Bedah Buku


Ikutilah bedah buku “Bangkit dari Keterpurukan; Kiat Survive Bisnis di Masa Sulit” yang akan diselenggarakan pada saat Pesta Buku Jakarta tanggal 5 Juli 2008 pukul 16.00-18.00 di Ruang Anggrek Lantai 2 Jakarta Convention Centre (Pesta Buku Jakarta). Dengan pembicara Khoerussalim Ikhs (Penulis) dan Zainal Abidin (Direktur Institute Kemandirian).

Pameran buku bukan sekadar arena jualan buku, tapi lebih dari itu sebagai sarana mengedukasi masyarakat agar mempunyai wawasan luas lewat media buku. Oleh karena itu, pada Pesta Buku Jakarta (PBJ) yang akan berlangsung pada 28 Juni sampai 6 Juli 2008 ini ada bedah buku dari para penulis dan praktisi perbukuan.

Salah satu agenda PBJ adalah bedah buku “Bangkit dari Keterpurukan” yang akan diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2008 pukul 16.00-18.00 di Ruang Anggrek Lantai 2 JCC. Pembicaranya dari penulisnya langsung, yakni Khoerussalim Ikhs yang didampingi Zainal Arifin sebagai pembanding. Dengan adanya bedah buku ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat untuk tetap bisa survive di masa-masa sulit.

Selain itu, ada pula acara temu penulis terkenal Andrea Hirata yang sukses besar dengan novel Laskar Pelangi. Andrea yang ditemani Mira Lesmana (Produser Film) akan mengangkat topik “Dari Buku ke Layar Lebar.” Juga ada seminar “Dari Blog Jadi Buku” dengan menampilkan Sri Sariningdyah (Ibu Presiden MP-ers) yang sukses menggarap buku “Gigabite of Love” dan merupakan kumpulan tulisan di blog-blog Mp-ers.

Yth. Para Sahabat

Bersamaan dengan memperingati hari buku sedunia atau “THE BOOKS WORLD DAY”, selain akan diadakan PAMERAN BUKU, acara yang tak kalah menarik adalah launching buku “TEMBANG CINTA DARI PESANTREN”.

SABTU, 7 Juni 2008.

PUKUL 10.00 – 12.00 WIB

GEDUNG DEPDIKNAS
Jln. Jendral Sudirman (samping Pintu Gelora 1)

Pembicara : Mas Fikri (LKIS)
Penulis Buku : A’a Dodo (Dosen IAIN Sunan Gunung Jati)
Moderator : Andri Indradie

Kami mengharap kehadiran Anda
-terima kasih-

Assalamu’alaikum Wr Wb,

Gema Insani mengundang bapak/Ibu/Sdr/ Sdri untuk menghadiri, acara Bedah Buku yang akan dilaksanakan pada :

1. Hari : Sabtu, 19 April 2008
Buku : Orientalis & Diabolisme Pemikiran
Waktu : Pk.09.00 – 11.30 WIB
Pembicara : 1. Dr.Syamsuddin Arief
2. Adian Husaini, MA

2. Hari : Ahad, 20 April 2008
Buku : Dahsyatnya Ayat Kursi & Pesona Surah Yasin
Waktu : Pk.09.00 – 11.30 WIB
Pembicara : Drs.Muhammad Said, M.Hum

Tempat Acara : Gd.Gema Insani Depok
Jl.Ir.H.Juanda – Depok
Telp.0217708891- 3

Terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamu’alaiku Wr Wb,
Gema Insani

Ummat Islam semua sepakat bahwa, Al-Qur’an dan Sunnah adalah sumber rujukan yang paling otentik. Allah SWT pun telah Berjanji dalam Al-Qur’an untuk tetap menjaga keotentikannya sampai hari bumi di hancurkan. maka tak heran jika tiap kali ada upaya untuk merubah sepotong dari ribuan kalimat yang ada dalam Qur’an, maka tiap itu pula akan datang tangan-tangan suci untuk mempertahankannya. Merekalah para Huffadz (Penghapal). Tapi, bagaimana dengan Sunnah? adakah yang menjaga keotentikannya? adakah sunnah Rasulullah akan runtuh untuk zaman sekarang? apalagi kaum sepilis hampir mandominasi kampus-kampus Islam yang notabene berkutat dengan yang satu ini.

Nah, untuk lebih jelasnya , Kami dari Lembaga dakwah kampus
LKI-Al-Fatih (LIPIA) mengundang teman-teman untuk hadir dalam bedah
buku : “Sunnah di Bawah Ancaman: Dari Snouck Hurgronje Hingga Harun Nasution”yang insya Allah akan dilaksanakan pada:

Hari/tanggal : Selasa/08 April 2008
Waktu : 15.30 (Ba’da Ashar) – selesai
Tempat : Aula Masjid Al-Ikhlas, Jati Padang Pasar Minggu, Jaksel

Datang ya…!
Buku ini di bedah langsung loh ama penulisnya (Dr. Daud Rasyid, MA). Kenal, kan?
hadir sebagai pembanding : Ust. Fahmi Islam, MA (IKADI Pusat)

CP: Andi Hasanuddin : 085281066735
Candra Aditya : 02191780532

* Gratis & Terbuka untuk umum

Bedah buku al-Qur’an Kitab Toleransi; Insklusivisme, Pluralisme, dan Multikulturalisme, Karya Zuhairi Misrawi, di Paramadina.
Hari/Tanggal : Jum’at, 28 Maret 2008
Waktu : 19:00-22:00
Tempat : Audiotorium Paramadina, Jl. Gatot Subroto, Kav. 96-97
Moderator : Muhammad Bakir (Wartawan Kompas)
Pembicara : Kang Jalal, Pak Said Aqil Siraj, Pak Amien Abdullah, dan Pendeta Albertus Patty

Pancaran kharisma Nabi Muhammad SAW terpantul pula dalam sejumlah puisi. Karya Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji (c. 1100-1179 H / 1690-1766 M) adalah salah satu di antaranya, yang termasyhur: Seuntai gita untuk pribadi utama, yang didendangkan dari masa ke masa. Di Indonesia, kita biasa menyebutnya “kitab Barzanji” atau “syair Barzanji”.
Di berbagai belahan Dunia Islam, syair Barzanji lazimnya dibacakan dalam kesempatan memeringati hari kelahiran (maulid) Sang Nabi. Dengan mengingat-ingat riwayat Sang Nabi, seraya memanjatkan shalawat serta salam untuknya, orang berharap mendapat berkah keselamatan, kesejahteraan, dan ketenteraman. Sudah lazim pula, tak terkecuali di negeri kita, syair Barzanji didendangkan –biasanya, dalam bentuk standing ovation– di kala menyambut bayi yang baru lahir dan mencukur rambutnya.
Ja’far al-Barzanji adalah qadhi (hakim) dari mazhab Maliki yang bermukim di Madinah. Ia adalah salah seorang keturunan (buyut) dari cendekiawan besar Muhammad bin Abdul Rasul bin Abdul Sayyid al-Alawi al-Husain al-Musawi al-Shaharzuri al-Barzanji (1040-1103 H/1630-1691 M), Mufti Agung dari mazhab Syafi’i di Madinah. Sang mufti (pemberi fatwa) berasal dari Shaharzur, kota kaum Kurdi di Iraq, lalu mengembara ke berbagai negeri sebelum bermukim di Kota Sang Nabi. Ia, bersama sejumlah keturunannya, bersemayam di makam al-Baqi, Madinah.
Dalam bukunya, Dan Muhammad adalah Utusan Allah: Penghormatan terhadap Nabi SAW dalam Islam (1991), sarjana Jerman peneliti Islam, Annemarie Schimmel, menerangkan bahwa teks asli karangan Ja’far al-Barzanji, dalam bahasa Arab, sebetulnya berbentuk prosa. Namun, para penyair kemudian mengolah kembali teks itu menjadi untaian syair, sebentuk eulogy bagi Sang Nabi.
Untaian syair itulah yang tersebar ke berbagai negeri di Asia dan Afrika, tak terkecuali Indonesia. Tidak tertinggal oleh umat Islam penutur bahasa Swahili di Afrika atau penutur bahasa Urdu di India, kita pun dapat membaca versi bahasa Indonesia dari syair itu, semisal hasil terjemahan HAA Dahlan atau Ahmad Najieh, meski kekuatan puitis yang terkandung dalam bahasa Arab kiranya belum sepenuhnya terwadahi dalam bahasa kita sejauh ini.
Secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa karya Ja’far al-Barzanji merupakan biografi puitis Nabi Muhammad SAW. Dalam garis besarnya, karya ini terbagi dua: “Natsar” dan “Nadhom”. Bagian “Natsar” terdiri atas 19 subbagian yang memuat 355 untaian syair, dengan mengolah bunyi “ah” pada tiap-tiap rima akhir. Seluruhnya menurutkan riwayat Nabi Muhammad SAW, mulai dari saat-saat menjelang paduka dilahirkan hingga masa-masa tatkala paduka mendapat tugas kenabian. Sementara, bagian “Nadhom” terdiri atas 16 subbagian yang memuat 205 untaian syair, dengan mengolah rima akhir “nun”.
Dalam untaian prosa lirik atau sajak prosaik itu, terasa betul adanya keterpukauan sang penyair oleh sosok dan akhlak Sang Nabi. Dalam bagian “Nadhom”, misalnya, antara lain diungkapkan sapaan kepada Nabi pujaan: Engkau mentari, engkau bulan/ Engkau cahaya di atas cahaya.
Di antara idiom-idiom yang terdapat dalam karya ini, banyak yang dipungut dari alam raya seperti matahari, bulan, purnama, cahaya, satwa, batu, dan lain-lain. Idiom-idiom seperti itu diolah sedemikian rupa, bahkan disenyawakan dengan shalawat dan doa, sehingga melahirkan sejumlah besar metafor yang gemilang. Silsilah Sang Nabi sendiri, misalnya, dilukiskan sebagai “untaian mutiara”.
Namun, bahasa puisi yang gemerlapan itu, seringkali juga terasa rapuh. Dalam karya Ja’far al-Barzanji pun, ada bagian-bagian deskriptif yang mungkin terlampau meluap. Dalam bagian “Natsar”, misalnya, sebagaimana yang diterjemahkan oleh HAA Dahlan, kita mendapatkan lukisan demikian: Dan setiap binatang yang hidup milik suku Quraisy memperbincangkan kehamilan Siti Aminah dengan bahasa Arab yang fasih.
Betapapun, kita dapat melihat teks seperti ini sebagai tutur kata yang lahir dari perspektif penyair. Pokok-pokok tuturannya sendiri, terutama menyangkut riwayat Sang Nabi, terasa berpegang erat pada Alquran, hadis, dan sirah nabawiyyah. Sang penyair kemudian mencurahkan kembali rincian kejadian dalam sejarah ke dalam wadah puisi, diperkaya dengan imajinasi puitis, sehingga pembaca dapat merasakan madah yang indah.
Salah satu hal yang mengagumkan sehubungan dengan karya Ja’far al-Barzanji adalah kenyataan bahwa karya tulis ini tidak berhenti pada fungsinya sebagai bahan bacaan. Dengan segala potensinya, karya ini kiranya telah ikut membentuk tradisi dan mengembangkan kebudayaan sehubungan dengan cara umat Islam di berbagai negeri menghormati sosok dan perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Sumber: republika.co.id

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.