November 2007


Bisakah kaya dari menjadi penulis? Inilah pertanyaan yang dibedah dalam seminar nasional “Writerpreneurship: Menjadi Penulis Best Seller” yang digelar oleh Sekolah Penulis Yogya (SPY) di Gedung Tiga Serangkai, Condong Catur Yogyakarta, Sabtu lalu (24/10).Para pembicara M Fauzil Adhim (penulis buku best seller Kupinang Engkau dengan Hamdalah), Jonru (pemilik situs penulislepas.com), dan Siswanto (Penerbit Tiga Serangkai Solo) mampu membuat peserta menjadi terbuka wawasannya akan begitu pentingnya menulis dan dari sisi ekonomi ternyata juga cukup menjanjikan.

Menurut Fauzil Adhim, menulis dapat menjadi profesi yang memberikan standar kesejahteraan lebih. Dengan catatan, harus total dan profesional. Dalam artian, jika seseorang bisa menulis sesuatu yang penting dan bermanfaat serta dikemas dengan bahasa cair, renyah, mudah diterima masyarakat luas maka peluang untuk mendapatkan royalti besar bukanlah hal yang tak mungkin.

“Sudah banyak contoh penulis yang kaya dan sejahtera karena tulisan-tulisannya. Habiburrahman Elshirazy misalnya, dari novel Ayat-Ayat Cinta, mendapatkan royalti lebih dari Rp 1,2 miliar. Emha Ainun Nadjib, buku-bukunya laris manis bak kacang goreng sehingga royaltinya pun cukup lumayan dan banyak penulis lainnya seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rossa, Joni Ariadinata,” paparnya.

Dia sendiri yang menulis novel Kupinang Engkau dengan Hamdalah, sudah cetak ulang ke-26 dengan sekali cetak minimal 10.000 eksemplar. Bayangkan, harga buku Rp 20.000 sedangkan royaltinya 10%, tinggal menghitung saja totalnya. Dengan menulis dia dapat mencukupi kebutuhan hidup dan menabung.

Persyaratan

Di depan peserta seminar Fauzil mengatakan, untuk menjadi penulis buku yang berhasil dibutuhkan sejumlah prasyarat antara lain fokus atau setia pada satu bidang kajian karena itu menyangkut personal branding atau kepakaran dalam satu masalah. Selanjutnya, menulis sesuatu yang penting dalam buku sehingga dibutuhkan dan dijadikan rujukan banyak orang.

“Jangan sampai hanya menjadi buku sampah yang tidak memberikan makna apa pun kepada pembaca. Buku yang isinya penting dan kajiannya fokus harus dikemas dalam bahasa yang renyah serta kemasan menjual. Kalau semua persyaratan itu terpenuhi maka tak sulit untuk menjadikan buku kita marketable,” tandasnya.

Siswanto dari Penerbit Tiga Serangkai menambahkan, ada dua sistem yang selama ini dipakai untuk memberi penghargaan kepada para penulisnya.

Pertama, dengan sistem royalti, honorarium dibayarkan sesuai jumlah buku yang terjual per tiga atau enam bulan. Berikutnya sistem beli putus.

Sejauh ini pihaknya masih terus mencari naskah-naskah dari penulis luar yang bersifat buku teks, panduan, agama, dan aneka tema lainnya.

Yang mengirim naskah banyak, namun yang isinya benar-benar berkualitas masih sedikit. Karena itu, peluang menjadi penulis masih sangat terbuka.

Sumber: http://suaramerdeka.com/harian/0711/26/ked05.htm

smarthealingfinal.jpg

Penulis : dr. Mohammad Ali Toha Assegaf
Editor : Yasir Maqosid, Lc  
Tema : Tips / Pengembangan Diri  
ISBN : 978-979-592-420-3  
Halaman : xvi+ 200 halaman  
Cetakan : 1  
   
       
       
 

Setiap orang tentunya ingin sehat, karena itulah banyak sekali kita jumpai program hidup sehat yang ditawarkan. Dari mulai senam kebugaran, pola makan vegetarian, sampai meditasi di tempat sepi. Tetapi apakah cara-cara itu bisa menyehatkan fisik dan mental sekaligus?

Buku ini akan memandu Anda menuju hidup sehat sebagaimana yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sehat melalui ibadah, sehat melalui pola makan Rasulullah, hingga sehat melalui do’a akan Anda dapatkan dalam buku ini. Selain itu, manfaat shalat, puasa, haji, dan ibadah lainnya akan dikupas melalui pendekatan medis sehingga kita menyadari pentingnya ibadah yang kita lakukan.

Silakan Anda mencoba mengikuti satu per satu anjuran dalam buku ini, dan Anda akan merasakan manfaatnya yang luar biasa. Bukan hanya kesehatan fisik yang akan Anda dapatkan, tetapi lebih dari itu, limpahan pahala -karena mengikuti sunnah Nabi- serta sehat jasmani dan rohani akan Anda rasakan. Selamat Membaca!

Belakangan ini makin kuat kecenderungan untuk menyiasati penerbitan buku sastra sebagai sebuah industri. Persaingan pasar yang makin ketat, kepentingan penerbit untuk mengembalikan modal dan meraih keuntungan, serta kesadaran untuk memberikan royalti yang layak guna meningkatkan kesejahteraan penulis buku sastra, ikut mendorong ke arah itu.

Sederhananya, penulis buku sastra, dan penulis buku apapun, tidak akan mendapatkan royalti dan apresiasi yang memadai jika bukunya tidak laku. Dan, agar suatu buku bisa laku, baik penerbit maupun penulis, harus dapat membaca keinginan pasar. Dan, bagi dunia industri, pasar adalah segalanya.

Karena karya sastra adalah produk budaya, maka usaha penerbitan buku sastra yang bersifat profitable (komersial) dapat dianggap sebagai bagian dari industri budaya. Ia memiliki posisi yang sama dengan industri film atau musik, yang tidak hanya membawa peran kultural tapi juga peran bisnis karena ia diproduk untuk dijual guna mendapatkan keuntungan.

Ketika seseorang menempatkan produksi sastra dalam perspektif bisnis, sesungguhnya ketika itu pula karya sastra telah mengalami pergeseran fungsi tidak lagi hanya sebagai produk kultural tapi juga industri budaya. Karena itu, sebagaimana lazimnya sebuah sistem industri, karya sastra akan dianggap sebagai ‘komoditas’ yang menjadi salah satu alat perputaran modal. Karya sastra masuk dalam proses industrialisasi yang hampir sepenuhnya bergerak untuk kepentingan pasar.

Dalam perspektif inilah karya sastra dalam posisinya sebagai ‘komoditas’ itu sering harus tunduk pada kepentingan pasar. Di sini pula selera konsumen — seperti yang dipahami oleh industriawan –sering sangat menentukan corak komoditas tersebut. Meskipun, ’selera konsumen’ itu sering bersifat semu. Artinya, seringkali hanya berdasarkan praduga pebisnis. Mirip dengan rating acara televisi, maka tarikan pasar buku-buku sastra tertentu menjadi indikasi utama untuk menengarai selera konsumen.

Ke arah itulah kemudian buku-buku lebih banyak diterbitkan. Ketika tarikan pasar terhadap novel pop begitu kuat, misalnya, penerbitan buku novel pop mengalami kapitalisasi yang begitu besar. Dari sinilah kemudian lahir dan tumbuh penulis-penulis novel pop yang begitu ternama, seperti Mira W, Titiek WS, Marga T dan La Rose. Pada masanya, produksi roman-roman picisan Ali Shahab dan Motinggo Boesye juga mengalami kapitalisasi yang cukup besar.

Begitu juga fiksi-fiksi seksual karya para penulis perempuan, seperti Ayu Utami, dan Djenar Maesa Ayu. Di mata kapitalis, karya-karya para penulis perempuan itu memiliki tarikan pasar yang kuat, dan karena itu dirangkul untuk dikapitalisasi. Baik novel pop, fiksi seksual maupun roman picisan adalah contoh-contoh terpenting ‘buku-buku sastra’ yang mengalami kapitalisasi untuk masuk ke dalam sistem industri penerbitan.

Sesungguhnya, hampir seperti itu pula nasib ‘fiksi Islami’. Pada awalnya, fiksi Islami lahir sebagai upaya untuk membangun ruang alternatif bagi para penulis Muslim yang meyakini bahwa menulis adalah bagian dari upaya penyebaran nilai-nilai Islam, dan karena itu percaya bahwa penyebaran karya sastra adalah bagian dari upaya pencerahan nurani masyarakat.

Namun, ternyata buku-buku fiksi Islami — yang penerbitannya semula hanya ditangani oleh Annida, Forum Lingkar Pena (FLP) dan beberapa penerbit kecil seperti Asy-Syamil dan FBA Pers — memiliki tarikan pasar yang sangat kuat. Maka, penerbit-penerbit besar seperti Gramedia dan Mizan, pun lantas ramai-ramai ikut mnerbitkan buku-buku fiksi Islami. Buku-buku fiksi Islami yang semula diorientasikan ‘bacaan dakwah’ lantas masuk dalam sistem industri yang berorientasi keuntungan finansial.

Tentu, kapitalisasi sistem produksi (penerbitan) buku sastra tidak selamanya merugikan pertumbuhan sastra Indonesia. Kapitalisasi memberikan darah segar bagi sistem penerbitan buku sastra, dan karena itu ia juga merangsang produktivitas penciptaan karya sastra. Dengan sistem pengelolaan (manajemen) yang bervisi bisnis dan didukung modal besar, tiap judul karya sastra juga tidak hanya dapat diterbitkan dalam jumlah lebih besar tapi juga dapat dikemas secara lebih bagus dan didistribusikan secara lebih menyebar.

Dengan demikian, karya sastra juga mengalami pemasyarakatan secara lebih baik. Sementara, bagi para penulis, penerbit yang profesional dan bervisi bisnis dapat memberikan royalti yang lebih profesional sehingga dapat mendorongnya untuk lebih produktif. Selain itu, beberapa penerbit besar juga bersedia melakukan ’subsidi silang’ untuk menerbitkan karya-karya ’sastra idealis’ yang un-marketable, termasuk kumpulan puisi.

Meskipun begitu, orientasi bisnis yang begitu kuat menyebabkan karya-karya sastra yang marketable seperti novel pop, teenlit, chicklit, fiksi (remaja) Islami, dan fiksi seksual mendapat porsi perhatian yang lebih besar karena memang memiliki tarikan pasar yang lebih kuat. Sehingga, jumlah buku ’sastra idealis’ yang diterbitkan sangat terbatas dan harus melewati seleksi yang sangat ketat.

Karena itu, tetap perlu penerbitan-penerbitan alternaif bagi karya-karya ’sastra idealis’ yang tidak mendapat tempat di jaringan penerbit-penerbit komersial tersebut. Di sinilah, semestinya, pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar, dengan proyek-proyek penerbitan buku bersubsidi atau pengadaan buku-buku untuk perpustakaan sekolah yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah.

(Ahmadun Yosi Herfanda )

Sumber: http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=313393&kat_id=319

“Aku Ingin Menulis Buku Ilmiah”


Semua berawal dari Laskar Pelangi , novel berdasar memoar masa kecil yang ditulis lelaki berambut ikal penyandang nama panjang Andrea Hirata Seman Said Harun. Sejak itu, lelaki ini jadi ketagihan menulis (fiksi). Ia melewatkan malam-malam insomnianya dengan menulis. Saat menulis itu, ia seperti orang “kesurupan”.

Kata demi kata mengalir deras dari ujung-ujung jarinya, menjelma kalimat-kalimat dan bermuara pada sebuah kisah panjang dengan tokoh utama Ikal. Tiga judul buku–dari empat yang direncanakan–telah lahir dari tangannya. Dua di antaranya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi , sudah dilepas ke pasar dan menuai sukses lumayan. Berbagai pujian dan kritikan dari sidang pembaca diterimanya dengan senang hati. “Sebetulnya, Laskar Pelangi adalah buku keduaku. Buku pertama yang kutulis adalah buku ilmiah berjudul The Science of Business . Buku itu kutulis tahun 2003”, jelas Andrea mengenai perjalanan riwayat kepenulisannya.

“Buku itu semacam pembayar kewajiban moralku kepada Uni Eropa, lembaga yang memberiku beasiswa kuliah di Sorbonne (Prancis) dan Sheffield (Inggris),” tambahnya lagi.

Ya, Andrea memang sangat menggemari sains. Lantaran itu, ia sangat berharap satu hari nanti bisa kembali menulis sebuah buku sains, bukan cuma sastra.

“Segala hal yang berhubungan dengan sains dan buku selalu menarik perhatianku,” katanya.

“Apa jadinya jika Newton tidak menulis Principia ? Atau Adam Smith tidak pernah menelurkan The Nature and Causes of The Wealth of Nations ?,” sambungnya lagi.

Tetapi, kemudian bukanlah salahnya jika ia malah dikenal lebih dulu sebagai penulis fiksi lewat debutnya Laskar Pelangi . Mulanya, Andrea tidak pernah meniatkan naskahnya untuk dikomersilkan lewat industri buku. Ia menulis memoar itu untuk dipersembahkan sebagai kado ulang tahun bagi gurunya tercinta, Ibu Muslimah. (Dalam Laskar Pelangi , ibu guru ini adalah seorang tokoh yang sangat inspiratif, seorang guru miskin di sebuah sekolah dasar miskin di Belitong yang mendidik murid-muridnya dengan penuh kecintaan. Kabarnya, Ibu Muslimah tengah diusulkan untuk mendapatkan Ma’arif Award). Entah bagaimana ceritanya, naskah itu lalu “dicuri” oleh seorang sahabatnya dan diserahkan kepada penerbit. Penerbit yang beruntung ini, Bentang, langsung jatuh cinta dan lantas menerbitkannya.

Menyusul buku pertamanya, Andrea lantas menulis sekuelnya, Sang Pemimpi. Masih berkisah seputar sekolahan, buku keduanya ini pun terbilang sukses. Lagi-lagi ia mendapatkan setumpuk pujian sekaligus kritikan yang disikapinya dengan bijaksana.

“Aku tidak besar kepala karena pujian, dan ingin belajar dari pujian,” ujarnya. “Dan aku sangat terbuka terhadap berbagai kritik. Sayangnya, dari banyak kritik yang kuterima, belum ada yang benar-benar menyentuh sebstansi. Kecuali dari Prof. Sapardi Djoko Damono dalam sebuah diskusi di Bandung.”

Menurut lajang kelahiran 24 Oktober (tahun kelahirannya dirahasiakan) ini, kritik-kritik tersebut lebih banyak berbicara di permukaan. Meski demikian, ia sangat berterima kasih untuk segala masukan itu dan selalu menyambut gembira pihak yang mengundangnya untuk diskusi. Terakhir, ia diundang oleh Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang, dan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Depok (Bogor). Total selama karier kepenulisannya, ia telah menerima undangan diskusi sebanyak 43 kali.

Apa mau dikata, Andrea Hirata akhirnya dengan sadar menjerumuskan diri ke dalam penulisan buku fiksi. Sejatinya, Laskar Pelangi merupakan buku pertama dari sebuah karya tetralogi. Setelah Sang Pemimpi , berikutnya berturut-turut akan terbit dua judul lagi, yakni: Edensor dan Maryamah Karpov yang dinanti-nanti para pembaca setianya.

Ekor kesuksesan Laskar Pelangi ditandai pula oleh diterbitkannya buku tersebut dalam edisi bahasa Melayu di Malaysia. Konon menjadi best seller di negeri jiran itu. Berkah lainnya adalah sudah ada pula tawaran untuk mengangkat kisah Ikal dkk ini ke layar lebar. Gosipnya, sutradara bertangan dingin, Riri Reza, yang akan menggarapnya. Kita tunggu saja, ya.

Kiranya Laskar Pelangi menjadi pintu pembuka bagi pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini untuk masuk lebih jauh lagi ke “jalan sunyi” sastra. Laskar Pelangi pula yang telah membuatnya menjadi semacam selebritis di jagad sastra, meskipun ditampik mati-matian oleh yang bersangkutan.

“Tidak ada pengaruh apapun (ketenaran itu- red ), kecuali makin sibuk dan kesulitan mengatur jadual kerja kantor dengan kegiata buku”, tandasnya buru-buru.

Namun Andrea harus mengakui, bahwa lantaran Laskar Pelangi cita-citanya membuka perpustakaan di kampung halamannya terwujud sudah. Perpustakaan itu menjadi tempat orang belajar ilmu (pengetahuan) dan agama Islam. Perpustakaan ini membuka diri bagi para relawan yang ingin bergabung.

Terlahir sebagai anak keempat dari pasangan N.A. Masturah (ibu) dan Seman Said Harun (ayah), Andrea Hirata menghabiskan masa kecilnya di Belitong. Setamat SMA, ia merantau ke Jawa, melanjutkan studi di FE-UI. Seusai meraih gelar sarjana ekonomi seperti telah ditulis di atas, ia berhasil mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk mengambil gelar master di Universite de Paris Sorbonne, Perancis serta Sheffield Hallam University, di Inggris. Ketika ditanya soal rencana menikah, sambil tertawa ia menyahut santai, “Menikah? Ha… ha… ha… sampai saat ini terpikirkan pun belum.”

Begitulah. Rupanya pernikahan masih jadi sesuatu yang belum jelas baginya. Namun, yang jelas, para penggemarnya, akan segera dapat menikmati Edensor , buku ketiga dari rangkaian tetralogi Laskar Pelangi . Masihkah bercerita tentang sekolahan?

“Ya. Edensor memilik garis merah yang tebal soal pendidikan. Tapi ada juga petualangannya. Tokoh-tokohnya masih tokoh sama dengan buku sebelumnya. Hanya saja sekarang mereka makin dewasa . Edensor adalah buku yang berusaha bercerita dengan jujur ihwal orang Indonesia ketika terdampar di negeri Barat,” Andrea memberi sedikit ‘bocoran’ karya terbarunya. Kedengarannya menarik ya? Kita sama-sama lihat saja nanti.


Biodata singkat            : Nama : Andrea Hirata Seman Said Harun

Tanggal lahir                 : 24 Oktober

Pendidikan                   : S1 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia S2 Universite de Paris Sorbonne (Perancis) dan Sheffield Hallam University (Inggris).

Pekerjaan                     : Staf PT Telkom, Bandung.

Sumber :http://perca.blogspot.com/2007/06/profil-andrea-hirata.html

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 57 pengikut lainnya.