Opini


Mungkin orang tidak merasa aneh jika di negara-negara maju, profesi penulis sudah digeluti secara profesional karena bisa mendatangkan profit yang bukan hanya cukup untuk “sesuap nasi” tetapi juga cukup untuk “sepiring berlian”. Kita ambil contoh, J.K. Rowling yang dari novelnya menghasilkan triliunan rupiah. Sehingga dengan profesinya ini, dia bisa duduk santai tanpa bekerja lagi hingga maut menjemput sembari menikmati rumah megahnya seharga 80 Miliyar di London.

Bukan hanya di luar negeri, tetapi kini di Indonesia kita temukan para penulis yang menghasilkan milyaran rupiah. Sebagai contoh, Habiburrahman El-Shirazy yang novel Ayat-ayat Cinta -nya mampu terjual lebih dari 400.000 eksemplar dan mendapat royalty lebih dari 1,8 Miliyar. Itu belum termasuk royalty untuk film-nya dan undangan ceramah yang tiada henti-hentinya dan tak pelak mengalirkan pundi-pundi rupiah dengan derasnya. Selain novel Ayat-ayat Cinta, novel karyanya yang lain juga menuai sukses. Salah satunya adalah Ketika Cinta Bertasbih 1 yang terjual 150 ribu kopi daam jangka waktu satu tahun.

Selain Habiburrahman kita juga mengenal nama Andrea Hirata yang sukses melalui novel Laskar Pelangi. Pada cetakan terbarunya, tertulis bahwa novel ini sudah terjual 500.000 kopi. Ini artinya, sedikitnya 2 Miliyar rupiah sudah memenuhi tabungannya. Sedangkan untuk bedah buku maupun bicara sastra, dia “dihargai” 50 juta untuk sekali “panggilan”. Selain itu, novel-novel lainnya (Sang Pemimpi dan Edensor) juga laris di pasaran.

Sukses menulis buku, ternyata tidak hanya dialami penulis fiksi (novel), tetapi juga dirasakan oleh penulis non-fiksi. Salah satunya adalah Ary Ginanjar yang buku ESQ –nya terjual 750.000 kopi. Padahal buku itu diproduksi sendiri, sehingga keuntungannya bisa diraup secara maksimal. Jika seorang penulis mendapat royalty 6-10% dari harga bruto, maka jika buku itu diterbitkan sendiri, paling tidak bisa meraup 20-50% dari harga bruto. Itulah keuntungan yang ditangguk dari menerbitkan sendiri atau dikenal dengan Self Publishing.

Ada pula penulis yang kemarin sempat membuat heboh karena mempromosikan bukunya dengan menebar uang dari udara. 100 juta rupiah ia tebarkan dari helikopter untuk memompa penjualan bukunya. Tung Dasem Waringin, nama penulis itu pasti tidak merasa rugi “membuang-buang” uangnya karena—menurut sebuah sumber—bahwa untuk menulis buku itu dia mendapat bayaran 2 Miliyar rupiah di muka.

Tetapi kesuksesan seperti itu tidak dinikmati oleh setiap penulis buku. Bahkan penulis yang bukunya sudah puluhan bahkan ratusan, belum tentu “bernasib baik” seperti itu. Sedangkan buku sukses seperti Laskar Pelangi ataupun ESQ dihasilkan oleh penulis yang baru menulis satu buku. Dengan demikian, sukses penjualan buku tidak ditentukan oleh berapa banyak buku yang ditulis, tetapi lebih dari itu adalah isi (konten) dari buku tersebut. Dan, yang paling menentukan tidak lain adalah nasib baik atau biasa dikenal takdir.

Sukses novel Ayat-ayat Cinta yang diangkat ke layar lebar, diikuti pula dengan sukses Laskar Pelangi, novel karya Andrea Hirata. Bahkan, diprediksikan jumlah penonton film yang mengambil setting Belitong ini akan melampaui film yang turut mempopulerkan Poligami. Fenomena seperti ini jelas menggugah para penerbit buku berlomba-lomba memvisualisasikan karya andalannya.

Dalam waktu dekat, kabarnya novel Kambing Jantan akan diangkat ke layar lebar. Sementara itu, Ketika Cinta Bertasbih karya Habiburrahman El-Shirazy lainnya sudah mendekati masa terakhir audisi dan sebentar lagi mulai syuting. Ada pula kabar bahwa kawan lama di Al-Azhar, Aguk Irawan, novelnya akan diangkat ke layar lebar (judulnya saya lupa).

Diprediksikan pada tahun depan, prospek novel di dunia penerbitan buku masih sangat bagus. Bahkan, ada kecenderungan industri film akan mendekati para penerbit untuk mengangkat karya tulisan dalam bentuk visual. Hal ini merupakan berkah besar bagi penerbit. Selain mendongkrak penjualan bukunya, juga merupakan promosi gratis. Apalagi brand penerbit buku akan terangkat ketika ada bukunya difilmkan.

Bagaimana dengan penerbit buku Islam seperti Pustaka Al-Kautsar? Insya Allah kita juga akan mengikuti trend ini, bukan karena latah, tetapi ingin menyemarakkan dunia perbukuan sambil berdakwah. Terbukti, sukses Ayat-ayat Cinta mampu memberikan gambaran Islam yang indah. Bahkan, poligami yang biasanya sering dihujat, dalam film tersebut sepertinya “ditoleransi” oleh para ibu-ibu. Bukankah dakwah tidak terbatas lewat lisan dan tulisan saja? Sekarang zamannya visual, dan saatnya mengaji di Bioskop. Mungkinkah?

7 Alasan Self Publising
Profesi penulis di negara kita belum terlalu dihargai dan belum bisa dijadikan pendapatan tetap, tidak sebagaimana di negara-negara maju. Seorang penulis di Barat semisal J.K. Rowling bisa mengumpulkan kekayaan hingga triliunan rupiah hanya dari hasil menulis. Sementara di negara kita, seperti itu masih sekadar mimpi semata. Pihak yang paling menangguk untung paling besar dari sebuah buku biasanya adalah distributor buku ataupun penerbit. Penulis hanya mendapat ampasnya. Maka penulis yang ingin berpenghasilan lebih mau tidak mau harus bisa menjual bukunya sendiri dan perlu menerbitkan karyanya secara self-publishing. Adapun alasan kenapa penulis perlu menerbitkan karyanya sendiri adalah sebagai berikut:
1. Bebas berekspresi
Ketika naskah sudah digarap oleh penerbit, terkadang ada hal-hal yang harus dipotong dan disesuaikan dengan standar penerbit. Misalnya jika penerbit menghendaki pola pikir yang pro pasar, sementara penulis punya idealis yang tidak terlalu mempertimbangkan apakah pasar akan menerimanya atau tidak. Maka dengan self publising, penulis lebih bebas mengekspresikan tulisannya tanpa ada campur tangan pihak lain.
2. Tidak bergantung pada pihak lain
Bagi penulis yang belum punya nama, biasanya akan dipandang sebelah mata oleh penerbit. Apalagi jika karyanya adalah karya yang pertama, sementara dia belum punya nama, pasti penerbit akan berpikir seribu kali untuk menerbitkan naskah tersebut. Meskipun menurut penulis, naskahnya berpotensi meledak. Dengan adanya self publising, penulis langsung bisa menerbitkan karyanya tanpa harus bergantung pada “belas kasihan” penerbit.
3. Tidak menunggu keputusan pihak lain
Hal yang paling menjengkelkan dalam hidup ini adalah menunggu dan menunggu. Apalagi jika menunggu atas sesuatu yang belum tentu. Ketika penulis mengajukan naskahnya ke penerbit, biasanya diberi janji untuk menghubungi kembali sebulan kemudian. Dan, kadang sebulan pun belum ada jawaban dari penerbit dengan alasan ini dan itu. Sementara penulis “dipaksa” dengan setia menunggu putusan penerbit. Jika jawabannya, naskah Anda diterima, tentu kebosanan rasa bosan menunggu hilang sudah. Akan tetapi jika jawabannya, naskah Anda tidak bisa kami terbitkan dengan alasan ini dan itu. Sungguh menyakitkan!
4. Mendapat pengalaman berharga
Memang menerbitkan naskah sendiri tantangan yang dihadapi lebih berat daripada naskah diterbitkan penerbit. Mulai dari menggarap naskah sendiri, mengedit sendiri, melay out sendiri, mencari percetakan sendiri, hingga menjual sendiri, merupakan kerja yang melelahkan. Namun setiap tetesan keringat yang terkucur punya nilai tersendiri karena Anda punya pengalaman yang sangat berharga. Pengalaman yang tidak akan didapatkan dari membaca buku, dari cerita orang lain, bahkan dari nasehat orang bijak sekalipun. Dengan pengalaman itulah seseorang akan terasah jiwanya menghadapi segala tantangan.
5. Kepuasan tiada tara
Ketika naskah self publising sudah benar-benar menjadi buku, perasaan puas tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Seperti tersadar dari mimpi Anda akan berucap, benarkah aku bisa melakukan ini? Benarkah ini adalah karyaku? Sungguh aku tidak bisa menyangka bisa melakukan seperti ini. Setiap lembar buku yang Anda buka, terbayang tetes-tetes keringat yang mengiringi naskah tulisan hingga menjadi buku. Dan yang namanya kepuasan tidak bisa dinilai dengan uang!
6. Gengsi tersendiri
Ketika buku sudah jadi, dan Anda menawarkan kepada orang lain, ada gengsi tersendiri. Ternyata Anda tidak hanya bisa menjual ide yang masih abstrak, tetapi dapat juga menjual buku yang ditulis dalam bentuk riil. Anda tidak bergantung pada orang lain merupakan suatu nilai plus tersendiri. Bahkan ketika bersama kawan-kawan Anda bisa berseru, “Yess, aku bisa!”
7. Keuntungan materi lebih besar
Jika penulis yang menyerahkan naskahnya kepada penerbit hanya mendapatkan royalti yang tidak seberapa, maka yang Anda dapatkan dengan self publising jauh lebih besar lagi. Sebagai simulasi, harga buku Rp. 50.000, jika Anda menyerahkan kepada penerbit, paling-paling dapat royalti antara 5%-15%. Berarti Anda hanya dapat Rp. 2500-7500 per buku. Tapi dengan self publishing, Anda hanya menyisihkan 25% untuk ongkos cetak dan biaya produksi lainnya. Sedangkan yang 75% adalah milik Anda. Artinya Anda akan mengantongi Rp. 37500 per buku. Angka itu setara dengan 10 kali lipat royalti yang akan Anda dapatkan jika menyerahkan naskah ke penerbit. Jadi, tunggu apalagi, sudah saatnya penulis seratus persen mandiri, menggarap naskah dan menjualnya sendiri. Selamat meniti tangga sukses!

Presiden SBY pada tanggal menginstruksikan supaya pemerintah membeli hak cipta penulis buku pelajaran untuk kemudian menerbitkan buku yang bisa dijual dengan murah. Instruksi tersebut kemudian diterjemahkan sebagai proyek buku murah. Harapannya, harga buku bisa menjadi sepertiga dari harga buku normal.

Rencananya buku tersebut sudah rampung dan bisa didownload oleh masyarakat yang membutuhkan di situs http://bse.depdiknas.go.id./. Menanggapi hal ini, ada yang pro dan kontra. Masyarakat pada umumnya menyambut baik program ini. Namun sebaliknya, para penerbit melalui corong tidak resminya IKAPI berkoar-koar supaya program seperti ini dibatalkan dan diganti dengan subsidi kertas. Memang, dengan adanya buku murah penerbit memprediksi penjualan bukunya akan turun drastis. Tapi sebenarnya hal itu tidak akan terjadi jika penerbit kreatif membuat buku pelajaran yang lebih bagus. (lebih…)

Ruangan itu tidak terlalu lebar, hanya berukuran 4 x 4 meter. AC yang dingin tidak mampu mendinginkan perasaan tim redaksi yang masing-masing kepala memiliki argumen tersendiri. Ada sebagian yang ingin meloloskan buku dengan tema radikal dengan argumen, buku itu akan booming di pasaran. Di saat yang sama, salah seorang tim berpendapat bahwa jika buku itu diterbitkan, maka penerbitnya yang akan menghadapi amuk massa yang tidak sedikit. Terakhir, diputuskan buku harus keluar juga, karena “missi dakwah” harus dijalankan. Biarpun pahit, tapi perkataan yang benar harus disampaikan, begitu alasan yang dikemukakan.
Demikianlah sepenggel fenomena rapat redaksi di penerbit buku. Masing-masing punya argumen dan merasa punya missi yang harus disampaikan. Walau harus bertabrakan dengan pihak lain.
Maraknya penerbit buku Islam di tanah air, juga berimbas kepada pemahaman masyarakat terhadap Islam. Penerbit, selain memproduksi buku sebagai “ladang uang”, juga menganggap buku sebagai “ladang dakwah”. Sehingga masing-masing penerbit punya genre dan punya missi yang ingin disampaikan.
Mizan, penerbit Islam terbesar di Indonesia, selain menerbitkan buku-buku motivasi dan Islam universal, juga sesekali menampilkan wajah aslinya yang diduga keras sebagai aliran Syiah. Memang, missi penerbit ini tidak terlalu kentara bagi orang awam. Namun, jika mau dicermati penerbit ini selalu mengusung corak Iranisme yang sudah dapat ditebak sebagai aliran Syiah. Contoh sederhana, Mizan menerbitkan kisah hidup Khadijah, kisah hidup Fathimah, dan istri Nabi Mariyatul Qibthiyyah. Tapi kenapa tidak menerbitkan kisah hidup Aisyah, yang juga diterbitkan penerbit-penerbit lainnya?
Urutan kedua penerbit buku Islam, mungkin masih dipegang oleh penerbit GIP. Alirannya adalah Islam yang berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan Hadits. Mengingat pemiliknya adalah anak seorang ustadz Al-Irsyad, maka buku-bukunya pun tidak jauh dari dakwah Al-Irsyad. Seiring dengan perjalanan waktu, dimana penerjemahnya adalah seorang pengikut tasawwuf yang juga aktivis partai dakwah, maka buku-bukunya pun lebih “berwarna”, tidak dimonopoli oleh satu golongan.
Sedangkan penerbit Islam lainnya yang cukup besar adalah Pustaka Al-Kautsar. Pada awalnya, genre penerbit ini cenderung kepada aliran “salafi”. Terbukti banyak buku karya Ibnu Qayyim yang diterbitkan. Juga banyak tulisan Hartono Jaiz yang menghebohkan dan membuat panas kelompok lain yang dianggap “menyimpang”. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, penerbit ini juga banyak mempublikasikan karya Yusuf Al-Qaradhawi, yang dahulunya adalah seorang aktivis Ikhwanul Muslimin di Mesir. Akibatnya, penerbit ini tidak lagi melulu salafi, dan lebih cair. Bahkan, sekarang ini sepertinya sedang “perang syaraf” dengan kelompok “Salafi Seram” pimpinan Ustadz Lukman Ba’abduh yang menulis “Menebar Dusta Membela Teroris Khawarij”, dengan meluncurkan buku “sejuk di luar, panas di dalam” dengan title “Belajar Dari Akhlak Ustadz Salafi”.
(Bersambung)

Perkembangan dunia perbukuaan di Indonesia semakin hari semakin menggembirakan. Hal ini merupakan berkah besar bagi penerbit di Indonesia. Terutama penerbit buku-buku Islam yang semakin hari semakin inovatif menggarap produk-produknya yang berimbas pada profit dan benefit.

Namun, apakah kemajuan ini dirasakan pula oleh para penulis, penerjemah, editor, yang nota bene namanya sering menghiasi cover depan buku? Apakah mereka sudah mendapatkan profit yang seimbang dengan benefit yang mereka dapatkan?
Ketika berinteraksi dengan para penulis, kebanyakan—terutama penulis yang belum terkenal—mereka mengeluhkan karena tidak punya posisi tawar yang signifikan di hadapan penerbit. Ketika menawarkan naskah, penerbit akan memberikan jawaban—biasanya—lebih lama dari “janji” yang diberikan. Ada yang menjanjikan akan memberi jawaban dua minggu, sebulan, atau dua bulan. Namun kenyataannya, sering penulis mendapat jawaban lebih dari bulan dan bahkan sampai enam bulan!
Bukan itu saja, ketika mendapat jawaban bahwa naskahnya diterima, penulis tidak mendapatkan kejelasan tentang berapa royalti yang akan diterima dan bagaimana perjanjian akad yang akan berlangsung. Draft akan akan diberikan ketika buku sudah diterbitkan, dan penulis tidak berdaya di hadapan akan yang disodorkan untuk “segera” ditandatangani. Bagi penulis mungkin bisa bersyukur (baca: pasrah) naskahnya akhirnya menjadi buku dan berharap buku tersebut “meledak”.

Setelah buku dicetak dan terjual, laporan dari penerbit yang biasanya dijanjikan triwulan atau persemester ternyata tidak kunjung datang. Bukan itu saja, terkadang uang yang semestinya diterima karena bukunya sudah habis dan cetak ulang, ternyata belum sampai juga ke tangan penulis dengan alasan toko buku atau distributor juga belum setor uang ke penerbit. Pernah saya mendapat curhat dari seorang penulis yang bukunya sudah dicetak ulang bahkan sudah dicetak ke dalam Bahasa Malaysia dan Inggris (semua diurus penerbitnya) oleh penerbit yang sekarang “sedang membangun citra” tapi sepeser pun belum menerima uang dari penerbit bersangkutan. Jangankan mendapat laporan penjualan, ketika pertama buku itu terbit, bahkan hingga dicetak ke berbagai bahasa asing, belum ada sesen pun uang yang masuk ke kantongnya. Sungguh sangat ironi!

Menurut hemat saya, penulis maupun penerjemah ketika berurusan dengan penerbit harus ada kontrak hitam di atas putih yang disyahkan dengan materai. Dengan bukti itu, penulis atau penerjemah yang merasa dirugikan harus berani menuntut di depan pengadilan, sebagai pembelajaran bahwa profesi penulis tidak bisa dipermainkan begitu saja. Semoga perkembangan dunia perbukuan diimbangi pula dengan profesialisme hubungan antara penulis dan penerbit. Wallahu a’lam.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 57 pengikut lainnya.