sang20pemimpi20gdheketika-cinta-bertasbih

Seminggu ini saya berusaha menamatkan dua novel yang akan difilmkan yaitu Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dan Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2 karya Habiburrahman El-Shirazy. Selesai membaca kedua novel ini, sebagai pembaca pemula, saya punya uneg-uneg untuk dituangkan dalam tulisan sebagai curhat.

Sang Pemimpi berkisah tentang dua orang sahabat, Ikal dan Arai, plus teman satu kostnya yang bernama Jimbron. Dua tokoh ini punya impian yang, bagi penduduk kampung Belitong, sangat tinggi, yaitu menginjak altar suci Universitas Sorborne Prancis. (lebih…)

Mungkin orang tidak merasa aneh jika di negara-negara maju, profesi penulis sudah digeluti secara profesional karena bisa mendatangkan profit yang bukan hanya cukup untuk “sesuap nasi” tetapi juga cukup untuk “sepiring berlian”. Kita ambil contoh, J.K. Rowling yang dari novelnya menghasilkan triliunan rupiah. Sehingga dengan profesinya ini, dia bisa duduk santai tanpa bekerja lagi hingga maut menjemput sembari menikmati rumah megahnya seharga 80 Miliyar di London.

Bukan hanya di luar negeri, tetapi kini di Indonesia kita temukan para penulis yang menghasilkan milyaran rupiah. Sebagai contoh, Habiburrahman El-Shirazy yang novel Ayat-ayat Cinta -nya mampu terjual lebih dari 400.000 eksemplar dan mendapat royalty lebih dari 1,8 Miliyar. Itu belum termasuk royalty untuk film-nya dan undangan ceramah yang tiada henti-hentinya dan tak pelak mengalirkan pundi-pundi rupiah dengan derasnya. Selain novel Ayat-ayat Cinta, novel karyanya yang lain juga menuai sukses. Salah satunya adalah Ketika Cinta Bertasbih 1 yang terjual 150 ribu kopi daam jangka waktu satu tahun.

Selain Habiburrahman kita juga mengenal nama Andrea Hirata yang sukses melalui novel Laskar Pelangi. Pada cetakan terbarunya, tertulis bahwa novel ini sudah terjual 500.000 kopi. Ini artinya, sedikitnya 2 Miliyar rupiah sudah memenuhi tabungannya. Sedangkan untuk bedah buku maupun bicara sastra, dia “dihargai” 50 juta untuk sekali “panggilan”. Selain itu, novel-novel lainnya (Sang Pemimpi dan Edensor) juga laris di pasaran.

Sukses menulis buku, ternyata tidak hanya dialami penulis fiksi (novel), tetapi juga dirasakan oleh penulis non-fiksi. Salah satunya adalah Ary Ginanjar yang buku ESQ –nya terjual 750.000 kopi. Padahal buku itu diproduksi sendiri, sehingga keuntungannya bisa diraup secara maksimal. Jika seorang penulis mendapat royalty 6-10% dari harga bruto, maka jika buku itu diterbitkan sendiri, paling tidak bisa meraup 20-50% dari harga bruto. Itulah keuntungan yang ditangguk dari menerbitkan sendiri atau dikenal dengan Self Publishing.

Ada pula penulis yang kemarin sempat membuat heboh karena mempromosikan bukunya dengan menebar uang dari udara. 100 juta rupiah ia tebarkan dari helikopter untuk memompa penjualan bukunya. Tung Dasem Waringin, nama penulis itu pasti tidak merasa rugi “membuang-buang” uangnya karena—menurut sebuah sumber—bahwa untuk menulis buku itu dia mendapat bayaran 2 Miliyar rupiah di muka.

Tetapi kesuksesan seperti itu tidak dinikmati oleh setiap penulis buku. Bahkan penulis yang bukunya sudah puluhan bahkan ratusan, belum tentu “bernasib baik” seperti itu. Sedangkan buku sukses seperti Laskar Pelangi ataupun ESQ dihasilkan oleh penulis yang baru menulis satu buku. Dengan demikian, sukses penjualan buku tidak ditentukan oleh berapa banyak buku yang ditulis, tetapi lebih dari itu adalah isi (konten) dari buku tersebut. Dan, yang paling menentukan tidak lain adalah nasib baik atau biasa dikenal takdir.

Sukses novel Ayat-ayat Cinta yang diangkat ke layar lebar, diikuti pula dengan sukses Laskar Pelangi, novel karya Andrea Hirata. Bahkan, diprediksikan jumlah penonton film yang mengambil setting Belitong ini akan melampaui film yang turut mempopulerkan Poligami. Fenomena seperti ini jelas menggugah para penerbit buku berlomba-lomba memvisualisasikan karya andalannya.

Dalam waktu dekat, kabarnya novel Kambing Jantan akan diangkat ke layar lebar. Sementara itu, Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-Shirazy lainnya sudah mendekati masa terakhir audisi dan sebentar lagi mulai syuting. Ada pula kabar bahwa kawan lama di Al-Azhar, Aguk Irawan, novelnya akan diangkat ke layar lebar (judulnya saya lupa).

Diprediksikan pada tahun depan, prospek novel di dunia penerbitan buku masih sangat bagus. Bahkan, ada kecenderungan industri film akan mendekati para penerbit untuk mengangkat karya tulisan dalam bentuk visual. Hal ini merupakan berkah besar bagi penerbit. Selain mendongkrak penjualan bukunya, juga merupakan promosi gratis. Apalagi brand penerbit buku akan terangkat ketika ada bukunya difilmkan.

Bagaimana dengan penerbit buku Islam seperti Pustaka Al-Kautsar? Insya Allah kita juga akan mengikuti trend ini, bukan karena latah, tetapi ingin menyemarakkan dunia perbukuan sambil berdakwah. Terbukti, sukses Ayat-ayat Cinta mampu memberikan gambaran Islam yang indah. Bahkan, poligami yang biasanya sering dihujat, dalam film tersebut sepertinya “ditoleransi” oleh para ibu-ibu. Bukankah dakwah tidak terbatas lewat lisan dan tulisan saja? Sekarang zamannya visual, dan saatnya mengaji di Bioskop. Mungkinkah?

Pameran buku bukan sekadar arena jualan buku, tapi lebih dari itu sebagai sarana mengedukasi masyarakat agar mempunyai wawasan luas lewat media buku. Oleh karena itu, pada Pesta Buku Jakarta (PBJ) yang akan berlangsung pada 28 Juni sampai 6 Juli 2008 ini ada bedah buku dari para penulis dan praktisi perbukuan.

Salah satu agenda PBJ adalah bedah buku “Bangkit dari Keterpurukan” yang akan diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2008 pukul 16.00-18.00 di Ruang Anggrek Lantai 2 JCC. Pembicaranya dari penulisnya langsung, yakni Khoerussalim Ikhs yang didampingi Zainal Arifin sebagai pembanding. Dengan adanya bedah buku ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk tetap bisa survive di masa-masa sulit.

Selain itu, ada pula acara temu penulis terkenal Andrea Hirata yang sukses besar dengan novel Laskar Pelangi. Andrea yang ditemani Mira Lesmana (Produser Film) akan mengangkat topik “Dari Buku ke Layar Lebar.” Juga ada seminar “Dari Blog Jadi Buku” dengan menampilkan Sri Sariningdyah (Ibu Presiden MP-ers) yang sukses menggarap buku “Gigabite of Love” dan merupakan kumpulan tulisan di blog-blog Mp-ers.

Anak-anak muda belia itu berbaur dengan ratusan ibu-ibu dan orangtua. Banyak dari anak muda itu masih berseragam sekolah, remaja wanita umumnya berbusana muslimah. Beberapa dari ibu-ibu menyebut diri sebagai pendidik. ”Saya datang bersama sejumlah siswa saya karena tertarik dengan buku Laskar Pelangi,” ujar seorang guru dari Bekasi
Petang itu, Kamis (6/3), Andrea Hirata penulis buku laris tersebut tampil berbicara dalam talk show ‘Menggapai Mimpi Bersama Laskar Pelangi’ di panggung utama Islamic Book Fair (IBF) 2008 di Istora Senayan, Jakarta. Andrea tampil bersama Mira Lesmana, produser film yang berniat melayarlebarkan novel berlatarbelakang pendidikan di Belitung itu.
Panggung utama IBF 2008 sesak. Tak hanya memadati bagian depan dan sekitar panggung, sebagian pengunjung sampai berjubel di balkon depan panggung yang dibatasi oleh stand-stand pameran. Bahkan, balkon bagian belakang panggung pun dipenuhi pengunjung. Mereka antusias mendengarkan penuturan Andrea sekitar proses penulisan bukunya.
Bagi Andrea Hirata, ini memang bukan kali pertama ia berdialog langsung dengan pembaca bukunya. Setelah Laskar Pelangi meledak di pasar, pria kelahiran Belitung ini bak selebriti. Namanya menjadi terkenal, wajahnya yang bulat dengan rambut ikal sudah tak asing lagi di mata banyak orang. ”Proses (penulisan) spontan saja. Kalau ada waktu, saya menulis, karena saya harus bekerja,” kata dia menjawab pertanyaan.
Rupa-rupa pertanyaan yang diajukan kepadanya. Selain proses kreatif, ada pula yang menanyakan sosok di balik cerita dalam buku itu, sampai masalah pribadi. Misalnya, soal lagu Rhoma Irama yang di dalam buku itu disebut sebagai lagu kesayangannya, tentang Aling, wanita keturunan China yang membuatnya jatuh hati, sampai ke persoalan di luar cerita dalam buku, berkaitan dengan statusnya yang hingga kini masih membujang.
Seorang siswa SMP bertanya, ”Kami kagum dengan prestasi yang diraih Lintang –salah seorang anggota Laskar Pelangi. Sekarang bagaimana?” Andrea mengatakan, Lintang dan anggota Laskar Pelangi lainnya menolak untuk tampil di depan umum. ”Karena menjadi perhatian publik sungguh tidak mudah,” ucap Andrea.
Bagaimana dengan Aling? Andrea mengakui, soal ini banyak ditanyakan kepadanya di berbagai kesempatan. Sebagaimana sebelumnya, kali ini ia masih tak memberikan jawaban tegas. Dia hanya berujar, ”Tunggulah di Mariamah Karpov.”
Mariamah Karpov adalah novel keempat yang tengah ditulisnya, melengkapi tiga novel sebelumnya. ”Ini novel yang paling sulit karena tentang perempuan,” lanjut dia. Andrea memastikan buku keempatnya itu akan memuat kisah tentang perempuan, yang tebalnya mencapai sekitar 700 halaman.
in Action
Sadar bahwa Laskar Pelangi bukanlah bentukan dirinya, Andrea Hirata enggan mengonsumsi hasil penjualan bukunya untuk pribadi. Laskar pelangi adalah panggilan ia dan teman-temannya oleh sang guru tercinta. Maka, royalti penjualan buku tetraloginya dialokasikan untuk dunia pendidikan. ”Kami berikan seluruhnya untuk Laskar Pelangi in Action,” kata Andrea.
Laskar Pelangi in Action adalah program pendidikan yang diadakan Andrea sebagai upaya pengembalian semangat pendidikan. Pasalnya SD Muhammadiyah, tempat ia bersekolah di Belitong, sudah tidak ada lagi. ”Sudah rata dengan tanah,” ujar dia.
Laskar Pelangi in Action adalah program belajar intensif bagi kelas 3 SMP dan 3 SMU. Semacam bimbingan belajar. Mereka mendapatkan pelajaran intensif untuk mata pelajaran Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, dan Bahasa Inggris. Program tersebut mulai efektif pada Mei mendatang.
Seberapa besar royalti yang diberikan, Andrea tidak menyebutkannya dalam angka. Ia hanya menyebutkan, dari buku bagian pertama tetraloginya, sudah beredar hampir 500 ribu eksemplar. Manajer Andrea, Dhipie Kuron menambahkan, untuk setiap buku yang dijual, Andrea mendapatkan royalti 15 persen. ”Semuanya untuk Laskar Pelangi In Action. Termasuk juga nanti royalti dari filmnya,” ujar dia.
Film
Laskar Pelangi saat ini tengah dalam proses pembuatan film. Andrea mempercayakan pembuatannya kepada Mira Lesmana dan Riri Riza. Direncanakan film tersebut beredar tahun ini, beriringan atau akan diikuti dengan buku terakhir tetralogi, Maryamah Karpov.
Menurut Mira, Laskar Pelangi merupakan buku yang sangat sinematik. ”Cara Andrea menjelaskan, semua berkesan untuk dibuat fllm. Banyak kejadian menarik,” ucapnya. Bagi Mira, medium buku berbeda dengan film. Apalagi, cerita dalam buku Laskar Pelangi panjang, sehingga sulit untuk film. Namun, dia mengakui, ini suatu sinergi yang menarik. Andrea, disebutnya, menyerahkan naskah bukunya untuk diterjemahkan ke dalam sineas. ”Yang penting, jangan sampai pembaca bilang, kita tidak mendapatkan yang baru. Nanti orang bilang, mending baca bukunya saja,” tuturnya.
Mira menjelaskan Laskar Pelangi punya akar cerita yang dalam film akan betul-betul terbangun, membawa kita memahami hidup lebih baik lagi. ”Walaupun Andrea memberi kebebasan naskah bukunya diinterpretasi, tapi kami tidak jalan kalau tidak ada persetujuan Andrea. Itu jaminan awal,” kata Mira. bur/ria

Diambil dari (Sumber): republika.co.id

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.