Tips n Trik


Banyak orang telah memiliki naskah tulisan yang telah siap dicetak, tapi tidak tahu akan dikirimkan ke penerbit mana. Penulis juga tak memiliki cukup informasi tentang aturan main dalam dunia penerbitan. Berikut ini beberapa tips memilih penerbit:

1. Kenali penerbit yang dituju, berikut divisi-divisi mereka, pastikan karya yang kita kirimkan sesuai dengan karakter divisi penerbit tersebut.

2. Cari data tentang penerbit-penerbit sejenis, semakin banyak, semakin banyak pilihan pula bagi kita. (lebih…)

Akhir-akhir ini penerbit buku dihadapkan pada dua kondisi sulit. Pertama, harga bahan baku berupa kertas, tinta, dan lain-lain. Kedua, daya beli masyarakat yang menurun karena pengarung naiknya harga BBM.
Menaikkan harga buku merupakan pilihan tidak terhindari dari penerbit buku. Ada yang naik 20% sampai ada yang naiknya mencapai 50% hingga 70 %. Padahal, penerbit sendiri juga yakin bahwa dengan harga normal saja, pembeli lebih memprioritas kebutuhan sembako daripada buku, apalagi jika harga dinaikkan. Menyikapi hal ini, penerbit dituntut kreativitasnya supaya tetap survive di masa-masa sulit.
Salah satu hal yang harus dilakukan penerbit adalah seoptimal mungkin mengerahkan “laskar penjualan” untuk melakukan penjualan dengan sistem direct selling, artinya tidak menggantungkan harapan pada toko buku. Sebab, sudah bisa diprediksikan bahwa masyarakat tidak terlalu antusias untuk mengunjungi toko-toko buku seperti Gramedia maupun Gunung Agung. Mereka lebih prioritas pada kebutuhan pokok. Selain itu, sistem direct selling dapat memangkas harga jual buku. Kita tahu bahwa toko-toko buku mengambil 40% sampai 50% (bahkan sampai 60%) dari harga jual. Dengan adanya direct selling, maka buku bisa dijual langsung ke konsumen dengan diskon hingga antara 30% hingga 50%. Selanjutnya, dengan adanya direct selling penerbit juga akan mendapat uang cash. Sebagaimana kita tahu, bahwa menitipkan produk di toko-toko buku biasanya menggunakan sistem konsinyasi dengan pembayaran sistem 1+3. Artinya, sebulan setelah prodok dititipkan penerbit akan mendapat laporan dari toko buku tentang jumlah yang terjual, dan akan diberikan giro untuk dicairkan 3 bulan mendatang.

Ruangan itu hanya sekitar 4 x 5 meter, namun penuh dengan komputer. Para petugas yang berseragam abu-abu sibuk mengotak-atik komputer. Tampak salah seorang lelaki dengan sopan menyodorkan foto copy halaman depan bukunya untuk mengurus ISBN bukunya yang akan diterbitkan secara self-publishing. Ratna, begitu nama petugas tersebut, dengan ramah melayani pertanyaan yang disampaikan. Sekitar 15 menit, lelaki itu duduk menunggu dan kemudian mendapat panggilan untuk menandatangni secarik kertas. Dia juga menyodorkan uang 25 ribu rupiah sebagai biaya administrasi dan ISBN bukunya pun kelar sudah. Demikianlah ilustrasi suasana di lantai 2 Perpustakaan Nasional.

Masih banyak orang yang bingung bagaimana cara mengurus ISBN. Padahal sebenarnya sangat mudah dan simple. Cukup 15 menit (kalau tidak ngantri) ISBN sudah ada di tangan. Caranya, datang langsung ke Perpustakaan Nasional Jl. Salemba Raya 28A Jakarta 10430 dan masuk ke lantai 2. Tepat di depan pintu lantai dua terletak kantor pengurusan ISBN. Kita tinggal meminta formulir dan mengisinya sesuai dengan buku yang akan diterbitkan. Selain itu, kita perlu menyodorkan foto copy halaman depan buku yang berisi back title (judul, nama penulis, nama penerbit, cetakan ke berapa), pengantar penulis/penerbit, pendahuluan bab buku, dsb. Setelah itu cukup tunggu sebentar dan kita akan diminta untuk membayar uang administrasi 25 ribu rupiah/judul buku yang diajukan.

Adapun alamat lengkap Perpustakaan Nasional adalah di Jl. Salemba Raya 28A Jakarta 10430 Kotak Pos 3624 Jakarta 10002 Telp. 021-3922669, 3922749, 3922855, 3923116, 3923867, sedangkan situsnya di www.pnri.go.id.

Diambil dari tulisan Bambang Trim di milist editor Indonesia:

Editor pemerolehan yang merupakan padanan dari
acquiring editor adalah sebuah harapan bagi penerbit
guna meniscayakan ketersediaan naskah. Naskah
merupakan bahan baku utama dalam proses penerbitan dan
sumbernya adalah para penulis serta pengarang. Karena
itu, beberapa penerbit yang berorientasi pada jangka
panjang membentuk Bank Naskah sebagai lembaga stok
naskah.

Sebegitu susahkah naskah dicari sehingga diperlukan
komitmen dan kerja khusus untuk mendapatkannya? Mari
kita tilik empat usaha penerbit dalam mendapatkan
naskah.
1. Usaha pasif yaitu usaha menunggu kiriman naskah
dari penulis/pengarang. Naskah yang diterima biasa
disebut unsolicited atau naskah yang tidak
direncanakan terbit.
2. Usaha aktif yaitu usaha mencari dan menelusuri
sumber-sumber naskah secara langsung. Naskah yang
diterima biasa disebut solicited atau naskah yang
sudah direncanakan sebelumnya.
3. Work-Made-for- Hire yaitu usaha mengadakan naskah
dengan melibatkan internal penerbit, misalnya editor
yang diminta untuk menulis topic tertentu.
4. Usaha penerjemahan yaitu usaha mengalihbahasakan
buku-buku yang sudah terbit di luar negeri.

Usaha pertama sudah banyak ditinggalkan oleh beberapa
penerbit besar karena pasif menunggu tidak menjamin
bisa memperoleh naskah yang diharapkan. Kerapkali
naskah yang datang secara tidak diundang adalah
naskah-naskah “sampah” yang malah merepotkan
redaksi untuk mengembalikannya.

Usaha kedua dan seterusnya adalah usaha yang kini
paling relevan untuk dilakukan di tengah ketatnya
persaingan mendapatkan naskah antarpenerbit. Untuk
itu, penerbit yang proaktif mendapatkan naskah
memerlukan kerja seorang editor pemerolehan atau
acquiring editor.

Dalam hal ini seorang acquiring editor memang harus
berjibaku memenuhi target kuantitas pemerolehan
naskah. Seorang editor pemerolehan haruslah seseorang
yang peka terhadap tren dan kecenderungan, punya
naluri seperti detektif atau wartawan, dan memiliki
jaringan luas. Dengan demikian, ia bisa bergerak
lincah setiap hari menelusuri sumber-sumber naskah
yang tersembunyi.

Berikut adalah jaringan pengadaan naskah yang perlu
dikuasai oleh seorang editor pemerolehan:
1. jaringan selebritis untuk mendapatkan naskah
biografi, autobiografi, refleksi, maupun keterampilan
hidup;
2. jaringan pejabat publik untuk mendapatkan naskah
biografi, autobiografi, kebijakan publik, refleksi;
3. jaringan akademisi untuk mendapatkan naskah buku
teks, pendidikan, biografi, autobiografi, penelitian;
4. jaringan jurnalis/media massa untuk mendapatkan
naskah informasi, peristiwa, pengetahuan praktis,
ataupun keterampilan hidup;
5. jaringan profesional untuk mendapatkan naskah
motivasi, kepemimpinan, manajemen, pengalaman, dan
keterampilan hidup.
6. jaringan pengusaha untuk mendapatkan naskah kiat,
entrepreneurship.
7. jaringan intelektual/ cendekiawan untuk mendapatkan
naskah refleksi, biografi, autobiografi, penelitian,
dan pendapat.
8. jaringan rohaniawan untuk mendapatkan naskah
spiritual, pencerahan, biografi, autobiografi.
9. jaringan sastrawan untuk mendapatkan naskah puisi,
novel, cerpen, dan drama.

Untuk menguasai jaringan tersebut, seorang editor
pemerolehan harus proaktif menguasai berbagai
sumber-sumber informasi seperti berikut ini:
1. media massa cetak yang harus dibaca setiap hari
yang meliputi koran nasional serta majalah berita
ataupun majalah spesifik yang relevan;
2. internet dengan mengunjungi situs-situs yang
relevan serta juga ikut dalam milist-milist relevan
atau juga mengadakan situs maupun blog sendiri;
3. buku-buku best seller ataupun buku-buku karya
penulis yang akan diincar untuk dimintai naskah;
4. katalog-katalog penerbit, baik dari dalam negeri
maupun dari luar negeri;
5. seminar/pelatihan/ lokakarya yang pantas untuk
diikuti guna memburu para narasumber untuk menulis
naskah.

Cara kerja proaktif ini memerlukan perencanaan yang
matang dari seorang editor pemerolehan. Sebuah
perencanaan pengadaan naskah hendaknya diikuti dengan
GAGASAN TOPIK/JUDUL, PROFIL NARASUMBER YANG TEPAT,
PROFIL PENULIS PENDAMPING (APABILA DIBUTUHKAN), serta
MOMENTUM PENERBITAN.

Dalam hal ini seorang editor pemerolehan juga mutlak
harus memahami:
1. jenis-jenis naskah, yaitu fiksi, nonfiksi, dan
faksi;
2. jenis-jenis kerangka (outline), yaitu tahapan,
butiran, aliran, dan tanya-jawab.

***

Kriteria seperti yang disebutkan sebelumnya memang
tidak gampang dilakoni seorang editor pemula. Akan
tetapi, bukan sesuatu yang juga tidak bisa dikuasai.
Kegigihan seorang editor untuk mau belajar dan
berusaha adalah kunci bagi peningkatan
profesionalitasnya di samping juga kunci bagi
kesuksesan penerbit. Karena itu, penerbit yang serius
mestinya menginvestasikan modal untuk peningkatan
profesionalitas editor lewat pembinaan, pelatihan, dan
pengarahan. Di sisi lain, editor yang serius juga
harus berani mengajukan diri sebagai orang yang pantas
menjadi kader penerbitan masa mendatang.

Bambang Trim
praktisi perbukuan nasional

(Oleh Hernowo)
Saya menganggap buku itu seperti makanan. Jika ada makanan yang bergizi, ada juga buku yang bergizi. Yang saya maksud buku yang bercahaya adalah buku yang bergizi. Kebergizian buku, menurut saya, terletak pada kualitas bahasa tulisnya. Apa pun tema yang diusung sebuah buku, jika bahasanya semrawut, tidak tertata, tidak “menggerakkan” pikiran, dan tidak juga menyentuh emosi (alias bahasa tulisnya tidak indah), buku itu akan menggelapi pembacanya.
Apa pun jenis buku yang ingin kita buat—termasuk juga buku pelajaran atau buku panduan untuk bahan pengajaran di sekolah—tetap dapat kita tampilkan menjadi buku yang bercahaya. Di samping soal bahasa tulis yang layak untuk mendapatkan titik tekan, kita juga harus memerhatikan secara saksama tentang pengemasan. Misalnya, bagaimana memadukan “bahasa kata” dan “bahasa rupa”, serta bagaimana agar ketika buku itu dibaca, buku tersebut dapat merangsang seluruh area otak pembacanya.
Bagaimana agar kita—sebagai penerbit, editor, proofreader, penulis—dapat menghasilkan buku yang bercahaya? Sebelum saya memberikan kiat-kiat menghasilkan buku yang bercahaya, saya akan menunjukkan terlebih dahulu manfaat buku yang bercahaya. Semoga dengan menghadirkan deretan manfaat sebuah buku yang bercahaya, kita kemudian terdorong (termotivasi) untuk menerapkan, secara kontinu dan konsisten, kiat-kiat menghasilkan buku yang bercahaya.
Manfaat Buku yang Bercahaya
Pertama, membangkitkan minat orang untuk membaca. Teks yang gelap (ruwet dan hampa) akan membuat si pembaca kelelahan dalam memahami teks tersebut. Sebaliknya, teks yang terang-benderang atau bercahaya akan membuat si pembaca senang dan bergairah untuk mencerna teks tersebut meski teks itu memendam persoalan yang pelik. Bayangkan jika banyak orang tertarik untuk membaca karena mendapatkan teks-teks bercahaya yang menyenangkan mereka.
Jadi, teks yang bercahaya akan membuat seseorang senang. Meminjam istilah dalam psikologi, teks-teks yang bercahaya akan menjadikan seseorang mampu membangun emosi positif. Menurut para pakar otak, emosi positif akan membuat otak dapat bekerja secara maksimal. Sementara itu, emosi negatif (yang diakibatkan oleh teks-teks yang gelap) akan membuat seseorang menggunakan otak paling rendah ketika berpikir, yaitu otak reptil yang reaktif (hadapi atau lari).
Kedua, menggairahkan orang untuk berpikir keras. Kepuasaan membaca itu akan dirasakan oleh seorang pembaca apabila, usai membaca, si pembaca memperoleh makna atau sesuatu yang mencerahkan, menggerakkan, dan membuka lebar-lebar pikiran. Jika teks itu hampa, tidak menghadirkan apa-apa, kerja keras pikiran dalam mencerna teks itu akan sia-sia. Nah, kerja keras pikiran akan menghasilkan sesuatu yang bermakna jika makna itu dibawa oleh teks yang tertata, teks yang bercahaya.
Apa efek dari tergairahkan, tercerahkan, dan terbukanya pikiran oleh teks yang bercahaya? Ada kemungkinan, orang yang mengalaminya akan mengabarkan kepuasan membacanya kepada orang lain. Artinya, buku yang dibacanya akan disebarkan dan dikabarkan ke orang-orang lain. Yang lebih dahsyat, efek dari hal ini adalah munculnya ide-ide baru dari diri orang yang mengalami pencerahan tersebut.
Ketiga, membagikan ilmu secara sangat efektif. Dalam Islam, ilmu yang bermanfaat diibaratkan sebagai sesuatu yang bercahaya. Buku adalah sarana paling efektif untuk membagikan ilmu yang bagaikan cahaya itu. Lewat buku, seseorang diajak untuk berpikir mendalam. Lewat buku pula seseorang tidak hanya memahami sesuatu hanya kulitnya. Dan lewat buku pula, seseorang dirangsang untuk memperkaya pemerolehan ilmunya (karena di dalam buku akan disebut sumber-sumber tepercaya yang dirujuk oleh si penulis buku).
Jadi, buku adalah sarana yang paling tepat untuk membagikan ilmu yang bermanfaat. Tetapi, apa jadinya, jika bahasa tulis yang digunakan oleh buku tersebut tidak bercahaya alias gelap-pekat? Apakah ilmu yang bercahaya itu akan dapat diserap oleh para pembacanya? Apakah peran buku sebagai pengedar ilmu akan bisa dimainkannya? Betapa ruginya si buku tersebut jika di dalamnya ada ilmu yang bercahaya, tetapi bahasa buku itu gelap-pekat?
Menghasilkan Buku yang Bercahaya
Saya tidak akan menyajikan kiat-kiat dalam bentuk praktis. Saya akan menyajikan kiat-kiat dalam menghasilkan buku yang bercahaya secara bercerita. Cerita pertama datang dari seorang doktor filsafat yang mencintai buku dan kegiatan menulis. Sang doktor ini bernama Mulyadhi Kartanegara. Di antara belasan karya berbobotnya, mencuat satu buku karyanya yang unik. Judulnya Seni Mengukir Kata. Dalam buku itu, dia bercerita, “Menulis sebagai seni, pada dasarnya sulit untuk dikuasai hanya berdasarkan teori. Ia memerlukan pengalaman, latihan-latihan, dan panduan-panduan yang ditulis oleh para penulis yang berpengalaman sehingga memiliki keinsafan dan kesadaran penuh akan problem-problem praktis yang sering dialami opleh para calon penulis.”
Cerita kedua datang dari seorang ahli linguistik bernama Stephen D. Krashen. Dr. Krashen menulis buku berjudul The Power of Reading. Buku ini berisi hasil-hasil risetnya tentang kedahsyatan membaca. Dalam salah satu halaman di bukunya itu, dia menulis sesuatu yang layak kita perhatikan secara saksama, “Akhirnya, kesimpulan saya sederhana. Jika seseorang mampu membaca dengan rasa senang, mereka akan memperoleh, secara tidak sengaja dan tanpa usaha yang dilakukan dengan sadar, hampir semua hal yang disebut ‘keterampilan berbahasa’. Mereka akan menjadi pembaca andal, mendapatkan banyak kosakata, mengembangkan kemampuan untuk memahami dan menggunakan susunan kalimat yang bermacam-macam, mengembangkan gaya penulisan yang bagus, dan mejadi pengeja yang hebat (meski tidak sempurna)… Hasil-hasil riset dengan jelas menunjukkan bahwa kita belajar menulis lewat membaca.”
Cerita ketiga berasal dari Elizabeth Winthrop. Dia berkata demikian, “Membacalah sebanyak-banyaknya. Belajarlah dari para pengarang yang terdahulu. Perhatikan bagaimana mereka menggunakan keahlian mereka. Penulis tak ubahnya seorang tukang kayu. Kita pun punya kotak peralatan yang berisi kosakata, tanda baca, struktur kalimat, sudut pandang, dan lain-lain. Semua ini adalah alat di dalam kotak peralatan kita. Semakin banyak Anda membaca, semakin banyak alat yang Anda miliki untuk ‘mendirikan bangunan’ cerita Anda. Maka teruslah membaca.”
Jadi, merujuk ke ketiga cerita di atas, menurut saya, seseorang yang ingin menghasilkan buku yang bercahaya—apakah itu penulis, editor, ataupun proofreader—dia perlu menjalankan kegiatan membaca yang “memperkaya” dirinya. “Memperkaya” yang saya maksud di sini, terutama, adalah memperkaya diri dengan kata. Membaca memang bisa mejadikan seseorang memiliki kekayaan selain kata, misalnya ilmu.Namun, saya ingin menekankan benar bahwa hanya dengan membacalah diri kita akan kaya raya dengan kata. Semakin banyak kita membaca, semakin banyak pula kata-kata yang masuk ke dalam diri kita. Merujuk ke pandangan Mulyadhi Kartanegara, membaca juga bermakna belajar kepada penulis lain tentang pengalaman menulis. Persoalannya sekarang, bagaimana agar diri kita benar-benar kaya akan kata-kata? Karena, setahu saya, ada juga orang yang sudah melakukan kegiatan membaca, namun ternyata dirinya tidak kaya akan kata-kata dan tidak mampu menyerap pengalaman-berharga penulis lain..
Nah, inilah kiat-kiat saya untuk menjadikan membaca sebagai kegiatan memperkaya dengan kata dan pengalaman penulis lain:
Pertama, temukanlah buku yang bercahaya atau “bergizi”.
Kedua, gunakan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku?) ketika ingin menjalankan kegiatan membaca.
Ketiga, jalankan kegiatan membaca secara “ngemil”.
Keempat, libatkan diri-pribadi (subjektivitas) Anda.
Kelima, “ikatlah” makna yang diperoleh dari membaca.
Kiat terakhir adalah kiat yang saya sebut sebagai “mengikat makna”. Kiat inilah yang akan membuat seorang pembaca dapat menjadikan kata-kata yang telah diserapnya itu menyatu dengan dirinya. “Mengikat” berarti menuliskannya. “Makna” adalah sesuatu yang sangat penting dan berarti bagi diri pribadi. Jadi, “mengikat makna” adalah kegiatan menulis, seusai membaca, di mana yang ditulis atau “diikat” adalah sesuatu yang mengesankan atau memberikan manfaat luar biasa bagi sang diri.
Demikianlah, semoga bermanfaat.
Diambil dari www.mizan.com

Untuk meningkatkan penjualan atau sebagai prestise sebuah buku, terkadang perlu adanya testimoni dari tokoh ataupun artis. Begitu pula sebagai penguat bahwa buku tersebut bukan “buku biasa” perlu ada kata pengantar dari seorang pakar atau akademisi. Lantas, bagaimana sebenarnya posisi pengantar atau testimoni itu? Berikut ini jawaban dari pakar dunia perbukuan, Bambang Trim,
“Pengantar atau testimoni semacam ‘pemanis’ bagi buku untuk lebih menguatkan positioning buku. Efeknya hampir sama dengan blurb pada halaman sampul belakang atau sales copy. Ibaratnya kalau jamu tolak angin menggunakan ikon Rhenald Kasali dan Sophia Latjuba sebagai bintang iklan yang merekomendasikannya , pengantar atau testimoni tokoh pun demikian.
Sedangkan untuk mengukur mana yang lebih kuat, pengantar atau testimoni, menurut saya dua-duanya bisa sama kuatnya. Cuma pengantar lebih lengkap membahas isi, pujian, dan rekomendasi membaca buku. Testimoni hanya berupa pendapat singkat, tetapi kalau yang memberikannya adalah tokoh-tokoh bereputasi dan banyak, bisa jadi lebih kuat dari kata pengantar.”
So, bagi penulis sebelum bukunya dilaunching, alangkah baiknya jika melengkapi prestise bukunya dengan kata pengantar atau testimoni, supaya pembaca atau calon pembeli ketika sepintas melihat buku tersebut, langsung menilai buku tersebut bukan “buku kacangan”.

(Hernowo)
Selama ini, kadang kegiatan menulis digambarkan sebagai sesuatu yang menyulitkan dan, bahkan, menyiksa! Memang, menulis makalah, skripsi, atau bahkan buku-buku ilmiah bukanlah kegiatan yang enteng. Kita tahu benar soal ini. Bayangkan, sebelum menulis kita harus juga membaca. Membaca adalah sebuah kegiatan yang juga tidak kalah menyiksanya ketimbang menulis. Lantas, ketika menulis, kita harus punya ide. Mencari dan kemudian menemukan ide atau gagasan yang hebat bukan seperti mencari dan menemukan batu di tengah jalan.
Quantum adalah interaksi yang mengubah energi menjadi radiasi. Quantum Writing merupakan sebuah proses interaksi yang terjadi lewat kegiatan menulis. Seseorang yang menjalankan konsep “quantum writing”, akan merasakan bahwa dirinya sedang berinteraksi dengan dirinya yang unik, materi tulisan yang sedang ditulisnya, dan dengan pikiran-pikiran orang lain yang telah dibacanya sebelum dia menulis. Diharapkan, kegiatan menulisnya itu kemudian dapat mengolah pelbagai potensi yang ada di dalam dirinya menjadi “pancaran cahaya” (sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya).
Setelah semua itu, ketika menulis, kita juga harus menggunakan daya ingat untuk mengingat materi yang ingin kita tulis. Selanjutnya, setelah mengeluarkan materi yang kita ingat, kita pun harus merangkai dan mengait-ngaitkan materi tersebut secara sistematis dan logis. Jika rangkaian kalimat yang kita susun tak nyambung atau ke sana-kemari, tentulah ide yang kita miliki itu tak bisa dibaca atu dipahami oleh pembaca tulisan kita. Pekerjaan merangkai dan menstukturkan ide inilah sebuah pekerjaan yang tersulit dalam kegiatan menulis.
Setelah tulisan kita jadi beberapa halaman, kita pun kemudian harus menata atau menyunting tulisan kita. Ini juga pekerjaan yang sangat tidak mudah. Kenapa? Karena, ketika kita membaca hasil tulisan kita, pikiran kita terus bergerak dan berubah. Pikiran awal ketika menulis sangat berbeda dengan pikiran yang kita miliki setelah kita usai menulis. Jadi, apa yang sudah kita tulis, rasa-rasanya, perlu ditambah dan dikoreksi terus-menerus. Belum jika kita juga harus membuat alur tulisan menjadi mengalir dan enak dibaca. Belum jika tulisan kita ingin kita jadikan buku, wah betapa rumitnya menulis ya?
Namun, jika Anda memahami Quantum Writing, Anda akan mudah dan lancar menulis. Dan Quantum Writing tidak hanya memudahkan dan melancarkan Anda menulis. Quantum Writing juga akan membuat Anda asyik menulis! Inilah yang ditawarkan oleh Quantum Writing, yaitu bagaimana Anda menjadi sangat ringan dan mudah dalam menjalankan kegiatan menulis serta di dalam kegiatan menulis itu Anda menikmati keasyikan yang tiada tara. Jika Anda bisa asyik menulis, tentulah kegiatan menulis Anda itu dapat mengubah diri Anda menjadi cahaya.
Bagaimana mempraktikkan Quantum Writing? Di dalam Quantum Writing ada konsep dan teknik menulis bernama brain-based writing (menulis sesuai dengan cara kerja otak). Jika Anda dapat memahami sedikit saja komponen otak Anda, Anda dapat memanfatkan pemahaman tersebut untuk menulis secara mengalir dan memberdayakan diri Anda. Di bawah ini akan saya singgung selintas tentang beberapa teknik menulis yang sesuai dengan cara kerja otak yang bisa Anda praktikkan dalam kehidupan sehari-hari Anda.
Ciri-ciri quantum writer: Pertama, ketika menulis, kegiatan menulisnya itu benar-benar melibatkan dirinya secara total. Kedua, materi yang ditulis benar-benar membuat dirinya merasa nyaman dan senang. Ketiga, hasil tulisannya mencerminkan sosok dirinya yang unik.
Pertama, menulis dengan menggunakan otak kanan terlebih dahulu dan baru kemudian menggunakan otak kiri. Mengapa menggunakan otak kanan lebih dahulu? Karena otak kanan ini menyukai kebebasan dan tidak suka hal-hal yang urut dan tertib. Anda diajak untuk mengeluarkan bahan yang ingin Anda tulis secara leluasa. Ketika Anda ingin menuliskan topik kemiskinan, tetapi yang keluar ternyata topik kekayaan, otak kanan akan menerima sebagai sesuatu hal yang wajar.
Sangat berbeda jika Anda mengawali menulis dengan menggunakan otak kiri. Anda akan sibuk dengan aturan dan akan memulai menulis secara teratur, misalnya mencari kata pembuka yang tepat. Hal ini dikarenakan sifat otak kiri Anda memang seperti itu: tertib dan logis. Dan, biasanya, kegiatan seperti ini—mencari kata pembuka yang tepat—akan sangat membosankan dan melelahkan. Jika toh kemudian Anda mendapatkan kata pembuka dan Anda dapat menuliskannya, Anda kemudian secara cepat akan membaca dan mengoreksinya sehingga untuk menyelesaikan satu alinea saja, Anda membutuhkan waktu berjam-jam.
Gunakan otak kanan terlebih dahulu ketika mengawali menulis sehingga seluruh bahan-mentah tulisan dapat Anda keluarkan semuanya dan Anda pun merasa lega. Lantas, endapkan dahulu beberapa jam—jika perlu sehari. Ketika Anda sudah mengendapkan, bacalah tulisan yang masih berupa bahan mentah itu dengan menggunakan otak kiri. Melalui otak kiri, Anda dapat memperbaiki sekaligus menata tulisan Anda sesuai aturan yang telah Anda kuasai. Demikianlah menulis dengan memanfaatkan cara kerja otak kanan dan kiri.
Kedua, menulis dengan memanfaatkan kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Anda mungkin ingin mendapatkan ide yang hebat untuk dituliskan. Namun, sudah duduk berjam-jam lamanya di perpustakaan, ternyata ide hebat itu tak kunjung datang. Atau, Anda sudah mengasingkan diri dan bertapa untuk mendapatkan wangsit (ide yang datang dari Yang Mahatinggi). Namun, ternyata juga tidak datang juga wangsit yang Anda harapkan itu.
Bagaimana mempraktikkan Quantum Writing? Di dalam Quantum Writing ada konsep dan teknik menulis bernama brain-based writing (menulis sesuai dengan cara kerja otak). Jika Anda dapat memahami sedikit saja komponen otak Anda, Anda dapat memanfatkan pemahaman tersebut untuk menulis secara mengalir dan memberdayakan diri Anda.
Tibalah saatnya Anda menggunakan kecerdasan majemuk. Mungkin Anda perlu berpikir secara bergerak (menggunakan body smart). Dengan body smart, Anda tidak hanya duduk, tetapi berjalan-jalan atau melakukan senam otak (brain gym). Atau, Anda kemudian mengunjungi laut, taman yang indah, atau kebun binatang. Jika demikian ini yang Anda lakukan, Anda menggunakan cerdas alam. Atau, Anda tetap duduk di ruang untuk menulis yang ada di rumah Anda, tetapi Anda menyetel musik instrumentalia. Dengan hal ini, Anda menggunakan cerdas musik.
Masih ada banyak jenis kecerdasan yang bisa Anda gunakan untuk mendatangkan ide. Coba juga hitung berapa banyak cara yang dapat Anda tempuh jika Anda menombinasikan beberapa jenis kecerdasan tersebut. Jika Anda dapat memahami kecerdasan majemuk dan mengopreasikannya secara benar, saya yakin Anda akan sangat mudah menemukan ide. Bahkan, sebagaimana yang sudah saya praktikkan berkali-kali, saya tidak pernah kekurangan ide. Saya bahkan kebanjiran ide!
Ketiga, menulis dengan menggunakan kecerdasan emosi. Anda dapat berpikir secara baik dan benar untuk menetapkan jenis emosi Anda. Cobalah kelola emosi Anda agar memiliki emosi positif. Ketika menulis, cari topik yang membuat diri Anda senang. Kaitkan topik itu dengan diri Anda. Libatkan diri Anda. Apakah Anda memiliki pengalaman yang terkait dengan topik Anda itu? Coba deteksi dengan menggunakan metode mind mapping. Tulislah secara spontan dengan menggunakan kata ganti orang pertama, “Aku…..”. Lantas mengalirlah! Semoga bermanfaat. []
Sumber:

http://www.mizan.com

Sudah sering kita mendengar, membaca dan mengikuti acara resensi buku, bedah buku atau dalam bahasa Inggrisnya a book review/a book report. Penulis lebih enak memakai istilah resensi buku daripada bedah buku. Penulis sudah berusaha mencari istilah resensi/bedah buku dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru terbitan Balai Pustaka, tapi tidak menemukan. Secara sederhana, menurut penulis, resensi buku adalah mengungkapkan kembali isi suatu buku secara ringkas/garis besar dengan tambahan saran berupa kekurangan dan kelebihan buku tersebut menurut aturan yang ditentukan. Manfaat terbesar kita membuat resensi adalah mengasah intelektual dan memahami isi buku secara mendalam, sehingga sulit terlupakan. Marilah kita bahas tentang resensi buku, manfaat dan cara membuatnya.

Manfaat Membuat Resensi Buku :
1) Manfaat pertama jelas mengasah intelektual, karena dengan me-resensi kita dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan buku tersebut, sekaligus memberi masukan. Kita dapat membandingkan dengan teori atau wacana yang diungkapkan oleh penulis buku yang kita resensi dengan teori yang diungkapkan penulis lain dari buku lain.
2) Memahami secara mendalam isi buku yang kita resensi, sehingga tidak mudah lupa dan dapat sebagai bahan diskusi.
3) Mendapat uang, jika resensi buku yang kita buat dimuat di koran atau majalah. Mau tahu berapa fee yang kita peroleh? Dari koran lokal Jogja seperti KR mendapat 50 ribu, ditambah dari penerbit yang memberikan uang atau buku terbaru. Koran nasional, seperti Media Indonesia 150 ribu, Seputar Indonesia (Sindo) 100 ribu. Dari penerbit buku, GIP dan MIZAN 150-250 ribu. Kita dapat meminta minimal 3 buku terbaru dari penerbit yang tidak mau memberikan fee. Belum lagi jika kita mengirim ke jurnal ilmiah dalam negeri atau luar negeri/internasional.
4) Jika produktif menulis resensi buku dan dimuat di koran, kita akan dikenal oleh penerbit buku, sehingga akan diminta penerbit merensensi buku yang akan dicetak. Jelas dapat fee dan dapat untuk hidup atau membayar SPP, seperti yang dilakukan teman-teman penulis muda KUTUB dari ponpes Hasyim Asy’ari, Krapyak.

Sumber : Forum Remaja Masjid Yogyakarta

Berikut adalah cara membuat resensi buku yang penulis ringkas dari ”How To Write A Book Report”, karya Myrna Friend, Erindale Campus Library, University of Toronto. Cara ini sudah diterima secara internasional.
1) Memberi informasi bibliografi buku, seperti : nama penulis/pengarang, judul lengkap, editor (jika ada), tempat ( kota ) penerbit, penerbit, bulan atau tahun terbit dan jumlah halaman (ditambah romawi).
2) Bandingkan materi tulisan dengan keadaan sekarang, apakah sesuai untuk zaman sekarang?Deskripsikan penulis/pengarang: latar belakangnya, pekerjaan, reputasi, dll.
3) Apakah hal-hal atau keadaan yang penting ada hubungannya dengan buku tersebut? Apa sumber materi penulis?
4) Jenis buku (sejarah, biografi, kritik tulisan orang lain/literacy critism, sastra, dll) apa yang kita resensi?
5) Jelaskan tujuan penulis dalam menulis buku yang kita resensi dan terangkan batasan tulisannya dengan tema. Apakah buku tersebut mengusung tema populer? Apa hasil survei? Untuk siapa buku tersebut ditulis, apa ditulis untuk kaum pelajar, masyarakat awam, dll?
6) Apa tema buku tersebut? Cari tema di bagian pendahuluan dan kesimpulan. Selama membaca, coba elaborasi/kaitkan dengan tema buku, apa masih berhubungan?
7) Apa asumsi penulis yang tersirat atau tersurat (jika ada) berhubungan dengan materi yang dia tulis?
8. Jelaskan struktur dari buku (daftar isi): bagian-bagian buku (seperti pendahuluan, isi, kesimpulan), apakah pembagian buku tersebut valid? Apakah appendiks, bibliografi, catatan-catatan, indeks buku tersebut berhubugan dengan isi buku?
9) Cari point utama atau konsep kunci!
10) Apa jenis data yang penulis gunakan dalam mendukung argumennya? Bagaimana dia gunakan data tersebut dalam berargumen? Apakah argumennya sesuai data?
11) Beri bagian penting dari buku dengan kutipan!
12) Apakah penulis sukses dalam mengkomunikasikan wacana atau teorinya? Apakah dia sukses dengan tujuannya? Apakah malah bias?
13) Jelaskan tujuan lain tulisan dari buku yang kita resensi. Apakah tulisannya dalam bahasa yang bakudan efektif?
14) Apakah buku tersebut berkembang dari isu atau tema penelitian?
15) Baca secara mendalam dan kritis. Alasan utama kemampuan membaca buku, yaitu: agar dapat mengikuti alur pikiran penulis, melihat hubungan di antara idenya, menghubungkan idenya dengan pengalaman kita, dan meng-evaluasinya dengan cerdas dan kritis. Membaca kritis, karena dimungkinkan ada bagian dari buku tersebut yang kontorversial dan mencari kekuatan serta kelemahannya. Bandingkan dengan teori lain yang diungkapkan oleh penulis lain dari buku lain. Pembaca yang hati-hati dapat memperhatikan hal-hal yang diperbuat penulis, seperti tema yang meloncat-loncat, bias tema, dll. Perhatikan kata atau kalimat yang tidak kita mengerti. Baca buku sampai selesai dan ikuti argumennya (dengan membacanya) sampai selesai, jangan meng-justifikasi sebelum kita selesai membaca.
16) Resensi di koran dengan jurnal ilmiah tentu berbeda. Resensi di koran biasanya berupa bedah buku dengan isi ringkasan buku, tujuan tulisan, latar belakang penulis, kesimpulan, kelemahan dan keunggulan tulisan serta kata/kalimat yang digunakan sering tidak baku atau populer dan diperuntukkan untuk masyarakat umum (contoh bisa dilihat di bagian utama website ini, resensi buku: ”Hidup sehat dengan tahajud” yang penulis kirim dan dimuat di KR). Resensi di jurnal ilmiah ditambah teori lain yang diungkapkan penulis lain dan bahasa yang digunakan bahasa baku serta untuk kalangan terbatas (biasanya terpelajar).

Itulah manfaat dan cara membuat resensi. Semoga dapat memberikan manfaat. Boleh memberikan tambahan, saran atau bertanya. Terima kasih.
Sumber : Forum Remaja Masjid Yogyakarta

Contoh resensi klik di sini

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 52 pengikut lainnya.