“Saya tidak pernah membayangkan buku pertama saya akan membawa saya ke pameran buku terbesar di dunia, Frankfurt Bookmesse atau Frankfurt Book Fair. Lima hari saya berpameran dan berkeliling di Frankfurt Book Fair, telah benar-benar membuka mata saya terhadap yang namanya dunia buku global. Sebagai penulis baru, saya melahap semua yang bisa didapatkan dalam Frankfurt Book Fair (FBF) 2007: network, pengalaman, dan wawasan yang mungkin baru bisa saya dapatkan setelah puluhan tahun berkecimpung di dunia buku.”
Ungkapan di atas merupakan sekelumit kisah dan pengalaman dari Maris Stella Sutina, ibu dari seorang putri yang berprofesi sebagai konsultan, trainer sekaligus pengarang buku cerita anak dalam ajang Frankfurt Book Fair pada Oktober 2007 lalu. Apa yang dilakukan Stella di Frankfurt ini memang bisa dibilang nekat. Bagaimana tidak, baru satu kali mengarang buku sudah berani berpameran dan “menjajakan” bukunya secara langsung di pameran buku terbesar di dunia itu. “Bu Stella ini memang ’gila’,” ujar Paul Darminto, salah seorang pengunjung pameran asal Indonesia yang melihat langsung sepak terjang Stella sewaktu ’menjajakan’ buku karyanya dari gerai ke gerai penerbit mancanegara peserta pameran. “Baru kali ini saya melihat penulis dari Indonesia berani bertempur langsung di Frankfurt,” kata seorang editor dari salah satu penerbit buku di Indonesia yang sudah beberapa kali hadir dalam FBF.
Selama ini, gerai Indonesia atau Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dalam FBF hampir tidak pernah menghadirkan penulis- penulis buku asal Indonesia. Suatu pemandangan yang berbeda apabila dibandingkan dengan gerai-gerai dari negara lain. Gerai Singapura yang tahun 2007 ini bersebelahan dengan gerai Indonesia, misalnya, tak kurang menghadirkan lebih dari 3 penulis buku selama pameran. Oleh karena itu, apa yang dilakukan Stella, penulis buku I Love U by God selama di Frankfurt ini, merupakan pemandangan yang sangat langka, bahkan tidak pernah ada selama ini. Biasanya, dalam FBF, hanya buku-buku karya penulis Indonesia yang dipamerkan di gerai Indonesia atau di gerai-gerai negara lain, seperti buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer berbahasa Jerman yang dipajang di gerai salah satu penerbit Jerman Holleman.
Bermula dari “Oh, My God!”
Menurut Stella, buku I Love U by God sendiri baru selesai dicetak dan di-wrapping plastik beberapa jam sebelum bertolak ke Frankfurt. “Benar-benar masih hangat dari oven,” tutur Stella. Bahkan, urusan visa untuk berangkat ke Frankfurt baru kelar pada pukul 2 siang di hari keberangkatan. “Semuanya memang serba cepat dan mendadak. Jadi, hari pertama terbit langsung dipamerkan di Frankfurt,” kata Stella menambahkan.
Ide pembuatan buku I Love U by God terinspirasi dari perbincangan Stella di sela-sela nonton televisi dengan putrinya Kyla Christie Hambali (7) yang waktu itu masih berusia 3 tahun. Waktu itu terdengar dari TV seruan “Oh, My God”. “Kayla menanyakan kepada saya apa itu artinya,” kata Stella. Kesempatan tersebut digunakan Stella untuk menjelaskan konsep “GOD”. Stella kemudian mencari buku-buku untuk membantu memperkenalkan Tuhan kepada Kayla, tetapi tidak ada yang dirasa tepat. “Akhirnya dengan singkat saya katakan Tuhan adalah yang menyayangi Kyla sangat… sangat besar. Tapi ternyata itu tidak cukup, karena Kyla kembali bertanya seberapa besar “sangat-sangat besar” itu, kata Stella.
Pertanyaan Kayla tersebut rupanya terus terngiang di kepala Stella, bagaimana dia harus menjelaskan kasih Tuhan yang sangat-sangat besar kepada buah hatinya. “Sampai, suatu hari saya mengajak Kyla ke pantai, saya meminta dia melihat langit yang tinggi dan biru (tentu bukan di Jakarta), saya katakan padanya kasih Tuhan melebihi tingginya langit, dan dalamnya laut, melebihi apa yang bisa kita lihat. Dengan bantuan hal-hal konkret dari alam ciptaan Tuhan yang dapat dicerna panca inderanya, Kyla mulai mengerti kalau kasih Tuhan itu pada intinya melebihi segala sesuatu. Dengan pikirannya yang masih polos, Kyla menambahkan, kasih Tuhan lebih manis dari kembang gula favoritnya, lebih halus dari bulu boneka angsanya, lebih wangi dari susu stroberinya, dan seterusnya. Hasil dialog inilah yang saya dokumentasikan dan menjadi inspirasi utama pembuatan buku I Love U by GOD,” jelas Stella.
Kekuatan buku I Love U by God adalah go back to basic. Idenya sangat sederhana tetapi universal. Selain itu, buku tersebut dibuat dengan berbagai fitur yang mampu menstimulasi panca indra anak dan membangkitkan daya eksplorasi anak. Fitur buku di setiap halaman menarik untuk dilihat, diraba, dicium, bahkan dijadikan mainan. Di antaranya, ada halaman yang bermain dengan dimensi dalam, tinggi, dan besar. Sewaktu berkisah tentang kasih Tuhan yang lebih wangi dari stroberi, misalnya, dibuat fitur berupa buah stroberi yang diberi parfum stroberi, sehingga anak-anak secara langsung dengan indera penciumannya bisa merasakan harumnya sebuah stroberi. Demikian juga ada halaman yang bisa menyala dalam gelap (glow in the dark). Di situ ditampilkan suasana malam hari yang cerah di mana bulan dan bintang tampak menyala dengan terang menghiasi langit dengan begitu indahnya. Sehingga, anak-anak dapat bereksplorasi dengan kasih Tuhan yang melebihi luasnya semesta.
Di tengah banjir “princess”, kartun, dan superhero
Di tengah buku pop-up nan canggih yang dipamerkan dalam FBF, buku interaktif I Love U by God ternyata masih menarik bagi para penerbit mancanegara. “Sewaktu saya membacakannya kepada mereka, buku ini cukup mencuri hati mereka dan mendatangkan respons yang sangat positif untuk diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diterbitkan ke berbagai negara, mulai dari bahasa Perancis, Jerman, Italia, Spanyol, Portugis bahkan sampai ke negara seperti Yunani,” kata Stella.
Di tengah membanjirnya buku-buku bertema princess seperti Putri Salju, Cinderela atau Belle, atau superhero seperti Batman dan Superman dan tokoh kartun seperti Mickey atau Dora Emon yang menyita sebagian besar isi rak dari gerai penerbit buku anak dalam FBF 2007, buku karya Stella bersama putrinya Kayla ini memang menawarkan sesuatu yang berbeda. Temanya yang universal, yakni soal mengenalkan konsep kebesaran kasih Tuhan dengan mempergunakan fitur-fitur yang menarik, eksploratif dan interaktif, membuat buku ini mendapat respons yang baik.
“Buku-buku anak yang ada dalam pameran ini yang sekarang didominasi buku-buku visual dan isi dan bentuknya bisa dikatakan semua hampir sama. Sebagian besar isinya cerita tentang karakter-karakter film seperti princess, superhero, atau karakter-karakter lain dan buku-buku kegiatan atau aktivitas. Kemasannya saja yang semakin menarik dan bervariasi,” kata Joko Wibowo, editor buku anak dari penerbit Elexmedia Komputindo. Ia juga menambahkan bahwa sangat jarang ditemui buku anak yang temanya mengenalkan konsep yang lebih universal, misalnya Tuhan. Kalaupun ada, pembahasannya biasanya to the point, langsung, terutama bagi anak-anak prasekolah dan anak balita. Sementara untuk anak-anak yang lebih besar berupa buku-buku yang mengambil kisah dari alkitab atau bible.
Salah satu respons positif terhadap buku I Love U by God, diungkap oleh Cathy Brenty, editor Editions des Béatitudes, penerbit buku berbahasa Perancis yang sudah mengikuti pameran di Frankfurt selama hampir 20 tahun berturut-turut. “Saya sangat menghargai bila dapat membacakan cerita yang indah ini kepada calon cucu saya. Buku I Love U by God memberikan kesan mendalam dan indah dalam diri saya. Buku ini sangat jelas, sederhana, dan indah, baik dalam gambar maupun bahasa. Bahasa tulisan maupun ilustrasi yang dapat dimengerti dan dihargai oleh setiap budaya dan bahasa,” ungkap Cathy Brenty. Ia juga menambahkan bahwa dengan jelas buku tersebut ditulis sepasang ibu dan anak untuk ibu-ibu dan anak-anak. Untuk diceritakan setiap saat di siang hari maupun malam hari untuk menumbuhkan iman anak pada Tuhan.
Menurut Stella, Cathy meminta diberikan prioritas pertama untuk menerbitkan buku I Love U by God dalam bahasa Perancis untuk negara-negara berbahasa Perancis. Bahasa Perancis digunakan di beberapa negara, seperti Kanada, Belgia, Swiss, hingga ke Afrika Selatan. Cathy adalah salah satu dari 11 penerbit yang jangkauan dan distribusinya mencapai lebih dari 20 negara.
Dari Indonesia ke Frankfurt lalu mendunia
Respons positif tersebut semakin memantapkan Stella bahwa suatu ide yang sederhana, mendasar dan universal, dengan pengerjaan yang sepenuh hati dan desain dari bakat terbaik anak negeri, didukung dengan teknologi cetak buku terbaik, dapat meraih sukses. “Saya percaya buku I Love U by God dan kelak buku cerita anak dari Indonesia lainnya akan mampu berbicara dengan anak-anak secara universal di berbagai belahan dunia. Frankfurt Book Fair bukan saja sebuah jendela buku dunia, tapi telah menjadi gerbang bagi buku Indonesia untuk mendunia,” tutur Stella.
Apa yang sudah dilakukan oleh Stella selama FBF 2007 lalu tentunya bisa memberi inspirasi dan dorongan bagi para penulis Indonesia untuk tidak perlu ragu dan takut lagi go international dengan cara jemput bola atau terjun langsung di kancah pameran kelas dunia. Kehadiran pelaku industri buku Indonesia di kancah pameran industri buku dunia, seperti Frankfurt Book Fair, di masa datang tak hanya sebagai pembeli hak cipta, tetapi justru bisa berbalik arah sebagai penjual hak cipta penerjemahan buku. Semoga!
(Anung Wendyartaka/ Litbang Kompas)
Sumber : kompas.com