dapat membaca keinginan pasar. Dan, bagi dunia industri, pasar adalah segalanya.

Karena karya sastra adalah produk budaya, maka usaha penerbitan buku sastra yang bersifat profitable (komersial) dapat dianggap sebagai bagian dari industri budaya. Ia memiliki posisi yang sama dengan industri film atau musik, yang tidak hanya membawa peran kultural tapi juga peran bisnis karena ia diproduk untuk dijual guna mendapatkan keuntungan.

Ketika seseorang menempatkan produksi sastra dalam perspektif bisnis, sesungguhnya ketika itu pula karya sastra telah mengalami pergeseran fungsi tidak lagi hanya sebagai produk kultural tapi juga industri budaya. Karena itu, sebagaimana lazimnya sebuah sistem industri, karya sastra akan dianggap sebagai ‘komoditas’ yang menjadi salah satu alat perputaran modal. Karya sastra masuk dalam proses industrialisasi yang hampir sepenuhnya bergerak untuk kepentingan pasar.

Dalam perspektif inilah karya sastra dalam posisinya sebagai ‘komoditas’ itu sering harus tunduk pada kepentingan pasar. Di sini pula selera konsumen — seperti yang dipahami oleh industriawan –sering sangat menentukan corak komoditas tersebut. Meskipun, ’selera konsumen’ itu sering bersifat semu. Artinya, seringkali hanya berdasarkan praduga pebisnis. Mirip dengan rating acara televisi, maka tarikan pasar buku-buku sastra tertentu menjadi indikasi utama untuk menengarai selera konsumen.

Ke arah itulah kemudian buku-buku lebih banyak diterbitkan. Ketika tarikan pasar terhadap novel pop begitu kuat, misalnya, penerbitan buku novel pop mengalami kapitalisasi yang begitu besar. Dari sinilah kemudian lahir dan tumbuh penulis-penulis novel pop yang begitu ternama, seperti Mira W, Titiek WS, Marga T dan La Rose. Pada masanya, produksi roman-roman picisan Ali Shahab dan Motinggo Boesye juga mengalami kapitalisasi yang cukup besar.

Begitu juga fiksi-fiksi seksual karya para penulis perempuan, seperti Ayu Utami, dan Djenar Maesa Ayu. Di mata kapitalis, karya-karya para penulis perempuan itu memiliki tarikan pasar yang kuat, dan karena itu dirangkul untuk dikapitalisasi. Baik novel pop, fiksi seksual maupun roman picisan adalah contoh-contoh terpenting ‘buku-buku sastra’ yang mengalami kapitalisasi untuk masuk ke dalam sistem industri penerbitan.

Sesungguhnya, hampir seperti itu pula nasib ‘fiksi Islami’. Pada awalnya, fiksi Islami lahir sebagai upaya untuk membangun ruang alternatif bagi para penulis Muslim yang meyakini bahwa menulis adalah bagian dari upaya penyebaran nilai-nilai Islam, dan karena itu percaya bahwa penyebaran karya sastra adalah bagian dari upaya pencerahan nurani masyarakat.

Namun, ternyata buku-buku fiksi Islami — yang penerbitannya semula hanya ditangani oleh Annida, Forum Lingkar Pena (FLP) dan beberapa penerbit kecil seperti Asy-Syamil dan FBA Pers — memiliki tarikan pasar yang sangat kuat. Maka, penerbit-penerbit besar seperti Gramedia dan Mizan, pun lantas ramai-ramai ikut mnerbitkan buku-buku fiksi Islami. Buku-buku fiksi Islami yang semula diorientasikan ‘bacaan dakwah’ lantas masuk dalam sistem industri yang berorientasi keuntungan finansial.

Tentu, kapitalisasi sistem produksi (penerbitan) buku sastra tidak selamanya merugikan pertumbuhan sastra Indonesia. Kapitalisasi memberikan darah segar bagi sistem penerbitan buku sastra, dan karena itu ia juga merangsang produktivitas penciptaan karya sastra. Dengan sistem pengelolaan (manajemen) yang bervisi bisnis dan didukung modal besar, tiap judul karya sastra juga tidak hanya dapat diterbitkan dalam jumlah lebih besar tapi juga dapat dikemas secara lebih bagus dan didistribusikan secara lebih menyebar.

Dengan demikian, karya sastra juga mengalami pemasyarakatan secara lebih baik. Sementara, bagi para penulis, penerbit yang profesional dan bervisi bisnis dapat memberikan royalti yang lebih profesional sehingga dapat mendorongnya untuk lebih produktif. Selain itu, beberapa penerbit besar juga bersedia melakukan ’subsidi silang’ untuk menerbitkan karya-karya ’sastra idealis’ yang un-marketable, termasuk kumpulan puisi.

Meskipun begitu, orientasi bisnis yang begitu kuat menyebabkan karya-karya sastra yang marketable seperti novel pop, teenlit, chicklit, fiksi (remaja) Islami, dan fiksi seksual mendapat porsi perhatian yang lebih besar karena memang memiliki tarikan pasar yang lebih kuat. Sehingga, jumlah buku ’sastra idealis’ yang diterbitkan sangat terbatas dan harus melewati seleksi yang sangat ketat.

Karena itu, tetap perlu penerbitan-penerbitan alternaif bagi karya-karya ’sastra idealis’ yang tidak mendapat tempat di jaringan penerbit-penerbit komersial tersebut. Di sinilah, semestinya, pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar, dengan proyek-proyek penerbitan buku bersubsidi atau pengadaan buku-buku untuk perpustakaan sekolah yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah.

(Ahmadun Yosi Herfanda )

Sumber: http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=313393&kat_id=319

Iklan