Hari ini, Ahad 6 Januari 2008, novelis Habiburrahman El-Shirazy, mendapat penghargaan sebagai Novelis No 1 Tahun 2007 dari Insani Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Beberapa hari lalu, 4 Januari 2008, Habiburrahman ‘dinobatkan’ sebagai salah satu Tokoh Perubahan 2007 oleh Republika.
Kedua penghargaan tersebut diraih Habiburrahman berkat novelnya, Ayat-Ayat Cinta (AAC, 2004). Novel bergaya ‘romantisme Islami’ ini tidak hanya berhasil meraih predikat megabestseller (dan kini dalam kurun tiga tahun terjual 400 ribu eksemplar), tapi juga menyuarakan moral, keteladanan, kearifan hidup, dan solidaritas sosial, yang mampu mencerahkan nurani pembacanya.
Dan, dengan dibaca oleh lebih dari 800 ribu orang (rata-rata satu eksemplar novel minimal dibaca oleh dua orang), novel tersebut dianggap ikut mendorong proses perubahan sosial atau proses pencerahan moral ke arah yang lebih baik. Kang Abik panggilan akrab Habiburrahman menyebutnya sebagai ‘novel pembangun jiwa’.
Sejak novel AAC terbit dan bestseller, sederet penghargaan atas novel tersebut telah diraih Kang Abik. Tahun 2005, dia meraih Pena Award untuk kategori Novel Terpuji Nasional. Pada tahun yang sama, novel tersebut meraih The Most Favourite Books and Writer 2005 mengalahkan serial Harry Potter versi Majalah Muslimah. Kemudian, terpilih sebagai Novel Dewasa Terbaik dalam Islamic Book Fair 2006.
Mengingat kekuatan ceritanya, pesan moral yang dibawanya, dan kenyataan bahwa ternyata novel tersebut diapresiasi oleh lebih dari 800 ribu pembaca, kiranya sangat layak untuk diajukan ke panitia penghargaan- penghargaan sastra yang lebih tinggi di tingkat Asia Tenggara, semacam Penghargaan Mastera dan SEA Write Awards.
Dari kisah cintanya, sejumlah pengamat sastra Indonesia sempat memasukkan AAC ke dalam kategori novel pop, atau novel pop-Islami. Tapi, mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai novel neo-romantik yang Islami atau bergaya romantisme Islam, yang segera mengingatkan kita pada karya-karya Buya Hamka, terutama novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
Kebetulan, Buya Hamka dan Kang Abik sama-sama ustadz dengan basis moral santri yang sangat kuat. Karena itu, dalam beberapa diskusi dan tulisan, saya pernah menyebut Kang Abik sebagai ‘reinkarnasi Hamka’ atau ‘Hamka Abad 21′. Keduanya sama-sama menggarap masalah cinta dengan pendekatan yang sama-sama Islami, dan sama-sama mampu memikat keharuan pembaca. Namun, sastrawan negara Malaysia yang juga pengagum Hamka, A Samad Said, lebih mendekatkannya dengan novel Tunggu Teduh Dulu (TTD, 2004) karya Faisal Tehrani.
Memang, seperti temuan Samad Said, novel AAC tidak banyak memiliki persamaan dengan novel-novel Hamka. Hamka menulis kisah cinta yang terhalang adat dan perbedaan derajat. Sedang Kang Abik menempatkan adat dan budaya hanya sebagai latar multikultural. Persoalan adat memang telah terlewati oleh generasi Kang Abik, yang terepresentasi melalui tokoh Fahri. Yang menyamakan keduanya adalah pendekatan dan latar agamanya.
Karena itu, Samad Said lebih mendekatkan novel AAC dengan TTD. Kedua penulisnya berlatar belakang agama yang sama, sama-sama berisi kisah cinta yang tertib (Islami) di tengah maraknya fiksi cinta yang seronok, sama-sama tentang cinta segi tiga, dan sama-sama novel pembangun jiwa. Bedanya, tokoh utama AAC lelaki (Fahri), sedangkan tokoh utama TTD perempuan (Salsabila). Uniknya, keduanya terbit pada tahun yang sama, 2004.
Novel Ayat-Ayat Cinta (2004), mungkin, adalah sebuah keajaiban. Novel pertama seorang penulis muda, tapi mampu meraih posisi megabestseller nasional dalam waktu sangat singkat, melampaui Saman –novel sekuler karya Ayu Utami. Sebuah keajaiban yang memancar dari suara moral, dari kepatuhan terhadap ajaran-ajaran agama. Dalam Alquran, Tuhan telah berpesan, barangsiapa membela agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan melimpahkan rezeki baginya.
Dari sisi finansial pun tampak adanya keajaiban. Hingga saat ini, Ayat-Ayat Cinta telah memasukkan royalti lebih dari Rp 1,5 miliar bagi Kang Abik. Perhitungan kasarnya, dengan harga jual rata-rata Rp 43 ribu per eksemplar (setelah didiskon 10 persen), dan dengan royalti 12 persen, jika 350 ribu eksemplar terjual habis, maka Kang Abik akan mengantongi royalti Rp 1,8 miliar.
Bagi penulis Indonesia, jumlah royalti itu tentu sangat spektakuler, dan terbesar sepanjang sejarah royalti penulis Indonesia. Belum lagi royalti dari edisi Malaysia, pembelian hak cipta untuk film (novel itu telah difilmkan), dan edisi bahasa Inggrisnya nanti.
Melalui AAC, Kang Abik telah membuktikan, bahwa seorang penulis Indonesia bisa menjadi kaya hanya dari sebuah novel. Dan, luar biasanya, Kang Abik tetap hidup sederhana, bahkan tidak tergiur untuk membeli mobil mewah misalnya. Karena, hampir semua royalti dari novelnya itu dimanfaatkannya untuk membangun pesantren karya dan wirausaha, Pesantren Basmalla.
Dengan begitu, membeli novel AAC berarti ikut ber-amar ma’ruf nahi munkar bersama Kang Abik. Maka, dari sisi kemaslahatannya tersebut, tepatlah kalau Insani Undip menobatkannya sebagai novelis nomor satu di Indonesia saat ini.
(Ahmadun Yosi Herfanda)
Sumber: republika.co.id
Januari 9, 2008
Keajaiban Ayat-Ayat Cinta
Posted by yasir maqosid under Cerita Sukses | Tag: Ayat-Ayat Cinta, El-Syirazi, Habiburrahman |[10] Comments
Januari 13, 2008 at 6:54 pm
ass.wr.wb
Salut untuk kang abik. subhanallah, sebuah karya yang luar biasa bagus, saya penggagum berat kang abik, tp kapan ni filmnya tayang?? bener2 udah ga sabar. Sukses selalu untuk kang abik.
Januari 15, 2008 at 10:06 am
Ass. Lams kenal buat kang Abik.
Aku mulai menggemari Novel-novel karya kang Abik.. sejak terbitnya novel AAC 2007 yang lalu.
saking penasaran tentang kebenaran cerita tsb… akhirnya aku baca juga fenomena AAC. ternyata isinya subhanallah sangat menakjubkan. dan dapat menyejukkan dahaga bagi aku yang tengah dalam kehausan. akhirnya sampai sekarang aku selalu terangsang untuk membaca novel-novel Kang Abik.
juga termotivasi untuk turut menjadi penulis seperti Kang Abik kiranya. apalagi dalam fenomena AAC disediakan kiat-kiat menjadi penulis. hal tersebut yang memotifasi saya untuk dapat menjadi penulis…
bagaimana kiranya untuk dapat berlangganan dengan karya-karya kang Abik… atau dengan “Basmala” dan “Republikanya”…
jazakumullah khoiron katsiron Insya Allah.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Maret 1, 2008 at 2:11 pm
Assalamualaikum
keajaiban apa pak? buku yg justru menghancurkan nilai nilai islam malah antum bilang keajaiban.. astaghfirullaah..
apakah karena buku ini ada satu kampung orang kafir masuk islam? dapat hidayah…?
ini tipuan setan pak… membeli petunjuk dengan kesesatan hati hati…
Maret 3, 2008 at 11:13 am
Waalaikum salam.
Setelah saya lihat blog antum ternyata cenderung ke Salafi. Memang bagi orang-orang Salafi, setiap perbedaan pendapat–meskipun sangat kecil–bisa dicap sebagai sesat, dsb.
Marilah memandang Islam ini secara luas dan menghargai pendapat orang lain, sebab pendapat kita belum tentu paling benar (meskipun diembel-embeli mengikuti Al-Qur`an dan Sunnah).
Betapa banyak orang yang menggunakan ayat-ayat Al-Qur`an untuk mendiskreditkan kelompok lain yang juga berpegangan pada Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Jadikan perbedaan persepsi sebagai rahmat, bukan sebagai fitnah!
Maret 17, 2008 at 12:21 pm
doain juga kang Abik, aku juga pengen seperti jenengan, kalau bukan kita siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan Islam lewat karya-karya Islam yang begitu indahnya……. Allahu Akbar…!
Maret 20, 2008 at 11:24 am
subhanallah, segala puji hanya untuk allah, jazzakallah to ustadz habib yang tidak hanya mendulang royalti tapi menabung saham di akhirat.insyaallah. sukses selalu buat kang abik, kalau boleh saya ingin sekali bukukan biografi kang abik, saya udah siapin judulnya. lam kenal akhukum fillah. abu syamil di banten
April 10, 2008 at 9:32 am
its amazing…!saya tak mampu berkata-kata lagi selain 2 kata pertama.
November 19, 2008 at 8:10 pm
top deeeeeeh…..
November 19, 2008 at 8:13 pm
aku ini pembaca baru novel ayat ayat cinta,aku suks banget,bagus banget
November 19, 2008 at 8:13 pm
aku ini pembaca baru novel ayat ayat cinta,aku suka banget,bagus banget